Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Pengampunan di Musim Panas 2

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Bagian 2. Pembebasan

Peristiwa berikutnya adalah salah satu tonggak dalam sejarah yang tidak gampang mencari bandingannya. Setelah dikepung selama 2 minggu, tembok kota runtuh. Balian tahu, mereka tak mungkin lagi melawan. Jerusalem pun menyerah. Tentara Islam memasuki Jerusalem tanpa perlawanan, melalui sebelah utara kota, dimana sebuah salib besar dipancangkan oleh agresor seabad yang lalu, ketika mereka memasuki Jerusalem.
Dengan kebiasaan hukum perang waktu itu, sebenarnya Salahuddin berhak memasuki kota dengan status menaklukkan, bukan penyerahan. Tak terkirakan besarnya keuntungan politik yang akan diraih Salahuddin apabila ia memasuki kota dengan kekuatan dan penghancuran. Karena dengan demikian ia dan tentaranya berhak atas seluruh penduduk kota dan harta kekayaannya.

Tapi menaklukan tidak berarti membunuh dan menjarah. Perang ini dilakukan atas nama agama, karenya iapun harus membawa nilai kedamaian yang diajarkan. Ia menerima kekalahan musuhnya dengan status menyerah. Apa ini artinya? Ia tak punya hak menguasai harta, selain dengan apa yang telah tertuang dalam perjanjian. Kekayaan kota yang ratusan ribu dinar pun harus melayang.

Musuh diberi kesempatan 40 hari untuk meninggalkan kota dengan segala harta bendanya setelah membayar uang tebusan, laki-laki 10 dinar, wanita 5 dinar dan anak-anak 1 dinar. Gadis-gadis yang telah bercukur pun bebas meninggalkan kota tanpa diganggu, bahkan dikawal sampai tempat tujuan. Orang-orang kaya dipersilakan membawa hartanya masing-masing. Mereka yang miskin dibebaskan tanpa bayaran. Yang ingin tinggal tidak ada halangan, walaupun beda kepercayaan. Tak heranlah jika Kristen Ortodok dan golongan Jahudi menyambut penaklukan Jerusallem kali ini dengan suka cita.

Patut kita kenang sebuah fenomena unik di jaman kegelapan ini. Unik karena di tengah kultur abad pertengahan, yang seperti ini tidaklah wajar. Unik karena dicatat dengan manis dalam sejarah tidak saja oleh sejarawan Islam, tapi sejarah Eropa dan Kristiani. Betapa besar pengampunan dan kedermawanan Salahudin kepada kawan sendiri maupun lawan, kepada rakyat maupun penguasanya. Ketika setelah 40 hari lewat, ternyata masih banyak yang belum bisa membayar tebusan, maka dibebaskanlah puluhan ribu mereka yang mampu. Siapa lagi yang akan membebaskan mereka yang tak berdaya selain dari penguasa?

Sungguh berlawanan sekali dengan sifat para agressor dan penguasa lama yang hanya mengurusi hartanya sendiri bahkan menindas bangsanya sendiri. Ketika tiba saat yang genting, yang terpikir adalah harta sendiri. Wajar, tapi tak benar. Heraclius, misalnya, sebagai pemimpin gereja Jerusalem, mengungsi setelah membayar tebusan 15 dinar untuk diri dan istrinya. Ia penuhi keretanya dengan emas, perak dan segala harta bendanya, termasuk apa yang diambilnya dari gereja Al-Qiyama. Semantara itu kaum papa yang tak mampu membayar, ditinggal di belakangnya dalam kebingungan.

Melihat tingkah Heraclius ini para panglimanya meminta Salahuddin untuk bertindak. Namun Salahuddin hanya berkomentar: “Aku lebih senang melihat mereka mematuhi perjanjian, sehingga mereka tidak menuduh Muslim melanggar janjinya, tetapi akan memberitahukan kepada yang lain akan kehormatan kita.”

Penaklukan seringkali yang diiringi dengan tragedi. Tetapi penaklukan Jerusalem 2 Oktober 1187 (bertepatan dengan tanggal 27 Rajab) oleh Salahudin adalah pembebasan dan pengampunan kepada musuh-musuhnya. Sebuah barang langka baik di masa abad kegelapan maupun jaman sekarang. Siapa yang begitu bermurah hati mengampuni musuh yang telah menghancurkan, mengusir dan membunuhi puluhan ribu rakyat tak berdosa. Siapa yang akan membiarkan musuh mengungsi membawa ratusan ribu dinar di depan hidung kita? Siapa yang mempunyai rasa ma’af melebihi nafsu amarahnya?

Salahudin hanya ingin masuk ke Jerusalem mengikuti ajaran pembawa Islam SAW yang juga memasuki kota suci ini dalam Isra’ Mi’raj-nya ratusan tahun sebelumnya. Mereka yang memasuki Jerusalem dengan pengampunan akan dicatat dengan tinta emas dan mereka yang welas asih akan dido’akan.
Sebenarnya masih banyak lagi catatan indah Salahuddin. Namun rasanya cukuplah dulu kali ini, karena seandainya sikap seperti itu hidup di jaman kini, cukuplah bumi ini damai dibuatnya.

Troy NY, May 13, 2000
pungkas ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: