Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Satu di Antara Seribu

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Lagi-lagi aku di perpustakaan kampus. Aku tulis ketika mulai bintang-bintang berkeliling dan burung-burung mulai mengepakkan sayapnya memutari kepalaku; setelah sekian lama mempelajari rumus-rumus dan aplikasi ramalan garis lurus (linear regresi).

Tadinya asyik membaca simbol-simbol myu, xbar dan lambang lainnya yang tak bisa kutuiliskan disini. Ketika memasuki lembar-lembar ke sepuluh tiba angka-angka itu bangkit dari kuburnya, beterbangan angka satu menjadi emprit, tujuh jadi garuda, angka pecahan menjadi burung unta… dan tanda-tanda baca menjadi bintang-gemintang. Berdenyut-denyut kepala ini jadinya.

Layar depan adalah beberapa meja berdinding khas perpustakaan, tempat orang membaca buku atau sekedar tidur. Sementara layar belakang, dua buah rak besar jajaran buku-buku tebal, menyisakan lorong-lorong panjang. Demikian pula di kiri-kanan dan belakang. Semuanya berisi buku sekelas Einstein hingga kelas Petruk-Gareng dan Wiro Sableng.. Buku, jurnal dan majalah warna-warni yang kutu buku pun enggan (pahit katanya makan tinta berwarna).. Yang tipis bak surat cinta ada; tebal bagai kerak nasi banyak. Lantai bawah hingga langit-langit. Sampulnya berupa-rupa gambar dan beraneka warni bagaikan gaun pramusaji restoran Meksiko.

Sungguh aku sangat tertarik dengan buku-buku itu. Ketika tampak sebuah judul : the Rise of Radicalism, rasanya ingin kupuasi pertanyyaan bagaimana bisa muncul Komunis, Ku Klux Clan, atau Haur Koneng. Ketika nampak photo unta di tengah tundra, di majalah National Geograpic, rasanya ingin mengikuti jejaknya menyusuri jakan sutra yang membebat Badgad hingga Peking, menenteng kamera dan bara api penghangat badan seperti yang dilakukan orang-orang Mongolia.
Jurnal-jurnal magemement bagaikan mesin uang dan cetakan-cetakan baja yang melambai-lambai dan menjadikannku sebagai aktor terkenal (lho apa hubungannya). lalu buku-buku yang lain sungguhlah menarik perhatian. Ah akan kubaca mereka semua, pikirku.

Ah tapi sayangnya buku regressi ini sungguh tak bersahabat. Sulit dibaca, apalagi dimengerti, mana tidak ada gambarnya lagi. (buku kok isinya angka mulu, makanya anak-anak yang tak suka matematik). Hhhhhhhhh. Baru 10 lembar kubaca. Sisanya jauh lebih banyak. Sementara waktuku terbatas. Besok pagi ada ujian, nanti malemnya ada jadwal nonton jagoan kungfu Blackie Chan dan sorenya main softball.

Wah mana ada waktu untuk menyusuri Sungai Yang Tse atau mengintip ke-bahenol-an penguin di pulau Galapagos (hayooo tebakan ada nggak penguin di sana?). Mana bisa aku pula aku mengenal radikalisme, atau jurus-jurusn menyelamatkan harta perusahaan. Alangkah banyaknya buku. Alangkah banyaknya yang belum aku tahu dan alangkah sedikitnya waktu yang aku punya.

“Itilah hidup!” gumanku ketika kesadarnaku kumat. Ilmu yang maha luas, buku yang berjuta-juta, negeri yang luas (tidakbenar hanya selebar daun kelor…), namun waktu yang terbatas. Banyaknya jalan hidup, tukang becak, manager promosi, dosen sampi tukang teluh… hanya satu yang mungkin bisa di jalani dengan baik. Ada 1000 jalan terbentang hanya satu yang bisa kulalui. Kini umurku semakin tua, titel maha pun telah terlewati di perguruan tinggi, artinya aku sudah masuk “point of no return”. Andai saja aku bisa memlih jalan hidup, tentu aku ingin seperti pak kiyai yang mumpuni ilmu dan jadi panutan. Setaah puas aku ingin ulangi hidup, kemudian menjadi lakon si Doel yang selalu didekati Zaenab gadis Sunsilk. Ulangi lagi menjadi juragan kaya mempunyai garasi besar berisi tunggangan, mulai kijang jantan, panther sampi kutu dan kodok. Jadi jagon lembah hantu, lalu kutendangi itu para pemabok, bajing loncat dan provokator (kalau ada).

Malang nian aku ini. Aku hanya seekor ikan salmon yang menerjang arus ke hulu sungai, sekedar menghantar nyawa. Seekor semut yang menyusuri sebuah ranting kering hinga ujungnya lalu terjatuh, mati. Aku hanyalah seorang tukang patri yang hanya berteriak keliling kampung menbal kaleng bocor, hingga mati. Aku hanya bisa jadi sales yang bepergian hingga rambut ubanan oleh pengapnya asap kendaran. Aku hanyalah seorang dosen, yang berlari dari kelas ke kelas. Aku hanyalah petani. Pelacur. Sopir. Maling. Photographer. Menteri. Mantri. Pak Pos. Beribu-ribu jenis kehidupan, aku hanya diberi satu diantaranya.

Aku dengar Tuhan itu Maha Adil. Lalu mengapa hidup orang beda-beda? Kaya-Miskin, Bodoh-Pintar. Kalau Tuhan memang adil tentlah ada sesuatu yang semua orang memeprolehnya tanpa membeda-bedakan. Apakah itu? Apakah itu yang dimaksud dengan kematian? Semuanya berakhir pada sebuah ujung natara gelap dan ternag. Tidak ada bekas semua jenis kehidupan itu, hanyalah jejak-jejak langkah kita menuju ujung yang akan menunjukkan siapa sebenarnya kita. Begitukah?

Troy, 24 April 1999
Pungkas B. Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: