Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Tahu tapi tidak mengerti

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Untuk menarik perhatian para pembaca terhadap potongan kalimat di atas, saya cuplikkan lagi cerita tentang Croesus yang juga dikutip oleh Carl Sagan dalam bukunya: Billions & Billions. Ceritanya sama, namun penyajiannya saya rujak, tambahkan garam dan mengkudu sedikit. Perspektifnya pun saya buat berbeda, karena memang pasti begitu. Carl Sagan seorang ilmuwan yang pikirannya mampu melayang dari molekul Oksigen, hingga Ether dan Bing Bang, sementara saya hanya lamunannya yang terbang setinggi itu. Bedanya lagi Carl Sagan sudah memikirkan berpikir bagaimana ‘menghidupi’ bumi, sedangkan saya masih ‘mencari hidup’ dari bumi. Jelaslah perspektif saya akan berbeda. Tapi setidaknya tempat berpijak kami sama: bumi, satu-satunya anggota tata surya yang bukan turunan dewa.

Croesus, raja imperium Lydia di Anatolia pada abad 8 SM, seorang raja yang batas wilayah negaranya terlampau kecil untuk menampung ambisi-ambisinya. Dia termasuk salah satu tipe manusia yang sering meminta wangsit kepada titisan dewa. Yang kali ini bernama Phytia; manusia yang mendapat anugerah dari dewa Apollo. Phytia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan kelasnya – saya yakin – beberapa tingkat di atas Permadi.

Karena kemauan politik yang mengembara di antara dedaunan mahkota di kepalanya itulah, dia ingin menaklukkan imperium Persia, super power di Asia Barat yang dipimpin oleh Cyrus. Nah, untuk melenggangkan ‘kebijaksanaan’ nya, maka ia kirim utusan untuk menemui Phytia, tentunya dengan mempersembahkan hadiah yang layak bagi seorang titisan dewa.

“Apakah yang akan terjadi jika Croesus menggempur Persia?”

Tanpa ragu, Phytia menjawab,”Dia akan menghancurkan sebuah kerajaan besar.”

“Tuhan bersama kita,” pikir Croesus, “waktunya melakukan penyerangan.”

Setelah mempersiapkan perlengkapan perang dan tentara, Croesus menyerang Persia dan … kalah secara menyedihkan! Bukan hanya balatentara Lydia hancur lebur, dia sendiri dikerjapaksa sebagai penasehat pengadilan yang tugasnya memberi pertimbangan – itupun kalau diminta. Dapatkan anda membayangkan George Bush menjadi seorang penasehat pengadilan di Moskwa? Begitulah kira-kira yang terjadi pada Croesus.

Kenyataan sejarah yang dituliskan oleh Herodotus itu mencatat ketidakadilan menimpa Croesus: dia telah mengikuti saran Phytia, dia telah memberinya hadiah dan Phytia juga tidak menyalahkan tindakannya. Apa yang salah? Dilanda ketakpercayaannya itu, Croesus mengirimkan utusan kembali ke Phytia dan mempertanyakan ‘petunjuk’ yang telah dia keluarkan.

“Teganya…teganya…teganya…!” (tentu saja ini versi dangdut saya)

Tapi Phytia menjawab: “Takdir telah berjalan sebagaimana mestinya, bahwa jika Croesus berperang melawan Persia, maka dia akan menghancurkan sebuah kerajaan besar. Tapi dia tidak menanyakan kembali, apakah kerajaan yang dimaksud adalah Lydia atau Persia!”

Dus, jika Carl Sagan menginterprestasikan secara kontemporer dengan perilaku para anggota parlemen yang tidak mau meneliti informasi secara mendalam tentang kenyataan ilmiah, maka biarlah saya memparalelkan secara random pada diri saya, “ordinary people”. Pada keseharian – seperti Croesus – saya juga mengharapkan petuah semacam itu. Sayangnya saya juga sering bertindak sebagaimana Croesus bertindak, sradak-sruduk: “knowing without understanding”. Tahu tapi tidak mengerti. Tidak mau mengerti secara mendalam arti sebuah petuah.

Betapakah saya mencari petunjuk – persis seperti Croesus mencari legimitasi penyerangan Persia . Bedanya tidak kepada Phytia ataupun Nostradamus, Ronggowarsito atau peramal-peramal neoklasik lainnya yang mengaku mendapat wangsit. Sebagai orang Islam saya punya Nabi Muhammad. Saya tahu bahwa ada petuah-petuah itu. Dan itu yang sering saya cari, baik untuk melegimitasi keputusan besar maupun hal yang remeh.

Saya merasa bahwa saya sering menjelma menjadi Croesus. Saya tahu, tapi tidak mengerti. Atau lebih parah lagi tidak mau mengerti. Cerita Croesus tadi seolah mengingatkan kembali kepada realita kehidupan saya, bahwa ternyata ada beda antara “mengetahui “ dan “mengerti.” Dan bahwa saya terlalu sering mengabaikannya. Ini yang sudah difahami Carl Sagan. Dan saya sedang mencoba memahami kembali.

Jika taruhan Croesus adalah sebuah imperium, apakah yang saya pertaruhkan? Saya – sekali lagi: ordinary people – tidak punya kerajaan apa-apa dan tidak ingin menginvasi kerajaaan siapa-siapa. Tapi tunggu…Thanks God! Saya bisa berpikir kembali dan …aha! Saya juga punya wilayah kerajaan yang – sama seperti Croesus – selalu saja terlalu sempit dan membatasi ambisi –ambisi saya. Di pusatnya adalah sebuah kerajaan yang menjadi pertaruhan. Memang hanya sebuah kerajaan hati (betul itulah kerajaan saya). Namun ia juga sebuah imperium satu-satunya milik saya. Andaikan saja saya hanya “mengetahui” petuah dari sang nabi, tapi tidak “mengerti” tak salahlah bila saya akhirnya mempertaruhkan satu-satunya kerajaan itu. Jadi mungkinkah saya mempertaruhkan ‘kerajaan’ saya karena “mau tahu tapi tidak mau mengerti?” Jawabnya: mungkin saja. Sangat mungkin bahkan. Dan itu telah terbukti berkali-kali!

13 Juni 2001
Pungkas Bahjuri Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: