Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Pengampunan di Musim Panas I

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Bagian 1. Memasuki gerbang Kota

Suatu siang di musim panas, 2 Oktober 1187 M, Kota Jerusalem telah dikepung dari segenap penjuru kota. Segala sisi kota telah dipenuhi oleh 10.000 tentara. Tidak ada satupun celah yang bisa dipakai meloloskan diri dari kepungan ini. Tembok benteng kota yang tinggi menjulang merupakan halangan tak tertembus oleh penduduk untuk lolos dari kepungan. Sementara di luar pintu-pintu gerbang pun telah terkepung rapat. Beberapa Mangonel(pelontar batu-batu besar dan tombak yang ditujukan untuk menghancurkan barikade dan tembok benteng) telah berjajar menghadap tembok kota. Dinding benteng sebelah utara perlahan berderak roboh oleh panasnya api yang disulut pasukan khusus. Dengan sekali teriakan tentara padang pasir itu pasti akan menyerbu dengan gegap gempita.
Apa yang dirasakan 60.000 penduduk dalam kota Jerusallem? Mereka dalam ketakutan yang luar biasa. Mereka tidak mempunyai tentara. Yang ada hanya wanita dan anak-anak yang jumlahnya 50 kali lipat kaum pria, itupun hanya beberapa yang pernah memegang senjata. Perlawanan hanya dipimpin oleh seorang bernama Balian of Ibelin, yang dengan 500 ksatria lainnya pun tak bisa mengalahkan musuh di lembah Hattin. Dapatkah kota ini dipertahankan?

Saat ini adalah abad pertengahan. Abad kegelapan Eropa. Peperangan dan perebutan kekuasaan ada di mana-mana. Setiap perbuatan, dari perang sampai perkawinan adalah manuver bagi kekuasaan. Sesuatu yang diwariskan kepada kita hingga sekarang. Yang menang merampas, membunuh dan menghancurkan dengan terang-terangan atau berkedok. Yang kalah dijual, dibunuh atau dihancurkan.

“Mari kesini anak-anakku,” Ditengah ketakutan itu, para wanita di Jerusallem segera memanggil anak-anak gadis mereka.

Lalu diambillah oleh mereka gunting dan dicukurnya rambut gadis-gadis itu, pendek atau gundul. Baju laki-laki dikenakan dan badan dibalut dengan lumpur dan kotoran. Mudah-mudahan mereka tidak menarik perhatian para tentara.

Bayangan kengerian hadir dipelupuk mata. Balas dendam apa yang akan mereka terima? Terbayang bagaimana seabad lalu mereka datang dari Eropa dan menaklukan kota setelah membantai puluhan ribu tentara, penduduk dan anak-anak. Memperkosa gadis-gadis dan merampas semua harta. Mengusir siapa yang berbeda asal atau berbeda agama.

“Kill one, you are a murderer, kill a million, conquerer,” demikian sebuah pepatah moderen mengatakan.

Namun tidak demikian perasaan 5.000 tawanan muslim dan ribuan Yahudi dalam kota. Demikian pula halnya dengan ribuan Kristen Ortodok Timur. Mereka justru menyambut kepungan dengan suka cita karena selama ini mereka selalu menderita dan disingkirkan dari gereja-gereja oleh oleh penguasa Kristen Latin yang disebut kaum Frank. Mereka tahu ini para pengepung adalah tentara akan membuka gerbang kebebasan. Mereka tahu itu, karena yang mengepung tak lain dari pasukan Syria di bawah komando Salahuddin bin Jusuf, pahlawan Perang Hattin, pemersatu tentara Islam di kawasan Syria dan Mesir.

Seorang pemimpin welas asih yang jujur dan bisa dipegang keadilan dan kata-katanya. Atas kemurahan hatinyalah pula Balian of Ibelin diijinkan menembus barikade dan masuk ke Jerusallem untuk mengungsikan keluarganya.

“Engkau hanya akan berada di Jerusalem selama satu malam dan Engkau tidak akan mengangkat senjata melawan kami”, demikian syarat yang diajukan Salahuddin.

Akan tetapi ketika di Jerusallem, dia justru didaulat untuk memimpin pasukan, karena hanya dialah pemimpin sisa perang Hatin yang ada. Balian menjadi bimbang. Bagaimana sumpahnya kepada Salahuddin? Namun ia tahu, pimpinan macam apa Salahuddin itu. Dikemukananlah dilemanya kepada Salahudin, musuhnya. Bagi Salahuddin ini adalah peperangan yang berdasar keyakinan. Masing-masing pihak berperang dengan semangat roh agamanya masing-masing. Maka dengan kemurahannya sekali lagi, ia bebaskan Balian dari sumpahnya. Malah ia ungsikan Quen Maria, istri Balian, dan Thomas anaknya dari Jerusallem dengan terlebih dahulu mengundang mereka makan di tenda lalu diberi berbagai hadiah dan diantarkan hingga kota Tripoli.

bersambung ke bagian 2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: