Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

BOSAN DENGAN ANGKA

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Aku ada di perpus lantai 2.

Aku menengok ke kanan, seorang mahasiswa tua dari Cina daratan tengah menghitung-hitung kesepuluh jarinya, di depan komputer. Sesekali ditunjuk-tunjukkanya ujung pensilnya ke kaca. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas bukan sedang kutak-katik biji cipoa ngitung barang-barang yang ludes di gasak penjarah, atau njotos gambar Panji Koming dan Ni Woro Ciblon Ning Segoro yang sedang “ngrasani” Den Mas Aryo Kendor SekoSolo.

Aku lirik ke kiri, seorang gadis… emmm (kelihatannya dari Bombay, soalnya wajahnya mirip bawang), berkali-kali mengeluh karena sudah 5 kali salah ngeprint. Lantas memencet-mencet kalkulator yang dipenuhi angka dan simbol-simbol. Mungkin dia lagi coba-coba ngitung perkiraan korban yang akan jatuh di pihak Pakistan.Nuklir harus segera diluncurkan, kalau tidak negerinya Tumbarmirijahe hancur, artinya ratusan juta Mithun, Devi, Raykapoor, Raygedek, Rajagopalan, Rajagompal dan Raja-Raja yang lain, tak mampu lagi menari walaupun di sebelahnya ada tiang atau pohon.

Aku toleh belakang…….ah mana sempat…Kursi yang ini kan tidak bisa putar 180 derajat. Hanya terdengar “tak-tik-tok” keyboard dipatok, “klik-klik-klik” suara mouse di engklik. Aku duga, ia juga sedang bermain dengan angka-angka. Nampaknya bule itu, atau setidak-tidaknya pakle….

Di depan berjajar ratusan buku-buku referensi yang berlabel kuning berisi angka, nomornya S.U 19651998 RI, lantas B.J.140598 HBB, dll. Tak pasti apa seperti itu penomorannya, tapi itulah deretan-deretan yang pernah kupelototi ketika cari buku tentang statistik kijang tertabrak mobil selama tahun 1996-1997 di NY Interstate. Sementara orang-orang berlalu lalang di sana, mulai dari 1, 2, 3, dst… tak terhitung dengan angka.

Aku sendiri lagi pusing tujuh keliling (biasanya obatnya “Bintang Tujuh”, kalau “Kaki Tiga” kurang manteb), dari tadi mencari dari mana angka 1000 x 4 +1000 x 2 + 200 x 4 bisa nongol di jawaban quiz Accounting? Jauh-jauh sekolah ke Amerika ternyata hanya disuruh mencari asal angka-angka itu. Sialan…apa ini angka sial hitungan Leonardo da Vinci (temennya Leonardo da Cornell) yang menyebabkan helikopter rancangannya ambrol pada saat terbang perdana? Ya sudahlah….kelihatannya itu angka Stipend dari Mucia selama 6 bulan ditambah reimbursement seminar “The Time Revival” seminggu yang lalu ke Florida, 1500 mil dari sini. Atau itu kali jumlah nilai Quantitative GRE dan TOEFL yang dulu jadi rebutan waktu test di LIA.

Duh, ciloko aku, dari mana-mana angka itu. Padahal aku lho, si jago matematik (kata mbahku, soalnya dia heran aku bisa ngitung jumlah kelapa dari seperempat hektar kebun, tanpa memetiknya dulu). Kok ya nggak dieliminir saja itu angka-angka, misalnya Stipend ya di ganti segepok dollar gitu daripada ngitungin sampai 1030. Apa ya nggak capek ngitungin angka-angka untuk dibagi ke anak-anak Bappenas.

Eeeee…..tunggu dulu. Jangan begitu, jang! Inget nggak, dua bulan lalu aku cengar-cengir ngitungin recehan (recehan US$ lho…) satu sen-an. Sampai dapat berapa itu ya….6745 biji, artinya 67.45 dollar. Lah kok senang sih…..orang cuma seharga zipper celana merk GAP kok.

Belum tahu dia….
Coba kalikan dengan 10,000 itu kan sama dengan biaya hidup si Imam selama 15 bulan, itu bekas anak SD kelas 1 yang berhenti karena Bapaknya mingat, dan ibunya nggak punya kerja. Iya lho….15 bulan. Nah ternyata menghitung uang penny yang nggak ada artinya di sini kok bisa di rubah jadi 15 bulan biaya hidup di Ciampea sana ya? Iya….bener! Kalau gitu zipper celana GAP ku tak jualin semua dan di kirim ah ke Indonesia….

Ternyata sodara-sodara, ada anak (kayaknya lebih dari satu deh) yang pusing karena tidak bisa ngitung uang untuk hidupnya: simply karena tidak bisa mengitung dan tidak ada yang dihitung. Lha kok aku ikutan mumet, padahal bisa menghitung dan punya uang…… Ah hidup memang aneh, apalagi kalau berurusan dengan angka. Sampe-sampe Pak Anwar Arsyad (orang Bappenas, lupa namanya…mudah-mudahan bener) bilang itu “Indonesia bisa swasembada beras kan juga gara-gara Deptan salah angka.” Nah lho…

Ya begitu dulu lah, intermezzo-nya, soalnya jam sudah menunjuk ke angka 5.30….Angka lagi….kok irama hidup di batasi angka ya. Umur juga, mbok jangan di batasi 65 tahun ….biar bisa lihat sendiri kiamat dan menonton Madona blingsatan nggak sempat tobat…….

Pungkas BA al-Troy
Selamat belajar buat teman-teman yang ngambil Summer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: