Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Maling Kondang dan Susu Kaleng

Posted by pungkasali on April 14, 2008

(cerita terinspirasi dari sebuah tulisan lama yang tak sempat tercatat publikasi-nya. Jika pembaca menemukan tulisan sejenis, maka tulisan ini berusaha menghidupkan kembali cerita tersebut dan menyajikan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya)

Cerita Malin Kundang dapatkan ketika SD, namun sampai sekarang cerita ini begitu rekat menempel di otak kita. Sudah banyak cerita-cerita lain, seperti Fugitive, Ramadhan dan Ramona sampai cerita pura-pura menyeramkan ala Si Manis Jembatan Ancol, namun nama Malin Kundang tetap terpatri dalam jiwa raga (duh…kaya’ Paskibraka aja). Cerita ini begitu dikenal semua orang yang pernah makan bangku sekolahan, miskin, kaya tua muda, bahkan kaken-nenen (yang pernah sekolah lho). Ketenarannya seperti empek-empek Palembang, sekali makan… sengirnya tak pernah hilang.

Yang sering menjadi tanda tanya justru adalah, mengapa cerita ini tak diangkat ke layar perak (Istilah baru untuk layar tancap)? Seperti kisah Badman dan Robin, Frankenstein, Suparman dll. Toh sama-sama berasal dari cerita rakyat yang populer. Mungkin sih masih ada cerita ini di TVRI diacara Bhineka Tunggal Eka atau taman ria anak-anak nusantara sore jam 5.

Apakah lantaran malin kundang nggak bisa terbang? Tak sekuat Hercules, si anak hasil selingkuh dewa Zeus. Atau si makhluk Hijau: Hulk yang konon mampu mengangkat kereta dengan satu tangan? Rasanya Malin Kundang juga tak kalah hebat. Lihat, dia bisa menghentikan angin ribut di tengah lautan hanya dengan menyilangkan jari di mulutnya sambil berbisik: ssssttt!!! Pandai silat walaupun masih pake sarung. Mana ada jagoan yang berani bertanding pake sarung (perkecualian Tyson yang hanya berani pake sarung ditangannya, yang itupun harus pake nggigit segala).

Apakah ceritanya kuno? Mungkin juga tidak. kalau mau toh cerita bisa dibumbui, misalnya kapal layarnya berhulu ledak nuklear, satelit mata-mata pukat harimau dll-dll. Atau ketika di tengah laut-tiba-tiba menemukan duyung cantik jelita (padahal duyung kan bersisik dan lagian berkumis). Itu kan tergantung kreativitas sutradaranya saja. Lha lihat, di Jepang saja kura-kura bisa jadi ninja kok. yang ternyata juga dijiplak oleh para preman banyuwangi dan mengganti nama menjadi pura-pura ninja. Modernitas adalah relatif, jadi yang terkesan kuno-pun tak masalah untuk dikomersialkan. Misalnya budaya rambut gondrong jaman Mojopahit sekarang toh modenya para gitaris. Sekarang…ngetop banget.

Kita sebenarnya perlu optimis kalau sutradara kretaif, film ini bisa laris dan mungkin bisa mendunia. Misalnya yang jadi malin si Arnold Scwanjegeger terus yang jadi ibu-nya Wophi Golberg. Tak kalah keajaibannya dengan X-files, secara misteri kapal berubah jadi batu. Mana ada negara lain?

Tapi pertanyaan tetap pertanyaan. Beberapa alternatif bisa saja muncul. Bagiku yang paling masuk akal adalah ketakutan para ibu-ibu dan para pengusaha susu sapi kaleng (atau susu kaleng sapi ya..?) akan cerita itu. Lho….. apa hubungannya. Ini dia ceritanya

Dunia sungguh telah berubah. Dulu yang disebut ibu adalah mereka yang melahirkan,menyusui, menyayangi, memelihara, tempat bergantung di kala susah. Kotor dibersihkan, sakit disehatkan, nangis didiamkan dan jatuh disingkirkan. Artinya apa: kasih ibu sepanjang jalan (catatan: bebas demo). Tak heranlah dengan ibu si Malin Kundang yang begitu sedih, mengenang anaknya yang dulu ditimang-timang kini berani durhaka, tak mau mengakui ibu yang dulu menghidupinya. Karenanya kutukannya sungguh amat mujarab. Sekali sabet….glarrrr!!!.

Nah apa kutukan para ibu sekarang juga masih semanjur ibu Malin tersebut? Pikir-pikir dulu. Kini banyak ibu-ibu yang menitipkan janinnya di perut orang lain, lantaran tak mau perutnya kendor dan mengurangi keremajaa. Banyak ibu-ibu yang malu melahirkan anaknya karena tak tahu siapa ayahnya. Begitu lahir, dibuanglah ke toilet, tempat sampah dan selokan. Coba tebak terhadap ibu-ibu seperti ini apa kata-kata kutukannya? “Tahukah kamu siapa dulu yang mengenalkanmu pada pada toilet? atau Siapa dulu yang mengajari kamu berenang selokan?” Namun itu adalah contoh eka (ekstrim kanan) dan eki (ektrim kiri).

Tak terbayangkan, apa kata-kata kutukan yang bisa dikeluarkan oleh golongan berikut ini. Dalam golongan ini, banyak ibu-ibu yang nggak mau menyusui anaknya karena merasa “sakit”, karena menjaga vitalitas, karena ingin kelihatan kencang dan singset, tak mau keindahannya hilang disedot anaknya? Capek, disibuk tinggal kerja? Ibu-ibu ini tak mau tak sempat menyusui anaknya. Tapi untung masih banyak sapi, yang bermurah hati memberikan susunya untuk para bayi. Nah sudahlah di beri susu sapi saja, walaupun dia anak manusia.

Kini ibu-ibu merasa bangga kalau anaknya minum susu dari sapi. Nama dagangnya pun keren. Diperas dari sapi pilihan dengan makanan rumput pilihan. Semakin mahal harga susu kaleng, semakin tinggi kualitas susunya. Susu simbol modernitas dan tingkat sosial. ASI hanya diberikan oleh mereka yang tak mampu beli susu kaleng atau mereka yang tak punya sapi. Dengan Dancow, anak bisa menjadi cowboy, main bola jagoan, lari menjadi kencang, panjang tangan (bisa megang kuping kiri dengan tangan kanan).

Nah apa jadinya, kalau suatu saat misalnya, anak susu sapi ini, menjadi si Malin Kundang di jaman cyber ini? Katakanlah namanya Maling Koondang bergelar the Dan of Cows Jika ia durhaka, si ibu mungkin bilang: “Oh anakku, kamu telah merendahkan ibumu….betapa dulu aku menyusuimu di waktu kecil… Ya Tuhan.. kutuklah anaku menjadi aspal jalanan, biar hitam dan digilas ban”… Blaaar. Asap berkepul… ehh ajaib Maling Kondang tetap hidup. Si ibu heran, lebih lebih ketika ia merasa ada perubahan di dadanya. Ketika dilihat …. eehhh dua buah kaleng susu menyembul….Si ibu lupa, kalau dulu anaknya minum dari susu kaleng. Sedang si Maling walaupun masih bisa cengar-cengir, sempet kaget juga mendengar suara ‘blarrr’, ia ketakutan dan berteriak-teriak minta ampun. Namun yang keluar dari muluitnya hanya suara melenguh…muuuh…muuhh.

Inilah yang ditakutakan, hingga cerita malin kondang tak bisa naik ke layar perak, karena itu berarti mimpi buruk bagi ibu-ibu golongan terakhir dan terutama para juragan susu kaleng. (Mungkin….)

………….
pesan: dari segi gizi, ASI adalah yang terbaik, dari nilai moral ini adalah ajaran agama

Troy, 20 Desember 98
Pungkas BA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: