Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Kisah 47 Ronin

Posted by pungkasali on June 10, 2008

Kisah 47 Ronin adalah salah satu cerita yang paling terkenal tentang kaum samurai di Jepang. Kisah ini dimulai pada tahun 1701 di Istana Shogun di Edo. Seorang daimyo muda – Lord Asano Takumi no kami Naganori – menyerang Kira Kozukenosuke Yoshinaka – kepala protokol istana karena menghinanya tidak mampu memberikan uang/upeti. Serangan ini dianggap sebagai suatu pelanggaran besar apalagi terjadi di Istana. Pengadilan istana kemudian memutuskan Lord Asano dihukum dengan melakukan seppuku (bunuh diri dengan merobek lambung dengan pisau).

Kematian daimyo ini menimbulkan perdebatan di antara para Samurai (yang telah menjadi Ronin – samurai tanpa tuan) pengikutnya. Dengan dipimpin oleh Oishi Kuranosuke Yoshio, para ronin (47 orang) sepakat untuk membalas dendam kepada Kira. Namun upaya ini tidak mudah, karena Kira adalah pejabat istana yang mendapatkan perlindungan ketat. Untuk itu Oishi pura-pura menjadi seorang pemabuk yang putus asa, dalam upaya melepaskan diri dari mata-mata Kira. Kerja kerasnya ini memakan korban, karena ia harus bercerai dengan istrinya. Suatu hari kebetulan seorang Samurai dari Satsuma menjumpai Oishi terkapar di jalan kareba mabuk. Samurai ini meludah ke Oishi dan mengejek bahwa ia bukan seorang Samurai Sejati.

Kamuflase ini berhasil dengan baik. Kira akhirnya memperlonggar penjagaan dirinya karena mengira sudah tidak ada ancaman lagi dari para Ronin itu. Dugaan itu tentu saja salah. Di tengah dinginnya salju tanggal 14 Desember 1702, Oishi memimpin 46 ronin lainnya menyerbu rumah Kira di Edo. Penyerangan secara tiba-tiba tak urung membuat para penjaga kalang kabut, namun memberikan perlawanan hebat. Banyak dari pengawal mati dan terluka. Dari kelompok Osihi, satu orang mati. Mereka kemudian berhasil menemukan Kira yang bersembunyi ketakutan. Kira diberi kehormatan oleh para Ronin itu untuk melakukan seppuku. Tapi Kira menolak. Akhirnya Oishi memenggal kepala Kira dan mempersembahkan di makam tuannya.

Setelah melakukan pembalasan ini, para Ronin menyerahkan diri ke pemerintahan Shogun. Melalui pertimbangan panjang, para Roni di hukum dengan cara terhormat yaitu melakukan seppuku. Masyarakat dan pemerintah Jepang waktu itu menghormati kesetiaan 47 Ronin ini kepada tuannya dan menjaga tradisi Samurai. Adapun Samurai dari Satsuma yang meludahi Oishi dulu menyesal dan akhirnya ikut melakukan seppuku. Makam 47 Ronin masih dapat dilihat sekarang di Sengaku.

Buku yang saya baca ini judulnya Kisah 47 Ronin adalah karya Hohn Allyn yang dituturkan sengan gaya novel. Ini adalah sebuah kisah yang sangat menarik menurut saya, sama seperti kisah-kisah Samurai yang lain seperti Musashi dan Taiko-nya Eiji Yoshikawa. Namun jika dibandingkan kedua buku Yoshikawa tadi, buku masih kalah dalam hal plot dan detil cerita. Tetapi tetap saja kisah ini asyik untuk di baca.

Kisah 47 Ronin dapat menggambarkan kepada kita ujung dari masa-masa keemasan kelompok Samurai. Oishi dan 46 temannya (satu di antaranya adalah Chikara, anaknya) mewakili Samurai yang memegang teguh prinsip Samurai, tidak berganti tuan dan monoloyalitas membela tuannya sampai mati. Jika kita ingin memahami lebih mendalam kehidupan Samurai, selain kedua buku tadi bisa juga di baca: the Lone Samurai (yang menceritakan kehidupan seni Musashi pasca duelnya dengan Sasaki Kojiro), atau Warriors of Medieval Japan (General Millitary).

John Allyn. Kisah 47 Ronin ( Judul Asli The 47 Ronin Story). Terjemahan Theresa Dewi. Penerbit Matahari. 2007. 312 hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: