Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Jalan Menuju Pulang

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Marilah pembaca kali ini saya ajak untuk ikut kami meliput dan menikmati hari bersama seorang anak. Ketika itu ia berdiri, telanjang kaki di sebuah pinggir jalan tanah. Lantas menyusuri aluran irigasi mencari ikan dengan jaring dan pancing di tangan. Ikan dia dapatkan, beberapa, kecil-kecil. Sementara berbagai binatang kecil bertaburan, mengahrapkan kenikmatan dari sosok kecilnya. Tangan mengibas-ngibas mengusir keduanya.. Sebenarnya kibasan itu lebih merupakan tradisi, karena bagaimanapun, makhluk-makhuk itu akan tetap menggigit dan mendengung-dengung.

Selokan berlumpur, sementara kaki telanjang, membuka diri diri ada terkaman lar atau kalajengking, lebih-lebih virus dan bakteri. Seandainya kita orang tuanya, mungkin seperti ini kita akan berucap :

“Awas, pakai sepatumu dan jangan bermain di sana, bisa sakit nanti”.

“Ayo, balik mandi sana dan makan, ini waktunya kamu makan dan istirahat siang”.

“Eeeh nak, sudah dulu mainnya. Kamu harus belajar buat besok, kan bu Guru bilang PR nya harus dikerjakan”

Akan halnya si anak ini, terus menyusuri selokan, lalu menyusuri alur-alur tak tentu arah, bagaikan lekukan batik tulis. Kadangkala bercanda dengan penjaja es lilin, sambil berharap diberinya es barang sepotong dan mengandaikannya satu cone Conello yang cuma bisa dilihatnya di papan iklan pojok jalan. Waktu habis tanpa makna. Sekedar memperdayai masa. Selalu ia memandang orang-orang yang lalu lalang, mobil, sepeda dan sebaya di jalanan. Tak mengerti apa yang sebenarnya mereka kerjakan.

Sore menjelang. Ditutupnya hari itu dengan menyusuri jalan kembali pulang. ketika dijumpainya seekor kambing terikat di kandang milik Pak Ratno, tetangga, rumpun bambu dan kedipan lampu teplok dari sela-sela dinding, berarti dia telah sampai. Umurnya baru 12 tahun. Namanya Untung. Beruntung, bapaknya menunggu, ibunya telah menunggu, begitu pula dua adiknya. Beruntung masih mengenal kata bapak, walaupun yang disebutnya itu tak pernah melarangnya dari bermain dengan debu, walapun tak mengirimnya ke sekolah, walaupun harus membagi rata sebutir telur campur tepung untuk berlima.

Masih banyak lagi yang tak seberuntung dia. Tak ada ayah atau ibu yang melarangnya dari bermain. Tak ada yang menunggu ketika dia pulang. Bahkan tiada jalan menuju pulang.

Troy, 18 February ’99

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: