Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Sebuah Kopor di Jenewa

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Baca-baca berita tentang keberangkatan Menkeh dan Jaksa Agung ke Swiss saya jadi teringat cerita detektifnya majalah Intisari beberapa tahun lalu. Saya ceritakan lagi dengan bahasa saya:

begin……….

Seorang yang berkuasa cukup lama di sebuah negeri di Afrika itu, akhirnya harus rela terpungkur, tersiishkan oleh hingar-bingar semangat politik pembaruan yang semarak dalam negeri. Presiden yang baru berhasil menyingkirkan sang diktator itu; diktator yang termasyur kelihaiannya dalam menilap uang negara. Berjuta-juta dollar disangkakan, namun belum satupun bukti nyata yang bisa dipegang. Demikian pula dengan para menteri-menteri dan hulubalang lama, setalh menikmati kekayaan hingga, kini harus rela pula tersungkur di karpet pinggiran bersama idola mereka.

Salah seorang yang sangat dicurigai adalah Menteri Keuangan. Dia diduga menyimpan harta-harta curiannya di sebuah surga di Swiss. Dengan semangat pembaruan dan atas teriakan rakyat yang mengelu-elukan, tiga bulan kemudian presiden mengutus menteri keuangan baru untuk menelusuri jejak uang negara di Swiss.

Berangkatlah sang meneteri ke Swiss, disertai surat kepresidenan agar para bankir di Swiss mau bekerja sama. Segala antisipasi dilakukan karena mereka tahu ketatnya kerahasiaan bank di Swiss.

Hari kedua di Swiss. Pagi-pagi sekali sang menteri telah siap, sebuah surat telah disiapkan di dalam kopornya. Ketika jam kantor mulai buka, sang menteri telah berada di sebuah ruangan direktur utama di salah satu bank di Genewa.

Percakapan mengintonasikan bahasa formal.

“Saudara direktur, tentu Anda telah mendengar heroiknya bangsa kami menumbangkan rejim benalu bangsa”.

Dia diam sebentar. Melihat air muka orang di hadapannya.

“Saya membawa misi presiden kami untuk mengetahui uang simpanan menteri keuangan terdahulu, yang sekali lagi, saya yakin ada di bank ini”.

“Maaf,” jawaban telah disiapkan. “Kami sangat professional, kami tidak bisa”

Diberikannya surat khusus presiden kepada sang direktur.

“Kami yakin para bengsat itu, menyimpan uang-uang mereka di bank ini. Ahh, rasanya tak perlu saya jelaskan. Ketahuilah uang itu sangat dibutuhkan di negara kami.”

“Saya faham tuan menteri. Semoga Tuhan selalu bersama presidan dan rakyat Anda” Surat telah terlipat dan disodorkan kembali kepadanya.

Masing-masing terdiam.

“Saya akan berbuat apa saja demi kepentingan bangsa saya” Dia berdiri perlahan, dipandanya pemandanag gedung tua kota Genewa dari jendelakaca. Lalu dia berbalik, tangannya menulusup di sela-sela jas lalu tergenggamlah sebuah pistol kecil. Dengan wajah tenang, diletakkannya pistol di atas kopor di atas meja.

“Uh….ee..Anda tidak bisa begitu”, wajah direktur mulai ketakutan, sebuah peristiwa yang tak disangka-sangka. “Andaikan saja saya bisa”. Kini wajahnya memelas

Ujung pistol segera menempel di dahi sang direktur, dengan gaya militer khas yang menjadi wataknya sejak dia didik sekolah militer menengah dulu, ditariknya kokang. “Tak perlu saya katakan lagi apa yang akan saya perbuat, ini demi jutaan rakyat kami yang kelaparan.” Berdiri, tangan kiri menahan badan, jari tangan kanan, menempel tegang di pelatuk.

Sang direktur pucat pasi. Tapi sumpah professionalismenya sudah mendarah daging. Dia ingin membantu, tapi…”Saya tidak bisa” suaranya bergetar berat, “walaupun saya harus mati..!”

Tiba-tiba muka sang menteri berubah, mendengar jawaban tersebut. Tersenyum dan menarik pistolnya kembali.

“Luar biasa!.” Lalu di bukanya kopor “Tolong bukakan rekening untuk uang ini…!”

end………………..

Tory, 6/2/99
Pungkas B. Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: