Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Kisah I: Cabe, Basil dan Cilantro

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Aku menanam 3 jenis tanaman di jendela kamarku, cabe, basil dan cilantro. Ketiganya aku pilih karena mereka mempunyai “khasiat” yang sangat aku perlukan. Pertmana, aku selalu dapat berharap makan yang rasanya pedas kesukaanku, akan tetapi alam di US ini menyebabkan apa yang namanya “extra hot” pun, seperti rasa sambal dengan dua cabe ditambah satu pon gula merah dan 5 buah tomat. Makanya aku tanam Banana Pepper (Indonesianya kali cabe ambon). Nah, mudah-mudahan, cabe yang aku tanam dipot putih trasparan ini mampu menghasilkan cabe minimal 3 kali sehari, pagi, siang dan sore. Pengganti sambal.

Tanaman kedua adalah basil (sweet basil). Entah nama Indonesianya apa, apa kemangi, apa temu pelawak (eh..temu lawak), sambiroto atau sonokeling. Yang jelas basil ini berkhasiat memberi rasa lain jika dimakan bersama makanan utama. Ia menimbulkan stimuli flavor yang merangsang (enhancer istlah food tech-nya) nafsu makan kita. (Orang-orang di Cianjur sana menyebutnya: lalap!). Ia juga kuharapkan menghasilkan 3 lembar daun sehari., pagi, siang dan sore.

Yang ketiga, lebih keren lagi, Coriander Cilantro….nah siapa yang tahu versi Indonesianya? Kalau dilihat daunnya ia mirip dengan seledri, yang rasanya harum itu….terutama kalau dicampur kacang ijo, santan…hmmmm. Yang satu ini tidak untuk dimakan, tapi sebagai pengharum ruangan, biar mengalahkan bau-bau kaos kaki yang bergantungan. Jadi ia aku harapkan menghasilkan daun yang banyak dan awet. Sepanjang hari.

Ketiganya aku rawat dengan baik…..sepanjang yang aku ingat. Minimal dua hari sekali aku siram. Bukan main-main, mereka aku siram khusus dengan gelas yang biasa aku pake minum, dengan air putih yang biasa juga aku minum, setelah disaring dengan Brita. Aku nggak mau jadi pemeras, wong aku yang pengen pedas, enak dan harum kok, masak aku siram bekas cucian piring dan wajan. Nggak adil kan? Mereka tumbuh dengan bagus, subur, hijau…tapi belum aku petik.So far so good.

Nah, suatu hari……jreng!!!! Sebagai calon industrialist, aku dapat banyak order. Sehari empat biji. Walaupun semua order harus dikumpul dalam satu hari, persiapannya berhari-hari. Nah project ribuan dollar ini tak mungkin aku sia-siakan, apalagi di jaman edan ini, dimana satu dollar dapat sepatu merek Nike di trotoar Jembatan Merah Bogor.Walhasil aku tenggelam dalam tumpukan kertas, pulpen, komputer dan kalkulator*). Tiba-tiba semua yang ada didepanku berubah menjadi rangkaian angka-angka dan program-program simulasi yang ruwet, tapi indah bagaikan fractal Mendelbroth yang terkenal itu. Semuanya.

Pukul 9.30 pm tiga hari kemudian.
Wuih…..lega rasanya. Walaupun imbalannya paling-paling angka dua digit, orderku telah selesai semua. Sekali lagi…lega. Makanya aku pulnng, duduk, istrirahat sambil menerawang suasanya luar yang mulai gelap. Ketika itu tiba-tiba pandanganku terantuk pada tiga sosok bayangan dijendela, mengerikan. Hiii. Wajahnya pucat, layu napasnya satu-satu. Matanya menatap tajam seolah mau balas dendam.

Hantuuuuuuu…!
Jantungku berdetak keras.Kleneng..kleneng…kleneng…(begitulah suara jatungku, karena dileherku masih tergantung kalung dengan bandul berbentul bell mirip kalungnya petruk, kalung sapi juga)

Aku coba perhatikan, baik-baik. Dengan mata menyipit-nyipit. Takut hantu beneran. Alhamdulillah. Wuih….(lega kedua kalinya), ternyata itu bukan hantu. Tiga sosok tadi adalah tiga serangkai, cabe, basil dan cilantro. Aku baru teringat, karena sibuk dengan order dari dosen, aku lupa menyirami mereka. Tiga hari saja…mereka layu…hampir mati.Cepat-cepat aku ambil air dari jerigen (apa sih nama Indonesianya “teko”) sumber minumku. Aku sirami mereka. beberapa saat kemudian, mereka tegak kembali. Esok paginya aku tengok, mereka sudah seger kembali seperti Zaenab si Gadis Sunsilk. Meliuk-liuk ditiup angin, bagaikan Meriam Bellina (padahal aku nggak kasih hemaviton).

Kini aku senang. Mereka makin subur, tumbuh dan memberi kesejukan. Hatiku senang. Mudah-mudahan aku tidak lupa lagi memberikan anggur kehidupan bagi mereka. Mereka makhluk hidup, akupun juga. Cukup setengah gelas air dua hari sekali, sesuatu yang kecil nilainya bagiku, tapi adalah sumber ketiga tanamanku di pinggir jendela sana. Setetes air bagi kita, sejuta hara bagi mereka.

Pesen sponsor:
Mohon disimak kelanjutan cerita ini pada bagian yang lebih menyedihkan di email berikutnya dengan subject yang sama.

*) Ralat: yang bener tumpukan kertas doang…pulpen cuma satu, kalkulator satu, komputer satu.

Pungkas Bahjuri Ali
Troy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: