Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Mengisolasi Diri

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Setelah melalui antrean panjang hampir se-jam di Jalan Ciputat Raya, akhirnya bus menembus kompleks perumahan Pondok Indah. Tidak ada yang aneh sebenarnya; suasana perjalananan sama; jalan macet dan bau knalpot (tentu saja maksudnya asap knalpot). Banyak pedagang asongan di pinggir jalan, ada bakso, es krim, ketoprak, warteg, bajaj dan lain-lain.

Yang sangat berbeda adalah munculnya rumah-rumah megah di kiri jalan (saya tak bisa lihat sebelah kanan jalan karena tertutup gorden bus). Rumah-rumah tersebut mirip pesanggrahan dewa-dewi di atas kayangan. Bagus, besar, indah, cocok dengan namanya.

Yang saya rasakan rumah-rumah ini memang didesain sebagai istana (baiti janati) bagi para penghuninya. Mereka menentramkan dengan mengisolasi penghuninya dari dari kisruh politik dan demo jalanan, dari kemacetan, hiruk pikuk kota dan kejahatan. Mungkin dalam situasi sekarang ini memang jalan terbaik adalah mengisolasi diri dari keseharian kota. Istana di Forbidden City di Cina, misalnya, di khususkan untuk keluarga kaisar. Orang luar dilarang masuk karena dianggap mengganggu ketentraman keluarga. Dengan berbagai taman dan fasilitasnya, istana dibuat berbeda serta terisolasi dari sekelilingnya. Tak lain agar penghuni istana dapat beristirahat dengan tenang, berkosentrasi dalam urusan kenegaraan dan lain-lain.

Suatu ketika sebuah mobil volvo hitam keluar dari halaman sebuah rumah. Ini menarik perhatian saya, karena mobil ini segera mencebur dalam gelombang kesemrawutan lalu lintas. Ah sayang sekali, saya pikir, mengapa harus ikut berdesak-desakan di jalan, antri dan ikut main serobot ditengah kemacetan. Mengapa pula sebuah Volvo harus ikut beradu dengan bajaj dan ojeg? Tapi yang mau bagaimana lagi: malang tak dapat ditolak.

Sang penghuni Volvo tentunya berusaha membuat nyaman perjalanan. Dan cara terbaik – sekali lagi – adalah dengan mengisolasi diri dalam Volvo hitam tersebut. Tutup kaca rapat-rapat, hidupkan AC. Pasang parfume, udarapun jadi semerbak. Untuk menghindari ‘kelembutan’ matahari, kaca warna gelap. Musik klasik dihidupkan, mengurangi ‘rintihan’ mesin dan ‘dentingan’ klakson jalanan.

Isolasi fisik mungkin penting untuk menjaga jasmani dan pikiran supaya bersih . Sayangnya isolasi seperti sulit dilakukan, karena satu alasan: ketiadaan ‘si moni’ alias uang. Untuk memiliki rumah terisolir di Pondok Indah perlu ‘si moni’, untuk mengendarai volvo hitam berkaca hitan dan AC perlu ‘mbak moni’, untuk menikmati kesegaran daun hijau dan bebungaan juga pakai apalagai kalau bukan ‘tante moni’.

Nah apakah ada cara lain yang lebih universal, untuk membentengi dan mengisolasi diri dari kebrengsekan lingkungan? Apakah bisa hidup dalam ketenangan tanpa harus berebut ‘mojang moni’?

Menurut seorang sufi satu milenium yang lalu: ada! Katanya, segala organ dan reseptor fisik ini sebenarnya dikendalikan oleh sebuah sentral pengaturan dalam diri kita. Jadi kebisingan, kepanasan, kepengapan, kebrengsekan dan kegaduhan dari luar bisa diisolir dengan mengendalikan pusat pengendalian tadi. Yaitu diprogram untuk merespon ‘noise’ dari luar secara bijak. Alhasil kebrengsekan lingkungan bisa bisa di isolasi tanpa istana, volvo dan ‘si moni’. Yang perlu disolasi adalah adalah pusat pengendalian tadi. Pusat pengendalian inilah yang dinamakan hati. Demikian sang sufi.

15 Nopember 2000
Pungkas Bahjuri Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: