Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Cut Nyak Dien – Kisah Ratu Perang Aceh

Posted by pungkasali on May 26, 2008

Buku ini bercerita tentang penjalanan perjuangan rakyat Aceh, pada masa kehidupan Cut Nyak Din – dan tentu saja kisah hidup Cut Nyak Din itu sendiri.  Buku yang terdiri dari 29 bagian ini dimulai dengan kisah Machudun Sati, parantau dari Minagkabau. Dari keturunan Machudun Sati inilah nanti akhirnya lahir Nanta Setia, salah satu Ulubalang di 6 Mukim, ayah dari Cut Nyak Din dan paman dari Teuku Umar.  Dari sini cerita mulai mengalir kepada pergolakan internal di Kerajaan Aceh dan konflik antar Panglima Sagi dan Ulubalang sebelum kedatangan Belanda.  Pada masa pergolakan inilah lahir Cut Nyak Din.

Ketika Belanda mendarat ke Aceh, 1855, hubungan antara Belanda dengan rakyat Aceh sebenarnya sudah kurang baik karana seringnya terjadi perselisihan. Namun Sultan Alaiddin Mansyur Syah sebagai raja Aceh (kotaraja) kemudian membuat perjanjian perdamaian dengan Belanda, karena masih serunya pergolakan internal. Sementara itu Cut Nyak Din beranjak Dewasa dan menikah dengan Teuku Ibrahim Lamgna tahun 1858. Pada saat ini Belanda sudah semakin nyata mencampui urusan Aceh, dan sejak itulah sudah tertanam jiwa anti kaphe (kafir, sebutan umum pejuang Aceh kepada Belanda)  di hati Cut Nyak Din.

Cerita kemudian terus berlanjut pada berbagai intrik dan pertempuaran antara pejuang Aceh dan Belanda dan antar penguasa Aceh sendiri.  Teuku Ibrahim merupakan salah satu pihak yang dengan kukuh memerangi Belanda. Teuku Ibrahim tewas pada tahun 1878. Tak berapa lama kemudian Cut Nyak Din menikah dengan sepupunya Teuku Umar.  Umar kemudain melanjutkan perjuangan melawan Belanda, yang diselinginya dengan perkawanan Balanda selama tiga tahun. Setelah itu Umar membawa lari tentara, senjata, dan perlengkapan perang untuk kembali memerangi Belanda hingga 1899. Umar tewas dalam pertempuran dengan Jenderal Van Heutz.

Bagian akhir buku ini diakhiri dengan kisah pengungsian Cut Nyak Din dengan beberapa pengikut setianya setelah meninggalnya Umar. Perang besar di Aceh telah selesai dan perlawanan gerilya dilakukan secara sporadis. Cut Nyak Din dalam persembunyiannya di hutan-hutan belantara di Aceh dilakukan bertahun-tahun hingga penduduk Aceh sudah melupakannya atau mengira Cut Nyak Din sudah tewas. Kenyataannya Cut Nyak Din berada dalam fase tersulit karena terus bersembunyi di hutan dengan keadaan buta dan sengsara, kekurangan sandang dan pangan.  Melihat kondisi Cut Nyak Din seperti itu, atas inisiatif Panglima Laot yang merupakan pengikutnya yang paling setia, Cut Nyak Din kemudian “di tangkap” oleh Letnan Van Tuuren 6 Nopember 1905.  Cut Nyak Din kemudian sempat tinggal di Aceh sebelum akhirnya di asingkan ke Sumedang karena ketakutan Jendal Van Heutz akan pengaruh Cut Nyak Din yang masih sangat kuat. Cut Nyak Din meninggal tahun 1908.

Saya agak bingung dalam menggolongkan buku ini, apakah sebuah biografi atau sebuah novel. Bisa jadi sebuah biografi karena dia menceritakan Cut Nyak Din dari lahir hingga wafatnya, yang dilengkapi dengan kronologis peristiwa lengkap dengan tanggal dan tahunnya. Namun ia seperti novel karena tercampur dengan cerita-cerita fiksi seperti kesaktian Machudun Sati yang memakan bijih besi. Percakapan-percakapan dan kata-kata Cut Nyak Din jelas lebih banyak fiksi-nya. Buku ini juga tidak memberikan catatan mengenai sumber-sumber pustakan yang digunakannya.

Yang saya suka dari buku ini adalah karena ia dikarang oleh seorang Belanda, yang menurut Azhari dalam kata pengantarnya –tidak menunjukkan keberpihaknnya pada perjuangan bangsa Aceh – seperti dua novel lain karyanya. Memang dalam novel ini kita lihat penghargaan Lulofs terhadap keteguhan Cut Nyak Din dalam perlawanan dan simpatinya pada para pejuang Aceh. Namun di sisi lain Lulofs sering menyinggung misi mulia dari campur tangan Belanda di Aceh. Oleh karenannya di novel ini, disamping kita dapat merasakan semangat para pejuang Aceh, kita juga dapat melihat bagaimana sudut pandang bangsa Belanda atas sikap mereka.

Ketika akan membaca buku ini, saya berharap dapat mengikuti perjalanan pribadi Cut Nyak Din secara lebih detail. Namun kalau ini yang kita harapkan kita akan kecewa. Pada buku ini Cut Nyak Din hanya merupakan bagian dari kisah perjuangan Aceh melawan Belanda.  Kisah-kisah perjuangan Nanta Setia, Panglima Polim, Ibrahim Lamgna dan Teuku Umar lebih mendominasi jalannya cerita, walaupun kisah Cut Nyak Din ikut menyertai cerita. Namun kisah Cut Nyak Din yang muncul lebih banyak pada sifat anti kaphe -nya yang juga digambarkan dalam pikiran dan ucapan Cut Nyak Din yang saya kira lebih banyak hasil imaginasi pengarang.

Apapun sudut pandang dari novel ini, dan pengungkapan jalan cerita, setelah membaca buku ini akan timbul kekaguman kita pada jiwa kaphlawanan Cut Nyak Din yang luar biasa.  Cut nyak Din telah memberikan perlawanan hingga pada konndisi terlemahnya ketika di tangkap.

Inilah petikannya: Ketika tentara Belanda hendak menangkapnya, Cut Nyak Din mengenggam rencong dan hendak ditusukkan ke jantungnya. Dengan cepat Letnan Van Tuuren merebut senjata itu. “Jangan kau menyentuh kulitku, kafir.” demikian Din berkata setengah menjerit. “Jangan kau nodai tubuhku”.  (Dalam buku terbitan balai Pustaka – saya harus lihat lagi judulnya – kisah serupa juga muncul). Betapa teguhnya Cut Nyak Din.

Recomended (****)

Cut Nyak Din – Kisah Ratu Perang Aceh. M.H. Lulofs. terjemahan oleh Tim Penerjemah Komunitas Bambu. Penerbit Komunitas Bambu, Depok. Cetakan Pertama Januari 2007. 373 hal.

One Response to “Cut Nyak Dien – Kisah Ratu Perang Aceh”

  1. Aulia said

    saya sedang baca ni buku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: