Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Lik Sumirah

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Ini adalah kisah nyata…

Beberapa waktu lalu saya mendapat khabar, orang tua saya yang pensiunan “dosen” SD, berada di desa di Lampung, harus “deal” dengan beras yang sekilonya…sekitar 3000 rupiah. Minyak sangat langka (Gimana nih Pak Harmoko…janji bapak ternyata janji gombal).

Saya lalu membayangkan Lik Sumirah, tetangga depan rumah saya yang menjadi tukang masak dan cuci di Puskesmas di kota kecamatan dengan gaji 20 ribu per bulan. Sementara sang suami harus menjadi kuli angkut truk karena sawah kering..ditengah bulan puasa seperti ini. Angkutan pun belum tentu tiap hari ada…sehingga hari-hari sisanya hanya diisi dengan duduk di bis (jembatan parit depan rumah) sambil mengharap truk datang menjemput untuk mengangkut muatan. Dia tidak sendirian. Truk satu harus rame-rame dibagi banyak orang….

Lalu mata saya seolah melihat Mbah Mingan lelaki tua yang sudah duda, duduk sambil tangannya memainkan bilah-bilah tipis bambu untuk dianyam menjadi gedeg (bilik dari anyaman bambu) dengan ditemani secangkir kopi dan rokok “tengwe” (nglinting dhewe = rokok yang diramu sendiri). Apakah beliau sekarang juga sedang menganyam? Kalau ia, siapa penduduk desa yang masih mau membuat rumah sementara paceklik dan harga beras, bawang, minyak goreng dan tepung terigu bahan kue lebaran membumbung tinggi? Kalaupun toh ada yang menyewa jasa Mbah Mingan, cukupkah uangnya untuk sekedar mengisi kantong baju lusuhnya dan mengganjal perutnya?

Ada lagi, Pak Subo, pembuat genting yang kurus kering; Kang Untung si penderes (membuat gula merah dari nira kelapa), Mbah Wir tukang cukur rambut dengan tarif 300 perak sekali cukur…banyak lagi..saya tak sanggup lagi menyebut mereka, pekerjaannya dan kesulitan-kesulitan mereka. Mereka tak tahu apa sih itu dollar, kecuali mendengar dari radio dan TV tanpa mengerti, tak mengerti IMF tak mengerti siapa itu Mar’ie, Tommy apalagi Fischer. Yang mereka rasakan adalah lapar, miskin, pasrah.

Apakah mereka harus kembali makan kelapa sebagai pengganti makan siang? (seperti perah dulu saya rasakan di saat paceklik) dan menebang pohonnya untuk mendapatkan pondo (daun dan batang kelapa yang masih sangat muda dan manis) untuk sayuran seperti dulu? Atau mungkin tiwul seperti yang ditawarkan Haromoko sebagai”diversifikasi”.

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada segelas coca-cola dihadapan saya. Saya juga memandang sisa paha ayam sewaktu buka puasa tadi, dan sekilas uang 5 dolaran menyembul dari dompet di meja saya. Radio, CD, buku dan banyak lagi…. Oh ya lima dollar tadi ternyata setara dengan gaji Lik Sumirah dua bulan. Sementara satu plastik Doritos seharga 3.29 dollar yang dibeli tiga hari yang lalu tinggal, remahan-remahan tak termakan…

Duh Gusti…dosakah saya ini? Dosakah saya pada Ibu, Bapak, Lik Sumirah dan Mbah Mingan? Mereka tak bisa bicara, tiap hari hanya mendengarkan pidato Bapak Pemerintah: stabil, aman, terkendali, bersatu dan lain-lain. Mereka bingung mencari makan sementar di meja ini banyak yang terbuang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: