Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Tahun-Tahun Pucang

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Kita pasti tahu apa itu pucang. Tapi baiklah saya lukiskan lagi sedikit Pucang adalah sebuah batang pinang putih telanjang, tegak berdiri di tengah-tengah lapang. Di bagian atas di pasang lingkaran bambu dengan sokongan jari-jari-nya mirip sebuah satelit mata-mata. Batang telah di lumuri oli hitam, sangat licin dan bau ketika oli dilumuri lemak, yang makin membuat batang menjadi sangat licin. Dipuncaknya bergantungan radio kecil, payung hitam romantis, coklat isi kopi, kaos oblong 777, sandat jepit, balon, panci, mobil, rumah, photomodel….oppps!! Hadiah-hadiah ini bukan makanan, tapi tentu sangat merangsang air liur. Ketika saatnya dimulai berlomba-lombalah orang-orang untuk memanjat tiangnya, mendapatkan hadiah yang berayun-ayun. Ada yang dua-dua, ada yang membentuk grup, bahkan ada yang tanpa pendukung sama sekali. Yang penting dapat bagian, katanya.

Yang membuat pucang beda kali ini adalah sebuah kursi mentereng. Ini yang menjadi incaran para pendaki. Kursi kelihatan begitu cantik, nyaman dan terlihat amat mahal. Duduk di sana, seperti duduk di La-Z-Boy, begitu duduk tertidur. Ya, walau bercampur dengan kaos oblong dan sandal jepit.

Tahun-tahun lewat telah diisi para politisi betulan dan kacangan, tegap melihat di puncak pucang. Ada sebuah kursi menjadi incaran. Para pendaki pucang dengan supporter-nya masing-masing, memberi semangat jagoannya untuk menjadi orang yang tertinggi di atas pucang, meraih kursi, kelihatan oleh siapa saja. Karena siapa yang meraihnya akan memiliki hadiah-hadiah lain, sendal jepit dan kaos oblong. Punya kekuasaaan dia, apakah hadiahnya akan di ambil sendiri, atau akan dilemparkan ke bawah ke para pendukungnya. Punya kuasa dia apakah mau makan di mana malam ini, mau liburan kemana tahun baru ini.

Jika pucang telah mulai, beberapa pendaki mulai memanjat. Mula-mula berbentuk kelompok, mencoba saling menyokong. Yang satu berpundak ke yang lain Teratur. Namun makin lama, ketika lumuran oli makin berkuang, makin gampang naik ke atas, kerjasama mengendor. Kini setiap orang ingin menjadi yang paling atas. Dia injak pundak atau kepala yang ada di bawah. Atau “nylonong” memanjat terakhir supaya mandapat yang paling tinggi. Yang diinjak juga demikian, ketika sudah tinggi, dia pengen berubah posisi menjadi yang paling atas. Mundurlah ia, susunan berguguran, semuanya jatuh. Pucang adalah arena yang menggembirakan, saatnya menyanyikan lagu padamu negeri kami mengabdi, demi sandal jepit dan kaos oblong.

Republik ini banyak dosa. Dosa yang dibuat oleh para pemimpin yang ingin meraih kursi, lalu duduk, kemudian duduk lantas duduk. Dosa para supporter yang ingin mendapat bagian sandal jepit dan kaos oblong. Dosa rakyat yang bersorak-sorak mengompori perseturuan. Dosa penulis cerita ini yang mengingini pengakuan. Dosa rakyat yang juga diam. Atau dosa-dosa mulut-mulut dan pena-pena yang berbicara seolah-olah mewakili kebenaran. Orang-orang senang, media senang karena ada pucang ditengah lapangan yang ramai untuk diberitakan. Orang-orang suka menonton walaupun harus membayar dengan nasib-nasib orang-orang terbantai bergelimpangan. Dosa pula orang-orang yang silau melihat kursi mentereng, mengangguk-angguk dan menunduk-nunduk di depan kursi yang kini tergantung tinggi.

Pucang adalah sebuah kebudayaan, karena ia adalah ekspresi watak manusia. Ketika para pendaki “eker-ekeran”, menyikut siapa yang mencoba mendahuluinya dan menginjak siapapun yang ada di bawahnya, sementara penonton bersorak-horai. Biarpun badan berlumuran oli-oli hitam kemunafikan, lemak-lemak berbau penindasan, namun semua ada imbalannya kursi mentereng, atau kaos oblong pun tak apalah.

Tahun-tahun selalu berlalu dengan pucang. Pucang adalah laku budaya yang akan selalu ada di mana manusia ada. Tapi karenanya pula ia terbuka untuk perubahan. Kita masih memerlukan pucang, karena ia hiburan dan makanan. Tapi kita perlu pucang yang tanpa oli dan lemak, yang membuat orang yang meraihnya adalah karena imbalan bukan keinginan. Yang membuat pemenangnya rela mengenakan kaos oblong dan sandal jepit tanpa bau oli dan lemak. Membagi rata hadiah sesuai haknya, bukan seberapa keras teriakannya.

Troy, Jan 5, 2000
Pungkas B. Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: