Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Crocodile Dundee 4?

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Di saat Jakarta sedang ramai-ramainya dengan aurora Sidang Istimewa, tiba-tiba saya ingin mencibir pada peristiwa ini dengan “membelot” dari depan televisi. Ada sisi “sumringah” pada SI tentunya, tapi biarlah saat ini saya pejamkan mata sebelah. Karena itu saya memilih masuk ke Metropolis, sebuah bioskop di bilangan Cikini. Hari masih sore ketika saya masuk ke dunia remang-remang ini dan menyaksikan sebuah film berjudul “Crocodile Dundee in LA”

Tidak adil kalau saya tidak menceritakan sedikit isi film ini. Ini adalah kisah ke 3 Mick, sang pemburu buaya, yang kali ini terdampar di LA. Sebagai seorang pemburu buaya sekelas Steve Irwin (yang adalah crocodile hunter betulan), ia mempunyai skil natural dan supernatural untuk menaklukan binatang liar. Ia kemudian dianggap aneh ketika di hadapkan pada kehidupan Beverly Hills. Dan secara tak terduga ia mampu (ada-ada saja!) membongkar mafia penyelundup lukisan antik. Maka berbagai lelucon, slapstik dan kelucuan diciptakan, baik yang lucu maupun yang tidak. Apalagi yang dapat anda bayangkan pada seorang “pintar” di dunianya lalu terdampar pada dunia yang bodoh, kalau bukan lelucon?

Sementara itu – saya yakin – di gedung remang-remang berbentuk kura-kura sana, pasti juga sedang banyak slapstik yang sedang dipertunjukkan. Ketika itu para jagoan dari partainya masing-masing masuk pada sebuah dunia baru. Apalagi yang akan dapat anda harapkan dari sebuah cerita guyon? Saya rasa kita musti menanggapinya dengan tertawa, atau meng-“huuuuu”-kan sesuatu yang tidak lucu. Persis seperti pada saat saya menyaksikan dundee dari Australia ini.

Di penghujung film, Mick mengajak dialog kepada penonton dengan berkata “Ah mungkin saya akan ganti profesi menjadi detektif swasta”. Upss tunggu dulu, “Kling…”dia mengedipkan mata kirinya “hanya bercanda” katanya tersenyum.

Saya faham! Saya faham apa maksudnya. Artinya setelah ini masih akan ada episode crocodile dundee berikutnya yaitu yang ke-4. Kalau dulu settingya di Australia, kemudian New York, lantas LA, mungkin nanti Beijing. Tapi topiknya tetap sama, hanya guyon, slapstik. Mirip SI kali ini bukan? Kalau dulu slapstik ini oleh pemerintahan Sukarno, Suharto, Habibie, dan terakhir Gus Dur.

Ada sedikit untung yang saya peroleh, karena lebih memilih Mick dari pada SI. Mick lebih menyegarkan dalam arti yang sebenarnya. Tidak ada yang terluka dan meninggal. Ingat ini film komedi, bukan film Hongkong. Tapi apakah humor kura-kura yang sedang terjadi di sana juga tidak menimbulkan korban? Slapstik politik mereka agak keterlaluan, banyak korban dan bahkan banyak yang dengan sukarela ingin menjadi korban.

SI baru saja berlalu, pertanyaannya adalah apakah ini yang terakhir? Tidak tahu juga. Hanya saya masih teringat betul dialog Mick di ujung cerita – yang menjanjikan seri lanjutannya. Kita sedang menanti Crocodile Dundee seri ke – 4? Kita tunggu saja!

26 Juli 2001
Pungkas Bahjuri Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: