Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Bang-Bing-Bung

Posted by pungkasali on April 14, 2008

“Bang-Bing Bung Yuk, Kita Nabung…!”

Ingat Titiek Puspa? Lagu Titiek Puspa di atas mengajari kepada kita bagaimana untuk rajin menabung, walaupun sedikit-sedkit karena lama-lama akan menjadi bukit. ‘Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya’ kata sebuah ungkapan. Sebuah ajaran yang mulia dan tidak ada salahnya di manapun dan kapanpun kita berada bukan?

Eeeeppp… betul! Tapi ijinkan saya menyampaikan versi Lou tentang lagu ini.

Lou adalah seorang pemuda Amerika. Dia ini tidak layaknya sebagian besar anak muda Amerika, yang berlalulalang dengan mobil Pontiac tua yang meraung-raung dan pakai topi baseball Yankee terbalik. Dia tidak pula masuk ke salah satu golongan muda kaya mendadak gara-gara bisnis dot com nya diklik 800.000 pengunjung sehari. Bukan pula mahasiwa ber ‘punk-rock’ yang suka minum-minum di malem minggu.

Saya tahu Lou suatu hari beberapa bulan yang lalu di seberang jendela apartemen sewaan baru saya. Suatu pagi saya sedang menikmati matahari musim panas di depan jendela dan komputer. Ketika itu seorang pemuda – yang kemudian saya kenal sebagai Lou – dengan sebuah kantong plastik kresek dan tiga buah kaleng soda di dalamnya, mendatangi ‘dumpster’ (tempat sampah) di seberang sana. Lalu ia membuka-buka lima kotak sampah khusus untuk kaleng dan gelas yang berjejer di sana. Dari dalamnya diangkat beberapa kaleng soda bekas dan dimasukkannya ke dalam kantong plastiknya. Tahulah saya, kalau dia pemulung.

“How is it?” tanya saya suatu ketika.

“If you’re generous enough,” katanya, ” throwing that small thing,” sambil membenahi kaleng dalam kantong plastiknya, “that’s my luck of the day.”

‘ Small thing’ kata Lou! Saya tahu di sini kaleng soda di hargai 5 sen per bijinya. Berarti 20 kaleng satu dollar. Cukup lumayan untuk menambah bekal Lou membeli Bagel atau Hot Dog. Kalau hanya small thing, lalu mengapa Lou begitu rajin tiap pagi berkeliling dari satu dumpster ke dumpster lain?

Sejak itu, tiap pagi selalu saya lihat Lou datang ke ‘dumpster’. Kadang tak didapati sama sekali itu kaleng soda. Mungkin karena hari itu para penghuni apartemen mengumpulkan kaleng mereka dan menukarkannya sendiri ke supermarket dan tak mau membaginya dengan si Lou. Namun-kadang-kadang ia dapat berpuluh-puluh kaleng yang telah tertata rapi. Mungkin penghuni apartemen yang lain tahu kalau si Lou pasti datang dan mencari-cari kaleng itu. Baginya, cukup sudah menikmati isinya dan memberikan wadah kosongnya kepada Lou. Mungkin dia masih punya waktu untuk si Lou dengan menata rapi kaleng yang akan dibuangnya.

Bang-bing-bung yuk, kita nabung..! Coba kumpulkan kaleng-kaleng itu, uangnya kita tabung. Bukankah itu ajaran Titiek Puspa? Ini akan melatih kita menjadi irit dan selalu memanfaatkan barang yang terbuang. Tapi bagaimana si Lou? Kalau kita ambil, mungkin Lou akan membuka kotak-kotak sampah namun tidak mendapatkan apa-apa selain sisa makanan dan sampah-sampah dapur. Yah mungkin hanya kehangatan uap sampah yang terasa di tanganya ketika pagi-pagi di musim salju dia masih dengan setia menggapai-gapai ke dalam dumpster.

Bang-bing-bung!

Hey bung… pikir saya, kita masih bisa menabung. Kita mungkin akan kehilangan beberapa sen dari sekaleng soda. Tapi ah… masih kurangkah kita menikmati isinya yang dingin menyegarkan, sehingga kita ingin menikmati kembali kalengnya yang tentu akan terasa jauh lebih nikmat bagi Lou? ‘Small thing’, kata Lou, tentunya dimaksudkan kepada kita. Tapi bagi Lou, ini ‘big thing’. Itulah sebabnya dia tiap pagi mendatangi tampat sampah di depan jendela. Sama dengan kita yang setiap pagi datang ke kampus, ke kantor atau ke pasar. Itu karena kampus, kantor dan pasar sangat berarti buat kita. Demikian pula kaleng-kaleng itu sangat berarti buat Lou.

Bang-bing bung kali ini tak hanya dinyanyikan Titik Pupsa, tapi dari hati kecil kita. Berikan saja pada Lou, kamu akan menabung dengan kebaikan. Uang hilang dalam sekejap, amal dan kebaikan akan kekal selamanya. Bukankah ini juga menabung?

Bang-bing-bung Titiek, melatih kita menabung untuk dunia, Bang-Bing-Bung Lou melatih kita menabung ke akherat yang lebih kekal dan bunganya jauh berlipat-lipat. Melatih hati kita menyanyi agar kita terbiasa menabung untuk akherat. Kalau kita mengorbankan kambing, semuanya habis, yang tersisa hanya talinya. Padahal tidak! Semuanya kekal kecuali talinya. Begitu ajaran kanjeng Nabi.

Nah, biarlah kali ini Lou yang mengajari kita menyanyi, “Bang-Bing Bung Yuk, Kita Nabung…!” Dan ingat, tak perlu dihitung, karena suatu saat pasti kita dapat untung!

June 1, 2000
– – pungkas bahjuri ali – –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: