Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Merah Hijau dalam Matrix

Posted by pungkasali on April 14, 2008

“Ingin tahukah kamu siapa the Matrix itu?” Morpheus lalu mengajak Thomas Anderson alias Neo ke sebuah ruangan. Dua pasang kursi besar dan sebuah meja kecil yang hanya berisi air dalam sebuah gelas tinggi.

Neo seperti kebanyakan orang. Yang dengan nafsu makan dan kantuk serta kelelahan. Berpenghidupan sebagai seorang programer di perusahaan bonafid. Sisi lain dalam hidupnya dihabiskan di depan dua komputer di dalam kamarnya, sebagai hacker atau pelaku transaksi-transaksi gelap. Dua sisi seorang manusia, wajar. Namun ia memiliki kelebihan. Dia menerima sinyal-sinyal misterius di layar monitornya.

“Sebenarnya engkau sekarang bermimpi. Tapi bagaimakah kamu sadar kalau kamu bermimpi kalau kamu tidak bangun dari tidur?” Morpheus meyakinkan Neo.

Morpheus ini bagaikan Gazali, yang mengingatkan seribu tahun yang lalu. Hidup ini adalah mimpi panjang. Semua seperti “real”, walaupun sebenarnya hanya mimpi. Namun hanya sedikit yang sadar, seperti Neo ini. Mereka tak menerima sinyal-sinyal misterius. Sinyal itu tidak akan sampai kepada para supir taksi, atau penyanyi tenar, atau siapapun yang memang tak duduk dan menanti sinyal didepan layar monitor. Sinyal-sinyal itu hanya datang bila ada keraguan dan tanda tanya besar. Sinyal yang hanya datang jika anda seorang hacker, yang ingin tahu kehidupan lain, dan bosan pada hidup yang tua ini.

“Do you believe in fate, Neo?”
“No.”
“Why?”
“Because I don’t like the idea that I am not in control of my life.”

Setidaknya orang-orang seperti Neo ini, mengerti akan keadaan dirinya.Sebuah kesadaran menuju perbaikan.

Bumi telah tua. Awan gelap telah menutupi sebagian besar diantaranya. Dalam pandangan orang-orang yang dikuasai The Matrix, bumi sungguh mempesona. Orang lalu lalang sore menjelang tutup kantor. Gadis cantik berbaju merah, penjaja, hiburan, alkohol, music. Namun semua itu hanya hidup dalam otak-otak yang telah di bajak oleh the Matrix.

Matrix seperti kekuatan jahat yang menyelimuti manusia. Menyulap dunia yang tua renta. Meluluri hamparan dengan kosmetik penutup kerut, untuk dinikmati. Orang yang bisa menikmati tak lain adalah sebuah baterai 2.5 volt. Baterai persembahan bagi sang Artificial Intelligent: the Matrix. Ini dunia imbal balik. Matrik mendapat bahan bakar, sedangkan manusia mendapat kesenangan. Hingga saatnya daya melemah dan habis. Habisnya kesenangan semu itu juga.

Matrik bisa dinikmati sebagai gambaran dunia-akherat. Dunia ini memang telah tua, seperti nenek tua renta keriput yang pandai bersolek. Alam semesta mengembang. Sinar bintang dan galaksi yang kita nikmati, adalah sisa-sias cahaya trilyunan tahun yang lalu. Mereka mungkin sekarang telah menjadi black hole, yang meninggalkan bumi sendirian dalam cahaya masa lalu. Kita ditengah fosil-fosil cahaya bintang, cluster dan galaksi.

Begitulah. Matrix tahu akan hal ini. Orang-orang hedonis tak mau hidup ditengah alam yang renta. Maka ditawarilah mereka dengan menanamkan kenikmatan duniawi dalam angan dan otak mereka, asalkan mereka besedia menjadi sebuah baterai yang menghidupi Matrix.

Morpheus, sang kapten pesawat “Nebuchadnezar” bersama beberapa kru-nya: Chyper, Trinity Tank, Apoc, Mouse, Switch dan Dozer dari negeri Zion. Dunia yang masih bisa menikmati matahari. Sekelompok manusia yang mampu membebaskan diri dari cengkeraman imajinasi ciptaan Matrix. Mereka hidup di alam kenyataan. Lebih baik makan semangkuk gandum putih tapi nyata daripada steak hanya dalam angan-angan.

“Udara yang kamu hirup itu tidak real” ajaran Morphus ketika berlatih kungfu dengan Neo, dalam dunia virtual reality.

Neo adalah “the One” yang telah diberitakan oleh Oracle, akan mampu membebaskan manusia dari cengkeraman Matrik dan kejahatan para Agents, tentara Matrix. Membebaskan manusia dari alam maya. Manusia yang hanya pergi ke mesjid, ke gereja dalam imaginasi mereka saja. Esensinya telah direbut the Matrix sebagai baterai.

Jika memilih Zion minumlah pil merah, jika ingin hidup dalam Matrix yang hijau. Demikianlah pilihan yang dihadapi the One ketika akan bergabung dalam Nebucadnezar. Tekad telah bulat “Andaikan matahari diletakkan di atas tangan kananku dan bulan di atas tangan kiriku, aku tiada akan berhenti dari usaha mulia ini. Biarlah aku mati atau kemenangan akan datang kepadaku.” Sebuah pilihan yang tak bisa diulang

Seperti halnya Chyper, kru dari Nebucadnezar, seorang munafik yang tak puas pada alam kesadaran. Ingin kembali mengulangi kehidupan dalam alam maya, karena dijanjikan seseorang yang terkenal, “you know, like an actor” begitu bargain-nya dengan para Agent Smith. Banyak sekali orang-orang sperti Chyper ini. Berapa banyakkah orang yang masuk ke akherat, menyesal karena yang ada hanya siksaan pedih baginya dan ingin kembali di reinkarnasi ke dunia agar mampu memperbaiki hidupnya. Usaha yang sia-sia. Chyper mati diberondong peluru yang berhambur dari senapan di tangan Tank.

Wallahualam
Pungkas B. Ali
Troy, July 23 ’99
inspirasi : film MATRIX

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: