Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Jendral Pasar

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Siapakah Jendral Pasar itu?
Dari mana datangnya arang, dari hutan turun ke tungku. Dari mana datangnya uang, dari utang turun ke saku. Aku mendapat uang 15.000 rupiah. Kebetulan karena aku telah termimpi-mimpi untuk beli Topi kuncung ala Tino Sidin yang aku idam-idamkan. Dari sejak kecil aku ingin sekali topi itu, biar tampak seperti Don Juan.

Uang itu segera aku belikan topi. Sisa 400 perak sempet aku beli cendol di gang senggol (waladalah dulu cendol mah cuman 50 perak…..). Wuih.. aku tampak gagah kini, seperti pejabat baru main golf di Jagorawi. Aku mematung eh mematut di depan cermin, geser kiri-geser kanan. Miring kiri-miring kanan. Hmmm….. Sejak itu, sang kuncung tak pernah lepas dari kepalaku. Aku tetap gagah, walaupun ke pasar loak…tampak seperti baru mancing bareng pak Harto di Kepulauan 999 (satu pulau telah tenggelam beberapa bulan yang lalu).

Topi sudah ada ditangan…eh di kepala. Kini tinggal satu lagi yang kurang lengkap. Arloji! Yang satu ini juga kurasa sangat penting. Denganya aku tak akan terlambat mengejar kereta jam 5.30 pagi atau tak perlu menunggui indomie rebus di depan kompor. Cukup lihat arloji, 6 menit….selesai. Sebenarnya aku masih punya arloji merk Batman.yang kupakai sejak SMA kelas III dulu. Masih layak pakai, masih function. Namun dia sudah tak mode lagi, yang mode kini bermerk Gussi, Sitijem atau Molex. Gak cocok cak….topi golf, arloji Batman.

Walhasil arloji Batman aku jual. Murah memang, tapi lumayanlah untuk tambahan cari yang “baru” di pasar loak. Kemarin aku lihat ada Gussi baru, kinclong-kinclong. Aku tahu ini jam palsu, tapi bolehlah. Toh orang akan lihat jam nggak pakai mikroskop, tak tahu jam keren ini seharga beras lima kilo. Karenanya hari ini ku pergi ke pasar. Nah…inilah perjumpaanku yang tak disangka-sangka dengan sang Jendra Pasar.

Ketika itu, Selasa pagi jam 7, di alun-alun pasar Sukarjo (nama desanya sebenarnya Sukoharjo, namun kebiasaan penduduk mengucapkannya Sukarjo…praktis dan irit, seperti Bulukerto Raharjo dipanggil Buto Rojo, Gunung Kidul = gundul dll).

Dari tanah yang agak tinggi, aku mendengar teriakan lantang: “Ibu-ibu yang jentelmen… Akulah Jendral…!!”

Seorang laki-laki tinggi kurus, rambut panjang, berkaca mata hitam, dengan jins merk Leo, gigi ompong.. (bukan Gombloh lhoo) dan berpuluh-puluh gelang di pergelangan ditangan. Sebuah garis kuning di atas pundaknya, yang tampaknya diklaim sebagai pangkat jendral. Sendal jepit hijau di kanan, merah di kiri (kata orang dia nggak suka kuning), kumis melintang ala macan. Pakaian biru tua berjambul, puluhan atribut mulai lidahnya Rolling Stone sampai stiker “Anda sopan, kami segan” yang sering tertempel di pintu mikrolet, ada.

“Tar…tar..tar…!!!” sabetan “pethen jaran kepang”- sebuah cambuk tradisional untuk Kuda Lumping – ingin mengundang perhatian semua orang (tidak cuma ibu-ibu) di pasar itu.

Sontak, gerakan tangannya membuatku tersedak, laksana tertelan biji salak. Di pergelangan tangannya ada arloji merk Gussi persis seperti yang aku ingin beli. Duh mak……entah mengapa, mataku meilirik ke kepalanya…Yah…topi mancing pak Harto….sama dengan topiku ini..

Begitulah, hari itu aku surut, pulang dengan harapan mudah-mudahan minggu depan aku bisa kembali dan cari arloji keinginanku tanpa malu melihat si Jendral Pasar. Celaka duabelas!!! Si Jendral Pasar belum di juga diajukan ke mahmil, bahkan sejak itu selalu jadi jagoan pasar menggantikan peran sosial dwifungsi-nya ABRI dan memecutkan cambuknya tanpa pernah melepas topi dan arloji-nya. Keinginanku batal.

Seorang penjual soto bercerita, bahwa si Jendral Pasar, konon adalah seorang yang kaya raya. Mobil banyak mulai VW kodok, VW kutu (Bettle) sampai Mbelgedes seri 9000 ada. Penampilan laksana pangeran dan selalu tampil beda setiap hari. Kemarin rompi, hari ini sutera, besoknya celana model hawai. Tak mau kelihatan miskin, barang-barang selalu mahal, restoran harus yang pake tip, bergaya borjuis. Minyak goreng harus yang anti-kolesterol, tapi makan daging tak pernah henti. Kopinya kental, musiknya keras dan rokok kreteknya mantab. Kemudian, entah mengapa bisnis-nya bangkrut dengan sangat menyedihkan (ada dugaan melebihi kredit limit yang ditetapkan BI). Semua harta benda di sita. Uhh… kejam juga pak Jaksa ini. Hobi necisnya tak lagi terpenuhi. Hingga semuanya habis, musnah. Selalu murung, karena dirinya tidak lagi jadi pusat perhatian. Lambat namun pasti, karirnya naik hingga suatu hari ia deklarasikan dirinya sebagai jendral. Lalu kenapa dia memilih jadi jendral? Ya karena ingin selalu diperhatikan orang dengan atribut kejendralan-nya. Dengan jadi Jendral Pasar mencari ketenaran jauh lebih gampang, ketimbang mesti bergabung dulu dengan para jenderal beneran di Barnas dan teriak-teriak di belakang barmas (barisan mahasiswa).

Begitulah cerita si tukang soto. Ceritanya berbelit memang, seperti ingin memberi sensasi rame dan keramat di soto-nya. Maklumlah jaman reformasi, masa di mana tak ada larangan bagi tukang soto untuk bicara apa saja, betapa lezat sotonya yang diklaim sebagai soto asli ramuan Roro Mendut, tentang perannya dalam dunia per-soto-an, sampai menelorkan versi tersendiri tentang sejarah si Jendral Pasar.

Walaupun begitu, penuturan pak Soto tadi membuatku mulai berpikir. Jika ingat topi mancing dan arloji Gussi, sebenarnya akupun bermimpi menjadi Jendral Pasar. Topi mancing dan arloji Gussi, bukannya ajang legitimasi diri? Barang-barang baru, bagus mahal, untuk mendandani diri, untuk dilihat orang. Layaknya bagai sang Jendral yang mengira “pethen”, gelang, garis pangkat di pundak, sampai umbul-umbul akan membuatnya menjadi pusat perhatian. “Lihatlah apa yang melilit tubuhku.!” Begitu pikirnya. Dikiranya! Memang dia bukan poltikus yang memuja sejarah cukongnya atau remaja putri yang memuja Lady Di sebagai simbol jatidiri wanita sejati. Tapi dia menghamba pada dirinya sendiri sendiri. memuja tubuhnya, memuja harga dirinya.

Ah sudahlah, aku tak ingin membahasnya, nanti banyak yang tersindir, termasuk aku dengan Topi mancing dan Gussi-ku. Iya ya…mungkin hanya dua benda tadi, aku baru setingkat sersan dua. Ketika keinginanku bertambah ke sepatu dan tas, mungkin akan naik menjadi letnan. Demikianlah seterusnya, semakin banyak atribut (baju, kosmetik, dll) dan tak terkontrol, semakin tinggi pangkatnya, dari Prada, Pratu, Serda, dan seterusnya, hingga suatu saat menjadi Jendral. Jendral Pasar!

*******************
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya*, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna. (QS Al Maa’uun: 4-7).

ket: *): riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah, akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.

Pungkas Bahjuri Ali
Troy, Oktober 29, 98

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: