Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Kemasan Chitato dan Bungkus Tempe

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Sebelumnya aku ingin mengenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Jay Kumolilo. Aku seorang desainer ngetop sekaligus agen iklan bonafid. Saat ini aku sedang mendapat proyek dari sorang pengusaha tempe dari Tasikmalaya untuk mendesain bungkus tempe dan mengiklankannya supaya orang-orang tertarik dan menjadi barang yang “laris manis tanjung kimpul”. Bila yang ini berhasil aku segera mendapat order berikutnya yang lebih yahud.

Bagiku, ilmu perbungkusan sekarang memang luar biasa. Pada awalnya bungkus hanya berfungsi menjaga agar barang yang dibungkus jangan tumpah dan mudah dibawa. Sekarang bungkus juga menjadi ajang promosi, susunan zat gizi, resep masak, komik, numpang mejeng para artis, Satria Baja Hitam, prestise dll. Bahkan banyak bungkus makanan yang bisa digunting dijadikan rumah-rumahan, yang kaleng dijadikan wadah puplen, yang gelas wadah merica, pot atau sumpel ember bolong. Multifungsi. Luar biasa.

Inilah pinternya para produsen makanan. Istilah “bungkus” yang kesannya kuno di ubah jadi “kemasan”, lebih trendy dan modern. Makanan yang kurang enak jadi enak, yang isinya enak jadi tambah enak, yang gembel jadi mewah, yang malu-maluin jadi bahan pameran. Anak-anak yang nggak mau makan ketela, jika sudah diplintir-plintir jadi chitato, jadi rebutan. “Jagung meleduk” kalo sudah dibungkus kertas merah bergaris putih bertuliskan “popcorn” harganya langsung mahal. (Coba kalau namanya “berondong jagung”…..apa ya ngetrend?). Ia menjadi idola, dicari semua orang. Semuanya hanya karena bungkus eh…kemasan.

Nah kelihatannya ini bisa diterapkan pada tempe. Makanan satu ini sungguh sial nasibnya. Kasihan sekali. Padahal ia bergizi tinggi, jauh lebih tinggi dari chitos atau chitatos atau doritos dan tos-tos yang lain yang keropos itu, ia lebih sehat daripada agar-agar merah putih hijau yang isinya air melulu. Ia satu-satunya makanan nabati yang punya vit B. Tapi karena bungkusnya yang hanya daun waru atau daun pisang, ia jadi barang kuno. Sekali lagi kuno. Mau modern dikit niru-niru chitato…eh ketemunnya paling-paling plastik putih transparan itu.

Untuk mengubah citranya, ku adopsi proses reengineering alias perubahan radikal. Kini aku rancang bungkus tempe yang menarik, dan orang yang memandangnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Iklannya dengan nuansa modern dan citra mewah. Untuk meninggalkan kesan mendalam aku buatkan jargon untuknya yang aku sadur majalah “Tempo: enak dibaca dan perlu” menjadi :”Tempe: Enak dibacem dan perlu”.

Aku bungkus (eh..sekali lagi: kemas) tempe yang mirip kemasan rokok Marlboro. Bungkusnya keras, keren dan …..Nanti juga iklannya cowboy dengan gagahnya menunggang kuda merah sambil menggiring sapi. Wuss….ditengah hembusan debu..sang cowboy dengan gagahnya memegang kendali di tangan kiri dan …memegang tempe ditangan kanan!!!

Alternatifnya seperti kemasan mie kriting Indofood…cap dua telor. Walaupun isinya cuman cabe, kecap dan mie yang mbundet-bundet, di gambarnya ada mie, telor separo, hot wing …… Jadi nanti di kemasannya ada gambar tempe, dada ayam (kalkun bila perlu), udang merah delima dua biji, macaroni plus es krim sundae dengan toping stawberry disampingnya. Merknya tertulis Tempe Indah bola Pingpong cap dua telor plus dada kalkun. Emmmm.

Yang ini setting iklannya Doel dan Neng Sarah lagi duduk di Restoran Ayah Kanduang, menikmati tempe. Lalu tiba-tiba Mandra datang merebut tempe dibawa kabur sambir berteriak…”langsung ngacir”. Ini setting yang ditayangkan pada saat pertandingan balap mobil atau turnamen golf. Pasaran atas..cing! Desain aku selesaikan dalam waktu 2 bulan.

Ketika ide ini aku sampaikan ke sang pengusaha, ia tertarik sekali, dan ia setuju. Dan ia bayar mahal sekali…..! Hmm berhasil aku kali ini. Nah kalau gini kayaknya tempe bakal jadi rebutan. Dari warteg sampai Pasaraya Young and Trend.

Besoknya seorang ibu datang ke studio bersamanya seorang anak perempuan manis usia 10 tahun. Ehm…dapat order lagi nih. Pasti si Ibu latah pengen anaknya main sinetron. Di otakku sudah berjajar jutaan rupiah. Untuk tempe saja aku dapat sekian puluh juta kok, apalagi ini untuk anak manusia

Setelah sedikit basa-basi tahulah aku rupanya si ibu melihat iklan tempe di TV tetangganya dan tahu aku yang membuat spot. Serta merta ia menghadap dan bilang,” Mas Jay, tolong anak saya dibungkus dan diiklankan. Nanti saya bayar berapa saja semampu saya”. Lho kok? Aku kan bingung, kok anak kecil mau dibungkus dan diiklankan? Mau dijual juga apa? Terus apa upah yang aku dapat? Seolah tahu aku bingung si Ibu melanjutkan lagi, “Suami saya lama meninggal. Saya tak punya biaya. Saya ingin jual anak saya, tolong dibungkus diberi merk dan diiklankan, agar ia laku, orang tertarik dan berebut membiayainya. Mas Jay, jangan khawatir masalah upah. Setiap pembeli juga dapat upah yang sudah pasti tak ternilai dengan uang!!!”

Nah pembaca, siapa yang mau beli?

BeA, Troy, July 16, 98
(Inspirasi: wawancara Neno Warisman di Sahid Terbaru 02 Th XI)

One Response to “Kemasan Chitato dan Bungkus Tempe”

  1. kemasan dengan DAUN lebih enak rasanya😛

    regards,
    http://www.arenabetting.com
    Kami satu-satunya agent bola yang dipercaya dengan reputasi tinggi.
    Pencarian Anda Berakhir Disini.Join http://www.arenabetting.com! 100% Terpercaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: