Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Mas Hatin, ia cyborg

Posted by pungkasali on April 14, 2008

“Kepiye-piye iku yo anakku dhewe. Melas temen tho kowe le..le…”

Raut muka ibu memuram. Wajah menunduk.

“Bagaimanapun juga kamu tetap anakku. Kasihan sekali engkau nak..nak….”.

Ibu lah yang selalu merasa terenyuh setiap kali orang memaki polisi. Ibu pantas merasa kasihan. Seorang anaknya, Superhatin, menjadi Brimob. Penghasilan pas-pasan dan banyak hutang. Hidup nomadi layaknya kanguru, meloncat-loncat menghindar dari seringai tasmanian devil. Pengorbanan? Mas Hatin, hancur rahang bawahnya tertembak oleh gerombolan Fretilin, dulu tahun 76, ketika ditugaskan di Timtim. Lebaran tak tentu punya waktu untuk pulang.. Dinas, mengatur kemacetan, mengawal kapal Merak-Bakauheni atau sekedar jaga piket di tangsi. Namun menurutku itu lebih karena malu tak bisa membawa hadiah lebaran buat aku, adiknya

Aku merasa bersalah pada ibu, setiap kali aku memaki para polisi itu. Kasihan pada ibu. Tapi darah mudaku selalu mendidih. Aku benci ABRI ikut berbisnis. Lihatlah korupsi merajalela. Profit dihitung dari hitungan bintang di pundak dan hentakan sepatu lars. Coba lihat si Brigjen Kutukupret membuka cucian mobil yang kelima, menyudat beras impor India di pelabuhan, membangun armada Bus Cepat Kunti Express jurusan Banjar – Semarang. Aku benci ABRI berpolitik. Negara ini dikuasai para Ken Arok yang bebicara dengan keris, Ken Norton yang berbicara dengan kepalan tinju atau kenek yang berbicara dengan recerhan. Mereka para yasa, penuh kesewenangan

Aku merasa bersalah pada ibu, setiap kali orang memaki polisi. Kasihan mas Hatin. Lantas aku ikut membantu membuat tobong genteng untuknya. Potongan contoh genteng kini menjadi teman setianya setelah pistol dipinggangnya. Tobong mulai mengepulkan asap dapur bagi keluarga mas Hatin dengan dua anaknya. Ia menjadi bos bagi 3 kuli. Orang-orang tidak membencinya, buktinya pesanan genteng selalu datang seperti lemper goreng.

Aku sering bertanya pada mas Hatin, mengapa kok polisi itu brutal. Jawabannya selalu sama

“Demo sih boleh saja, tapi kalau sudah ngrusak dan main lempar kan ndak bener itu.”

Ah betapa lugunya. Orang-orang seperti kakakku ini memang kelihatannya tak punya jawaban lain. Mereka adalah sejenis ‘cybernatic organism’, separo robot separo manusia. Berhadapan dengan pak Kapten ia adalah robot, ketika dirumah menjelma menjadi manusia.

***

Pak Kapten berkata hari ini tugasku menghalau pengacau.Tameng dan pentungan telah disiapkan. Beberapa gas airmata disiapkan. Baju anti batu Jenghis Khan telah kukenakan. Ini bukan tugas biasa. Setahun yang lalu aku di bagian reserse, yang juga berbekal pistol. Memburu-buru para bajing loncat dan pencoleng. Kini musuhku adalah para pengacau. Aku hanya bisa berkata “Siap Kapten!”.

Dada dibusungkan, tulang rusuk bertonjolan terangkat. Satu-satunya postur yang bisa kubanggakan

Yang ini akan kuhadapi hari ini bukan penjahat. Tapi mereka pengacau negara, demikian kata pak Kapten.

“Tugas kalian adalah menghalau pengacau. Kalau kalian dilempar batu dan molotov, maka itu berarti pihak ketiga, sang pengacau. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan.”

“Siap Kapten”.

Tadi pagi Suti, istriku menyiapkan sarapan pagi agak banyak kali ini.

“Daripada kelaparan, pulangnya kan malem, itupun kalau bisa ngaso” katanya.

Aku makan banyak. Tak mau ambil resiko, mungkin ada nanti nasi bungkus.. Tapi ah ini bukan jaman Panglima Besar Soedirman, disepanjang jalan penududuk menyediakan kendi, pisang malah kadang nasi. Para pendemo itu bisa bertahan seharian. Artinya tak ada makan siang bagiku.

***

“Untung aku dulu tak masuk polisi” gumanku sadar dari lamunan.

Aku lebih memilih jadi Insinyur. Mulanya banyak keluarga yang menyayangkan. Polisi adalah kebanggan. Bukan hanya bagi keluarga tapi juga bagi seluruh warga kampung. Namun aku memang tidak suka menjadi polisi. Menjadi polisi adalah memenjarakan diri sendiri. Harus apel tiap pagi. Lagipula aku benci warna cokelat

Di satu sisi kebencianku memuncak kepada para polisi itu. Ingin aku balas pukulan-pukulan mereka di mukaku sewaktu demo SDSB di Bogor dulu. Tapi mereka kakakku sendiri. Orang yang pertama kali mengajakku nonton bioskop. Tentu saja gratis. Hiburan buat adiknya yang datang berkunjung. Kakakku yang mengajak jalan-jalan seputar kota, mengajariku cara mangutak-atik ramalan rahasia angka gunung lawu, mengharap keberuntungan si dewa Porkas.

Mereka yang berbekal tameng dan pentungan adalah mereka seperti mas Hatin berpangkat pratu. Pangkat rendah, karena masih dipasang di lengan. Adakah anak pengusaha, adakah anak jendral, adakah anak eselon yang anaknya pratu? Ah.. pasti mereka adalah juga mas Hatin, yang menjadi kebanggaan orangtuanya dan adik-adiknya. Ditunggu-tunggu istri dan anaknya

Ibu menangis sedih ketika mas Hatin ikut memukuli para mahasiswa itu, teman-temanku. Menangis pula melihat anaknya dilempar batu, molotov. Tak mengerti mengapa mereka begitu tega. Ibu mendengar para sopir mengumpat para Polantas si jalan yang menghadang mobil lewat dan meminta “sumbangan”. Ibu mungkin melihat aku di siaran TV hitam putih bertenaga aki, berteriak “Anjing buduk!” kepada jajaran itu. Tapi kakakku bukan anjing, ia cyborg.

“Kepiye-piye, iku yo anakku dhewe..”.

Troy, September 29, 1999
Pungkas B. Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: