Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Jakarta Selembut Sutera

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Jantungku berdetak keras, hati kecut dan nyali menciut. Bunyi semprotan gas di terompet kapal menyalak keras menandai kapal feri penyeberangan (dengan keren sekarang di sebut Roll On-Roll Off/Ro-Ro) JATRA II, lepas landas dari dermaga Bakauheni.

Toat….toat…toat…!

Di ujung mata sebelah sana, tampak garis-garis biru berkabut menyembul dari permukaan laut. Itulah ujung pulau Jawa. Pulau impian, kata Sagin. Karena di sana ada Tangerang yang telah ‘dibumbui’ Sagin itulah, makanya aku sekarang berdiri di geladak ini.

Sagin teman SMA-ku dulu, merantau ke Tangerang. Tepatnya di sebuah pabrik. Untuk merenda masa depannya sebagai buruh rajut kabel baja. Lebaran kali ini, dia membujukku untuk ikut bekerja di sana. Daripada di rumah, katanya, menjadi buruh dengan gaji – sebenarnya lebih tepat di sebut upah – hanya 3 ribu dan makan siang dengan tempe dan ‘sayur mie.’

“Ayo…! Pura-pura sok tahu saja di sana”.

Kiat ini keluar dari mulut Sagin – siapa lagi. Sagin memang orang desa, tapi gayanya sudah berubah, ia adalah orang kota sekarang. Lihatkah pakaian dan gaya bicara si ‘Doel’-nya. Bukan ciri orang desa lagi. Jangan berlagak jadi orang desa, jangan terlalu banyak senyum, jangan terlalu banyak bertanya dan jangan terlalu ramah. Dan masih banyak ‘jangan-jangan’ yang lain. Tip ini yang berhasil membuat Sagin sebagai juara bertahan hidup di Tangerang. Katanya agar tidak mudah ditipu orang. Seperti itulah rata-rata yang dipelajarinya dari masyarakat Jakarta dan Tangerang.

Wehh, aku menjadi ngeri. Di sana tak perlu menyapa seperti di desa. Untuk itu aku harus berpakaian agak necis sedikit. Seperti pegawai kantoran biar para preman jadi ngeper. Katanya lagi, juga untuk menghindari kita dikira copet (Yap, Sagin belum tahu kalau copet pun sekarang necis-necis). Apalagi sekarang nasib pencopet akan jauh lebih buruk daripada yang kecopetan.

Alkisah aku ada di terminal Kampung Rambutan. Dasar si Sagin, sok tahu. Padahal tadi bisa turun di tengah jalan di Tangerang. Ah sudahlah, lupakan masa lalu, pikirkan yang depan, kata pejabat Orba. Nah sekarang harus naik bus yang mana untuk balik ke Tangerang? Aku lihat hanya nomer-nomer bus yang besar, tulisan yang ada terlalu rumit buatku. Sementara kusaksikan orang-orang yang bertas, berpakaian seperti aku langsung aja naik bus. Wah jago ramal nih orang-orang.

Kemana aku harus tanya? Tanya sembarangan bisa malah dikerjain cakil seperti di terminal Rajabasa, Lampung. Ada polisi, tapi aku selalu ngeper jika bicara dengan polisi, walaupun aku yakin mereka tahu bus mana yang benar. Para padagang kaki lima mungkin tahu. Biasanya mereka sudah mangkal di situ bertahun-tahun, jadi tahu bus ini dan itu dari dan ke mana. Oke, aku harus tanya ke mereka.

Eiiip… tunggu dulu!

Ingat pesan Sagin, bersikaplah sok tahu dan jangan merendah, begayalah seperti Benyamin sang Koboi Kota. Di Jakarta, kata Sagin, orang hidup dari sikap sok tahu dan tinggi hati. Itulah sebabnya mereka hidup dalam suasana persaingan, kesombongan dan individualistis.

“Nuwun sewu Pak, mau bertanya. Kalau mau ke Tangerang naik bisa yang mana ya pak?” di hadapanku seorang pedagang rokok.

Pertanyaan itu memang tidak tiba-tiba. Hanya sayangnya itu tidak kuucapkan dengan nada tinggi. Itupun pakai membungkuk ala sopan, segala. Semua pelajaran Sagin tiba-tiba saja hilang. Dan sikap ndeso tak mati tertembus pelor Magnum si koboi. Padahal aku ingin mengamalkan ajian Sagin. Rokok sudah aku nyalakan. Nah rokok ini juga penting, katanya. Kalau berada di wilayah tak kenal, jangan lupa merokok. Katanya ini untuk menutupi ‘grogi’ terhadap situasi. Namun pelajaran Sagin hanya mudah untuk dilamunkan oleh orang-orang seperti aku.

Biasa saja, kalau mereka akan menjawab dengan seenaknya dan acuh-tak acuh. Memang beginilah adat istiadat penduduk Jakarta, Sagin mengingatkan. Bahkan siap-siap saja tak dijawab dengan “tidak tahu”.

“Oh itu Pak, naik P27, kalau mau yang Patas. Tunggu di sini saja Pak. Baru ya di sini? Hati-hati banyak copet. Tunggu di sini saja, nanti kalau bus-nya datang saya kasih tahu”.

Aku tersenyum kecut mendengar jawaban tadi. Mana kebenaran ajaran Sagin? Mana kemana acuh tak acuh, mana kekerasan, ke gurun mana kaburnya si koboi? Ternyata Jakarta itu ramah. Buktinya pedagang rokok tadi menjawab dengan penuh sopan dan penghormatan kepadaku yang notabene adalah orang desa. Orang-orang Jakarta pasti ramah-ramah dan baik hati seperti bapak tadi! Dasar Sagin.

12 Nopember 2000
Pungkas Bahjuri Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: