Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Kursi untuk Pak Nurdin

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Assalamualaikum. Apa khabar Pak Nurdin?

Pak Nurdin, sejak beberapa bulan yang lalu saya telah naik jabatan. Tentunya Bapak ingat, ketika selesai rapat sore Sabtu itu kita sempat ngobrol. Ketika kita berbincang-bindang sambil membereskan kursi ruang rapat.

Pak Nurdin benar sekali, ketika Pak Nurdin duduk di kursi rapat itu, sementara di depan pak Nurdin ada mikrofon. Lantas Pak Nurdin bilang pada saya: “Pak, saya sudah bekerja 11 tahun di sini, belum pernah sekalipun duduk dala rapat seperti Bapak. Padahal Bapak kan baru satu minggu kerja di sini.”

Yah memang harus begitu. Pak Nurdin kan hanya lulusan SMP. Itu pun sudah bersyukur bisa menjadi pegawai negeri. Saya lain. Saya berpendidikan tinggi luar negeri. Jadi wajar kalau duduk di kursi ruang rapat. Lagipula mana Pak Nurdin ngerti bahan yang dirapatkan? Bukan begitu Pak?

Anehnya dua tahun setelah kejadian itu, saya justru merasakan hal yang sama. Saya mulai bosan dengan posisi saya. Memang posisi saya lebih baik dari pak Nurdin, tapi saya tetap menjadi suruhan Pak Salim, bos. Setiap selesai rapat saya biasanya berguman “Sudah dua tahun saya bekerja di sini, tapi masih tetap menjadi bawahan. Kapan saya bisa menduduki kursi ini?

Dorongan ketidakpuasan ini lah yang mendorong saya kemudian pindah kerja, karena saya mendapat posisi yang lebih tinggi. Di kantor baru, saya mempunyai bawahan, dan saya pun bia menduduki kursi seperti yang pak Salim punya.

Tapi lagi-lagi pak Nurdin, omongan itu seolah menggaung kembali. Beberapa tahun kemudian saya pun pindah ke kantor lain, lagi-lagi dengan posisi yang lebih tinggi. Setelah itu saya tidak lagi berpindah pekerjaan, tapi bukan berarti saya berhenti di situ. Beberapa hari yang lalu saya naik jabatan lagi, kini posisi saya semakin tinggi. Tentu saya semakin puas.

Namun baru pagi ini saya ingin menulis surat ini, karena ternyata saya masih punya pikiran seperti Pak Nurdin di usai rapat sore itu. Tadi saya menghadap bos, ketika berhadapan saya berpikir “Kapan saya bisa menduduki kursi bos saya itu?”.

Akhirnya saya ingin menulis surat ini karena tanpa sengaja saya menemukan alamat Pak Nurdin di buku agenda lama saya. Saya tak tahu bagaimana posisi pak Nurdin saat ini. Namun saya menduga, posisi pak Nurdin tidak banyak berubah. Ada beda di antara kita, dan itu tidak terhindarkan. Namun sebenarnya, kita ini sama. Karena entah saya yang menjadi bos atau pak Nurdin yang menuruti perintah bos, kita masih punya pertanyaan sama, ”Kapan saya bisa menduduki kursi ini?” Seakan tiada ujungnya, Pak Nurdin.

Wassalamualaikum
12 Nopember 2000
Pungkas Bahjuri Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: