Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Pesan Jehanne kepada Pierre Cauchon

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Dialah Jehanne. Lebih di kenal sebagai Joan of Arc. Hanyalah seorang gadis dusun yang buta huruf – mana hal yang kemudian menjadi tertawaan para jaksa penuntut di pengadilan di Rounne. Bagaimana seorang yang buta huruf mampu memimpin ribuan pasukan Perancis dan lalu mengatas namakan dirinya sebagai pembawa pesan Tuhan di Surga?

Munculnya “The Maid of Orleans” ini adalah sebuah jeweran keras kepada para penguasa dan pemuka gereja Inggris abad pertengahan. Pada saat agama dicatut untuk mengungkungi keserakahan dan kekuasaan, dijadikan perisai kehidupan kerajaan. Raja-raja dan bangsawan yang haus akan tanah-tanah subur, silau oleh gemerlap emas dan tentunya pangkat dan gelar-gelar bangsawan yang memberikan hak berburu kijang di hutan-hutan. Di sisi lain jeweran keras Jehanne juga ditujukan kepada para penguasa gereja yang bukan hanya mempunyai kekuasaan menentukan pahala dan mengampuni dosa, tapi juga mendukung penjajahan dan pembebanan pajak luar biasa.

Jehanne adalah putri ketiga dari sebuah keluarga petani di Domremy, sebuah desa di wilayah tengah-utara Perancis. Domremy dan wilayah Perancis lainnya masa itu di bawah cengkeraman oleh kuku Inggris. Suatu saat keluarga dan desanya di obrak-obrak oleh pasukan Inggris. Ini meninggalkan kesan yang mendalam yang terus di bawanya hingga umur 17 tahun ketika ia mengklaim mulai mendengar suara-suara dan petunjuk-pentunjuk langit dari St Michael, St. Catherine dan St. Margareth. Suara-suara itu memerintahkannya membebaskan negerinya dari tindasan Inggris.

Lalu dengan semangat menjalankan perintah Tuhan, ia maju memimpin tentara Perancis mengusir Inggris dari wilayah Orleans dan mengantarkan Charles VII mengenakan mahkota raja Perancis di kota Reims 17 Juli 1429. Padahal ia hanya seorang gadis berusia 17 tahun, memimpin pasukan dan mempermalukan balantara Inggris. Namun kebebasannya tak bertahan lama, 2 tahun kemudian ia di tangkap oleh segolongan dari bangsanya sendiri dan di jual seharga 10.000 pound ke pemerintah Inggris, hanya untuk di adili. Sementara Charles yang telah menjadi raja Perancis tak peduli dengannya lagi.

Di katakannya bahwa ia adalah seorang mesenger yang membawa nama God of Heaven. Lawannya tak lain adalah Inggris, yang bersembunyi di balik jubah-jubah pendeta Katolik. Apakah ini sebuah perlawanan terhadap penjajahan ataukah terhadap para penguasa Katholik, agama yang juga turun kepada Jesus, yang telah mengilhami perlawanannya? Mungkin dua-duanya. Perlawanan kepada kolonialisme namun berlindung dalam simbol-simbol agama. Sehingga apapun bisa menjadi legitimate asalkan sudah distempel penguasa gereja. Juga sebuah perlawanan pada para penguasa gereja, yang tak lagi menghiraukan ummatnya, kalau bukan yang sebangsa, yang lebih mementingkan apa kata raja daripada ummat..

Entah itu suara dari langit atau trauma dimasa kecil, telah membuat Jehanne sebagai gadis yang sangat teguh dalam keyakinan. Suatu keyakian yang akan dipertahankan hingga api-api melalap tubuhnya di hadapan jaksa, penguasa dan ratusan penonton yang bersorak-sorai. Lalapan api di hadapan Pierre Cauchon, kepala gereja sekaligus hakim persidangan yang penuh persengkokolan dan ketidakadilan. Ketika pengadilan tak mampu membuktikan kesalahan Jehanne dalam mengotori agama (heresy), maka para penjaga penjara memaksanya mengenakan pakaian pria – sebuah pantangan yang mampu membawa pelakunya ke atas api hukuman. Bukti ketidakberdayaan dan kelemahan iman seorang pendeta besar, ketika hatinya telah terbuai oleh pahatan nama, gelar dan kekayaan. Yang tak mampu merayu keyakinan seorang perawan 19 tahun yang tak bisa baca tulis. Keyakinan itu telah mengkristal di dalam hati, bukan apa yang terbaca dan yang tertulis.

Ini adalah sebuah kisah sejarah yang mengingatkan manusia di jaman apapun, bahwa kekuasaan bisa membakar apa saja, bisa menghanguskan hati tokoh agama, bisa memberangus siapa yang berani bicara kebenaran juga bisa menukar kemanusiaan dengan uang 10.000 poundsterling malah kurang dari itu. Seperti halnya Jehanne, walaupun ia dikhianati oleh Charles VII dan diperlakukan tidak adil oleh tokoh agama dan raja Inggris, namun keyakinan dan keadilan tetap akan terungkap walau beratus-ratus tahun kemudian, mengharumkan nama siapa yang membawanya. Sebagaimana ketidakadilan pun akan terungkap dan menempatkan pelakunya ke dalam lembaran hitam sejarah.

Karena itu selalulah berlaku adil. Ingatlah pesan Jehanne kepada Pierre Cauchon “Treat me fairly or you will risk the perils of eternal damnation”

Troy, Jan 18 2000
Pungkas B. Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: