Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Perjalanan Si Tukang Batu

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Alkisah, di sebuah dusun yang tandus hiduplah seorang tukang batu. Pekerjaannya memecah dan memahat bukit batu cadas.Hanya itu pula keahliannya. Batu yang terkumpul kemudian dijual dan hasilnya untuk hidup sehari-hari. Itupun hanya cukup untuk beli sekotak obat nyamuk bakar merek singkong (Baygon yang lebih murah keburu habis diborong seorang ibu dangn tas besarnya di Baturaja Palembang). Pekerjaan besar dengan hasil minim ini telah dijalani bertahun-tahun.

Pada suatu hari, di saat memecah batu-batu sebagai biasa, matahari bersinar sangat terik dan tidak terhalang segumpal awanpun. Udara menjadi sangat panas, membuat si tukang batu terasa terpanggang.
Sambil mengeluh, dia berpikir, ” Alangkah hebatnya sang matahari. Sinarnya sangat kuat dan membuat bumi panas luar biasa. Alangkah kuatnya seandainya aku menjadi matahari”.

Lalu diapun memohon kepada dewa, “Ya dewata, aku selalu hidup susah. Tunjukkanlah kekuasaanmu dan keadilanmu, jadikanlah aku kuat seperti matahari”.

Ajaib bin mujarab, terdengarlah gema “Ku kabulkan permintaanmu hai tukang batu..u..u…u… Mulai saat ini, jika ada makhluk mampu mengalahkanmu, maka engkau kan berubah makhluk itu..u..u..u…(echo)”.

Sesaat kemudian tukang batu telah berubah mejadi matahari.

Begitulah. Dengan kekuatannya sang matahari berkelana. Sinarnya dipancarkannya kuat-kuat ke setiap daerah yang di laluinya, menjadikan kering-kerontang dan panas menyengat. Lahan subur menjadi gurun tandus. Indonesia-pun packelik, membuat tiwul menjadi primadona mengalahkan Itje si Duh Engkang. Kebakaran hutan serta asap di mana-mana, tiada yang meghalanginya. Siapa yang bisa mengalahkan pancaran sinarnya?

Pada suatu hari, iringan awan bergumpal-gumpal tiba-tiba menutupinya, membuat daerah di bawahnya teduh dan kemudian turun menjadi hujan.Begitulah berhari-hari ia selalu ditutupi awan yang lalu mencurahkan hujan. Tanah yang tandus pun segera menjadi subur kembali. Sang matahari tersadar. Ternyata awan lebih kuat.

Belum selesai berpikir : “Blaaaaaaaar……”
Ia berubah menjadi awan.

Benar, tenyata awan lebih kuat. Diturunkanlah hujan yang lebat, bisa berhari-hari. Lahan yang tandus menjadi tergenang. Di mana-mana air melimpah, dari Cikini, Kalibata sampai Surabaya, Palembang dan California, semuanya banjir. Jangankan Menteri KLH, MPRpun “loyo also lewer”. Demikianlah ia merasa kuat, hingga pada suatu hari angin yang kencang memaksanya pergi dari daerah incarannya untuk dijadikan banjir. Sang awan pun menggerutu. Ternyata, angin lebih kuat dari aku, pikirnya.

Segaralah: “Wusssssssss….”
Ia telah menjadi angin.

Brrrrrrr, ia mulai menunjukkan aksinya. Jika sedang benci kepada matahari, maka ditiupnya awan agar
menutupi matahari. Sebaliknya bila sedang benci kepada awan dan hujan, ditiupnya awan hingga hujan tidak jatuh pada daerah yang membutuhkannya. Tiada banjir. Guruh, Guntur dan Mega yang tak tergelepar oleh kekuatnnya. Tidak hanya itu, ditiupnya dirinya keras-keras, menjadi tornado. Suara menggemuruh, mengalahkan gema takbir Allahuakbar. Dollar pun beterbangan.Ekonomi morat-marit. Virginia beach mabur-mabur, San Fransisco luntur. Karenanyalah pula ticket “Twister” seharga 5 dollar jadi rebutan.

Hingga pada suatu hari, dilihatnya gunung batu yang tinggi menjulang. Merasa kuat, diitiupnya dirinya
keras-keras untuk menghancurkan gunung tersebut. Apa lacur, makhluk yang satu ini tak bergeming dan begitu kokoh. Belum pernah dia menemui benda sekuat ini.

Tak diragukan lagi: bagaikan sulap ia beruba menjadi gunung batu yang kokoh dan tinggi. Begitu tingginya ia, hingga satu-satunya yang mampu mencapai puncaknya hanyalah pendaki yang bernama: Sir Rupiah dan sherpa-nya Fischer. Ia benar-benar merasa kuat sekarang. Matahari, hujan, angin tiada mampu mengusiknya sedikitpun. Inilah aku sekarang, pikirnya, betapa kuatnya aku.

Hingga, suatu siang, seseorang tukang batu, datang membawa palu, dan mulai memukul-mukulkannya ke dinding gunung. Begitulah tiap hari, lalu temen-temennya mengikutinya. semakin lama, semakin banyak batu yang
terkumpul. “tok, tok, tok” irama palu memecah batu. Gunung batu tegar kesakitan dan tak utuh lagi. Betapa kuatnya makhluk-makhluk kecil ini.

“Slap…..”
Maka menjelmalah ia menjadi tukang batu seperti semula. Ia termakan sumpahnya….

* * * * * * * *
“Janganlah kamu semua mengharap-harapkan sesuatu yang telah dilebihkan oleh Allah kepada sebahagianmu atas sebahagian yang lain” (QS Annisa: 32)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: