Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Saya ceritakan tentang Genie

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Ketika saya hendak menulis bagian ini, saya teringat akan sebuah kisah yang sangat menyedihkan. Kisah ini saya angkat kembali di sini, karena ditulisan ini saya memerlukannya.

Baiklah, saya ceritakan kembali secara singkat. Genie, bukan nama sebenarnya. Pada tanggal 4 Nopember 1970, di California, seorang gadis kecil telah ditemukan. Bukan karena hilang, tapi ia ditemukan justru di sebuah kamar kecil yang terkunci di dalam rumah orang tuanya. Siang hari ia terikat di kursi, malam hari ia terikat di ranjang tidurnya. Dari hari-kehari ia terus begitu, selama 10 tahun. Benar 10 tahun! Terkurung dalam kamar. Tak mengenal dapur, halaman atau teman.

Phisiknya lemah, dan ia telah berumur 13 tahun. Namun ia tidak bisa melihat dengan fokus lebih dari 4 meter. Ia hanya bisa mengucapkan dua kata “stopit” dan “nomore”. Ketika berjalan sempoyongan, kedua lututnya sedikit menekuk dan kedua tanganya di tekuk di depan dadanya. Tidak bisa mengunyah sulit menelan makanan selalu meludah dan selalu mengendus.

Setelah ditemukan, ia dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana. Gadis malang yang diabaikan kedua orang tuanya ini, lalu menjadi bahan penelitian para ilmuwan dan berilah ia nama Genie. Mereka ingin mengetahui apakah Genie bisa diajari untuk bicara setelah umur 13 tahun? Apakah ia bisa mengenal perintah-perintah, apakah ia bisa berkomunikasi. Ini adalah sebuah kesempatan laboratorium hidup bagi para ilmuwan. Sayangnya mereka menjadi lupa akan pribadi genie sendiri. Genie hanya menjadi objek, yang berpindah dari satu ilmuwan ke ilmuwan yang lain, dari satu metoda ke metoda yang lain dan dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Pada suatu ketika Genie memuntahkan makan yang ada dimulutnya. Ini membuat pengasuh marah. Sejak itu Genie merespon kemarahan pada dirinya ini dengan membungkam mulutnya sampai beberapa bulan. Kasihan Genie. Kesehatannya semakin menurun, akhirnya ia dimasukan ke rumah cacat mental.

Membaca ini pastilah kita terenyuh. Lalau pikiran saya mencoba merangkai-rangkai, pelajaran apakah yang bisa kita ambil dari kisah ini? Rasanya kita belum pernah mendengar kisah ekstrim dan memalukan seperti ini di tanah air. Semua anak-anak mendapat kasih sayang orang tuanya, kecuali mereka yang ditinggal mati. Jadi wajar saja kisah seperti ini jarang terjadi. Tapi benarkah?

Kalau kita selalu mengatakan menyayangi anak kita, mari kita lihat dulu apa itu artinya anak? Anak bisa berarti anak kandung, anak angkat atau anak bangsa. Betul anak bangsa juga anak kita. Bukankah demikian kita selalu berkata “Anak-anak kita generasi penerus bangsa.” Kita selalu bilang “Lestarikan alam untuk anak cucu kita.” Nah berarti anak bukan hanya anak kandung..

Dengan pengertian ini, barulah saya bisa melihat, bahwa kisah Genie yang malang juga banyak terjadi di negeri kita. Jutaan anak-anak diabaikan orang tuanya. Kali ini di sengaja atau tidak. Yang tidak disengaja adalah karena mereka miskin. Tidak ada uang untuk sekolah, jajan dan mainan. Mereka anak bangsa bukan? Berati mereka anak kita.

Genie menjadi rebutan para ilmuwan untuk dijadikan bahan penelitian. Anak bangsa menjadi bahan rebutan untuk keuntungan politik. Sebelum menjadi Presiden, Menteri, Gubernur dan lain-lain mereka bilang akan menjalankan UUD 45, di mana di salah satu ayatnya menyatakan tentang pemeliharaan anak yatim dan terlantar. Ini seperti para peneliti yang hanya ingin menerbitkan karya ilmiah mereka, lalu mereka berebut Genie. Lalu mengabaikannya. Yang tertinggal hanya tulisannya saja. Maaf, kalau saya memmbandingkannya dengani sebuah plang tetulis “WC umum”, namun airnya mampet.

Anak bangsa ini banyak menderita. Mereka juga terikat dalam kungkungan berpikir yang sangat sempit, sesempit kamar Genie. Genie tidak bisa membaca. Demikian juga banyak sekali anak-anak kita mengalami nasib serupa. Genie tidak bisa berkata-kata selain dengan isyarat, anak-anak bangsa kita sama. Bahkan isyarat-iysarat mereka terabaikan oleh kita. Anak bangsa kita tidak bisa melihat dunia luas, sebagaimana Genie tidak bisa memfokuskan pandangannya beberapa meter. Ketika Genie terikat di rajang tidur, anak bangsa kita terikat oleh kemiskinan.

Kita sering sibuk melakan penelitian, sebagaimana para ilmuwan berebut Genie, sampai lupa kalau ia hanyalah seorang gadis kecil yang ingin berbicara dan bisa membaca. Genie akhirnya terabaikan di umur belasan. Anak bangsa kita juga banyak yang mati harapannya di usia belasan. Kita mungkin juga melupakan mereka, yang hanya ingin bisa membaca dan berbicara.

Ah, mudah-mudahan saya hanya berandai-andai saja. Tidak, tidak ada kok kisah Gnie di Indonesia, kecuali kita mau jujur mengakuinya.

Troy, NY, 14 Mei 2000
pungkas bahjuri ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: