Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Bajing Lovers Club

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Bukannya aku ingin unjuk gigi bahwa aku bisa ber-sim salabim dengan orang-orang yang masih hidup, bersaing dengan para(tidak)normal. Yang sudah berada di alamku ya sudah, tak mungkin kembali. Aku pun tak bercerita tentang situasi perpolitikan di negeri ini, karena Kitab-kitab Suci dan Para Rasul telah menjelaskannya. Yang bisa ku ceritakan menit-menit terakhir sebelum mati, ketika nafas masih mensuplai kehidupan raga di dunia fana.

Hari itu tanggal 6 Nopember. Aku berangkat kerja sebagaimana biasa, dengan Kijang jantan bekas yang kubeli dengan harga yang bekas pula. Jalanan agak lengang, karena hari masih terlalu pagi. mobil, pejalan kaki, dan orang-orang mungkin masih terlelap di kesejukan pagi atau masih berberes sajadah selepas sholat shubuh, para peronda yang lagi pulang atau maling-maling yang menggerutu karena siang datang.

Dalam suasana sepi tersebut, tiba-tiba saja , seekor bajing memotong (kali ini tidak dengan giginya) jalan . Walaupun kencang dalam ukuran bajing, namun lambat dibanding putaran speedometer kijangku. Begitu melihat kijang yang kokoh, besar dan persegi, menderu ke arahnya, si bajing kaget alang kepalang. Mendongak, terdiam, melongo, mulut komat-kamit. Karuan saja kini aku yang salah tingkah. Ku oper setir, ah sayang terlalu jauh dan “Braaaaak…!!!” Kesunyian pagi pecah oleh gedubrak bumper kijang menyeruduk tiang listrik di kanan jalan. Mobil rontok, bagaikan suara tanduk beradu di padang Serengeti di musim kawin. Aku koma, katanya, karena aku tak apa-apa.

Ketika mataku membuka, aku telah meninggalkan tanda koma Terbaring di ranjang bersprei putih, dalam ruangan besar bersal, no smoking area. Aku tak sendiri. Perawatnya banyak sekali. Mereka sibuk kesana-kemari membawa berbagai catatan, mempersiapkan alat-alat bedah, pisau dan suntikan. Yang unik, perawatnya separuhnya cantik-cantik dan yang pemuda berwajah tampan ala Bon Jovi, menyenangkan ala Basuki. Yang separuh lagi…oh betapa menakutkannya wajah mereka. Seram, berkumis tipis, gigi ‘njegigis’, bermata bengis, bibirnya terkatup rapat-rapat tak ada senyum semurah permen karet pun. Merekalah yang sibuk mempersiapkan alat-alat kedokteran yang aku bilang tadi, ada gada, ketam kayu, ketam beneran dan sentruman listrik.

Ditengah kebingunanku, seseorang berteriak, “Pak dokter, pak dokter..!” Suaranya mengalun tak merdu, berulang-ulang. Namun karena lantunannya tak seperti irama dangdutnya Doyok dalam lagu ‘Dokter Cinta’, yang terjadi bukan senggol-senggolan, tapi sikut-sikutan, terjang-terjangan. Bagaikan pasukan semut melihat sepatu besar prajurit Nabi Sulaiman, semuanya hiruk-pikuk dan berebut keluar dari ruangan. Alat-alat dan buku catatan ditinggalkan begitu saja. Aku hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan kejadian ini. Ada apa ini?

Lalu sebentuk bayangan muncul dan menyeruaklah seorang tua, berwajah teduh dan rindang, rona muka menyegarkan. Harum aroma kesturi bercampur vannila segera menyergap ruangan, terpantul dari pakaiannya yang putih bersih. Inikah yang mereka takuti itu?

Beliau mendekati ranjang tempatku berbaring, duduk di kursi bulat di samping dan memandangku :

“Nak,” katanya lembut membuka percakapan. Aku terdiam memandangnya dan berharap beliaulah dokter spesialis benturan yang akan mengobatiku dari tubrukan maut 6 November itu.

“Namaku Fencabutt Sukma, utusan kepala rumah sakit ini,” lalu pak dokter menjelaskan bahwa beliaulah yang selalu dipercaya oleh kepala rumah sakit untuk menjenguk para pasien yang diduga keras tinggal seumur biji jagung.

Aku tersedak. Kulihat kakiku, utuh, tanganku, utuh, jariku bukan jempol semua. Kucoba kugerakkan, bisa!! Berarti aku tak lumpuh. Lalu kenapa dia datang ke aku? Apakah lukaku parah?

“Kamu harus tabah nak,” katanya,” ada pendarahan berat di dalam kepalamu, yang membuat saluran darah yang mendarahi otakmu akan tersumbat dalam 20 menit mendatang. Kami belum bisa mengobati hal yang semacam itu. Ramalan kami, kamu akan segera enyah dari muka bumi ini.”

Enyah? Mati? Duh mati aku! Aku belum siap, aku belum berpengalaman. Aku selalu jaga jasmaniku agar tetap hidup. Aku selalu membuka mata hatiku agar mampu menghidupi. Kini berakhir sudah. Serasa bobol bedungan Jatiluhur di kepalaku mendengar berita ini. Aku langsung terduduk, terdiam. Tak tak sadar sifat cengengku kambuh. Aku menangis kecil dan air mata pun mancur, bagaikan mata air Umbulan yang jadi rebutan para konglomerat. Aku lihat jam dinding di dinding menunjukan pukul 11.41.

“Pak kepala memberimu kesempatan mengajukan dua permintaan sebelum kamu meninggal. Kamu jangan kuatir, jika masih dalam kuasa kami, akan kami berikan apa yang kamu minta.”

Pak dokter itu nyerocos, tak peduli pikiranku lenyap dari raga, menyusuri bilik-bilik penyimpan dosa-dosaku masa lalu. Entah mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa penyesalan sedalam laut Banda, setinggi Jayawijaya. Mengingat dosa-dosaku, mengingat Yuliani istriku dan Yuliano anakku. Kami menikah tiga tahun yang lalu. Aku harus berpisah dengan mereka? Siapa nanti yang memberi makan mereka, apakah Yuli akan menikah lagi? Sedih sekali aku.

Aku bingung, memilih dua permintaan terakhir. Apa yang akan aku minta? Apakah minta agar Yuli-ani dan -ano terjamin masa depannya? Apakah mohon agar orang-orang tetap bersandal jepit, hingga pabrikku tak bangkrut? Apa dibuatkan buku memoar yang mengabadikan jasa-jasaku dan patung diriku didepan pabrik? Bagaimana kalau utang-utangku ke KPR BTN dilunasi. Atau diijinkan minta maaf ke Pak Udin tetangga sebelah yang anjingya aku lempar kayu kemarin malam lantaran mencuri telur? Sebenarnya aku juga ingin bertemu Erik Kalipton yang kemarin aku janjikan untuk aku ajari memetik gitar. Ah… banyak betul yang masih belum, beres. Nazarku untuk puasa Senin Kamis bila aku nembus arisan, belum terlunasi. Hafalan surat Al-Waqi’ah belum lancar. ah…lalu…lalu…. Oh ya, utangku 1200 untuk beli rokok Jambu Bol ke si Pradana, belum aku bayar. Aku pikir uang sebegitu, kecil artinya dan mudah bayar kapan saja.

Duh bajing sialan kamu. Setan apa yang mengirimmu ke tengah jalan aspal yang lengang dan menantang kijang jantan perkasaku.? Duh tiang listrik sialan… kenapa kamu nggak tegak di kampung halamanku sana untuk membayar janji Golkar. Malang nian kampungku, kamu akan terus gelap gulita, lantaran kemungkinan Golkar menang Pemilu kecil.

Duh seandainya aku bisa…. Tiba-tiba aku teringat perkataan Pak Dokter. Dua permintaan. Kenapa cuman dua, tidakkah cukup amalku selama ini hingga hanya diberi dua pilihan?

“Kenapa dua?” tanyaku “….bagaimana dengan bajing itu?”

“Nak, dua sudah lebih dari cukup. Kami sangat menghargaimu, lantaran kamu tak melindas mahkluk kecil itu, bajing. Sepele
nampaknya. Tapi sekarang ini, di mana nasib golongan kecil tak dipandang sebelah mata, usahamu sungguh suatu terobosan mulia. Kamu rela kehilangan kijangmu bahkan sebentar lagi nyawamu, untuk makhluk kecil tak berdaya”

“Sebenarnya kami ingin memberi lebih dari dua. Ketahuilah bajing itu tak mati, namun sayang buntutnya putus kelindas ban kirimu. Pak kepala faham betul bagaimana penderitaan para bajing, apalagi yang tanpa buntut, karena beliau adalah Ketua Kehormatan BLC (Bajing Lovers Club)”.

Kenapa sih nggak ditambah satu lagi, aku kan dulu ngumpetin kodok pas praktikum anatomi hewan di SMA. Lalu apa upahku nggebuk ular yang mau makan meri (anak bebek)? Banyak lagi. Mungkin pak kepala rasialis, ngakunya saja faham dengan nasib para bajing. Ah sudahlah, persetan dengan BLC

Aku terdiam, memikirkan apakah dua permintaan itu? keduanya haruslah permintaan terbaik. Rumus-rumus Operasi Riset dengan teori maksimisasinya sudah terlupakan. Analisa SWOT di latihan ketrampilan manajemen mahasiswa tak nyantol lagi. Relung-relung memori di otakku sudah terisi darah-darah kotor. Tapi alhamdulillah, akhirnya dapat juga.

“Baiklah. Pertama, aku ingin dosaku diampuni, kedua aku ingin anakku menjadi seorang pemimpin besar yang jurdil, anti KKN,” kakaku mantap.

Pak dokter tersenyum, “Ada satu rahasia yang ingin aku sampaikan. Menurut kebijakan Pak kepala, permintaanmu tak bisa lagi kamu cabut. Dan setelah permintaan ini kamu tak boleh mereformasi-nya lagi. Nah, apakah kamu sudah mantab?”

“Yap,” aku jawab dengan anggukan mantab.

“Baiklah. Perihal permintaan pertama dengan berat hati tidak bisa diterima. Ketahulihah permintaan seperti ini hanya bisa dipenuhi jika kamu belum tahu kapan kamu meninggal. Tapi ajalmu sudah di kerongkongan, pak kepala tak bisa mengabulkannya”.

“Permintaan kedua, bisa kami usahakan. Tapi kami hanya menjamin sebagai pemimpin besar. Akan kami ajari Ano bagaimana membusungkan dada, memutar retorika, main petak umpet, melobi atasan, menipu bawahan, berburu harta karun dan memelihara sapi perah serta main golf. Untuk Jurdil-nya itu tergantung siapa yang akan membiayai sekolah anakmu, siapa yang peduli dengannya, siapa yang mendidiknya dengan nilai-nilai moral. Kalau beruntung, maka anakmu akan beruntung sebagai pemimpin. Kalau tidak, maka jangan khawatir, dengan moral pasar pun anakmu bisa jadi pemimpin besar. Kamu sudah lihat sendiri contohnya”

Aku terbengong-bengong mendengar penjelasan pak Dokter. Apakah maksudnya? Belum lagi rumput sempat bergoyang untuk menjawabnya, tiba-tiba ruangan kembali ramai, para suster dan perawat itu muncul lagi. Kali ini mereka membawa alat-alat yang lebih aneh lagi, gunting kuku, silet, bawang merah, gong besar, korek api, korek kuping, molotov, peluru karet dan gas air mata. Ada pula kalanjengking, kaladuduk dan kolomonggo (bhs.Jawa untuk laba-laba). Kini semuanya berwajah seram, para perawat secantik Cleongpatrah dan setampan Bugs Funny tak ada lagi.

Ketika aku tengok kesamping, pak dokter telah lenyap. Entah kemana lenyapnya; yang tertinggal hanya asap putih bagaikan organisasi tanpa bentuk. Dan tiba-tiba para suster itu mengelilingiku, seorang yang berparas kasar membawa gada diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalaku….dan….dan….

Sempat terlintas di ujung mataku, jarum-jarum jam di dinding telah bertumpuk di angka 12…!!!

Troy, November 6, 98

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: