Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Antara Birokrat, Politisi dan Peneliti

Posted by pungkasali on April 10, 2009

Kemarin (9 April) kita memilih para calon politisi.  Politisi ini yang akan membuat undang-undang dan yang akan membentuk pejabat birokrasi. Antara Birokrat dan Politisi memang punya buhul yang kuat, diakui ataupun tidak, baik di atas kertas maupun di bawah meja.  Dan rasa-rasanya semuanya sudah mahfum akan hal ini. Makanya saya tidak akan membahas hubungan keduanya.

Yang menarik bagi saya adalah golongan ketiga, yaitu para peniliti baik yang akademisi (profesor, doktor) maupun yang partikelir (lembaga studi dan proyek-tor).

Para peniliti, konon, adalah pihak yang independent, sehingga cocok jadi saksi ahli dalam pengadilan.  Tidak memihak, karenanya laris jadi pengamat. Siapa yang di adili dan diamati? Ya dua golongan sebelumnya.  Birokrat itu konon kerjanya lambat, tidak tanggap, penuh korupsi, dan tidak ilmiah. Politisi itu kerjanya tidur, kolusi, dan mencari kursi (untuk tidur).

Apa betul seperti itu sih?

Dulu saya menyangka demikian. Sekarang saya baru tahu kalau itu semua ternyata: betul. Hehe, tapi tidak semuanya betul. Dan sekali lagi, saya tidak akan menulis itu, kan kita semua sudah tahu toh? Koran banyak, tabloid bertebaran. Gitu aja kok repot.

from Dr. Thomas Kodenkandath, Ph.D, Highlands Ranch, CO. 2008 Science Idol Finalist.

from Dr. Thomas Kodenkandath, Ph.D, Highlands Ranch, CO. 2008 Science Idol Finalist.


Tapi ijinkan saya bebricara sebagai birokrat.

Lha kok?

Iya saya sekarang adalah peneliti, tapi saya  pernah menjadi bagian dari birokrasi (tapi belum pernah jadi politisi, karena nggak punya gotri dan money).

Begini lho, saya sebenarnya juga sering berfikir (tepatnya “kepikiran”). Para peneliti itu gimana sih ya, rasa-rasanya agak ketinggalan. Contoh, ada ratusan penelitian tentang dampak pendidikan terhadap income yang menghasilkan puluhan  (sebagian nggak lulus ujian) doktor. Ada yang r-kuadratnya 0,2, kemudian dikoreksi lagi. Tidak! Yang 0,05 karena jenis pekerjaan. Terus teliti lagi oleh calon doktor, kesimpulannya: kesimpulan sebelumnya tidak valid karena ada endogeneity. Rekomendasinya:  perlu penelitian lanjutan, dengan multinomial logit. Probit. Legit. Waduh ngomong apa sih.

Para birokrat itu jauh lebih maju lho. Sudah, itu semua sudah dikenali dalam sistem pembangunan. Makanya kita mencanangkan wajib belajar, supaya semua berpendidikan, dapat kerja dan penghasilan naik. It is that simple. Simple but works. langsung cetak  voucher sekolah gratis dan dibagi-bagi seperti kcanag rebus.

Sejak tahun 1960-an para peneliti sibuk cari elastisitas harga pelayanan kesehatan terhadap income (eee, apa sebaliknya ya?). Sampai sekarang belum di tutup tuh bab ekonomi kesehatan. Tiba-tiba bu menteri kita sudah berpikir: waduh gimana mau sehat kalau rakyat miskin gak bisa masuk rumah sakit karena gak bisa nggesek plastik (kartu kredit maksudnya). Lalu tanpa pikir panjang…suet-suet-suet! Asuransi bagi masyarakat miskin.

Para peneliti girangnya bukan main. Wajar Dikdas: tiga riset, tigapuluh penelitian, tiga ribu halaman, tiga ratus juta rupiah. Askeskin Rp 3 trilyun, 67 juta penduduk: enam penelitian.

Artinya “opo nduk” (sory dikebut nih udah jam 9 malam). Artinye, jangan dikira para birokrat dan politisi aja yang bisa ditertawakan karena tidak ilmiah. Bikin program tanpa pilot project, nggak nyewa para peneliti. MBA di ruko, doktor di gang kelor.

Saya yang dulu mentertawakan saya sekarang (dulu birokrat, sekarang peneliti). Tidak perlu Relativitas Einstein untuk membuat rekator nuklir. Cukup panggil Joko Suprapto, jadi sudah Blue Energy. Tidak perlu kalkulus untuk menyusun asuransi kesehatan, cukup teken surat keputusan.  Untuk apa Golden Rice dari IRRI di Los Banos, panggil di Tuyung dan ciptakan Padi Super(le)toy.

Politisi itu keminter, birokrat pinter-pinter (pinter-pinternya dia aja), dan peneliti pinter beneran.

Konon sebuah gunung berapi di Jawa Barat meleduk. Korban berjatuhan, banjir lahar dan merusak ladang dan sawah. Apa yang dilakukan oleh birokrat, peneliti dan politisi?

Politisi: Oo kami sangat prihatin. Besok kita akan buat Panja untuk menggoalkan Undang-Undang Anti Gunung Meleduk, semua pasti bisa di atasi (keminter). Dan kami akan selalu memantau kerja pemerintah.

Birokrat:  Ooo itu bukan wewenang kami. Tapi saya sudah laporkan pak Menteri, kami siap dengan bantuan dan petugas . Kami juga akan menyediakan dana untuk penelitian lebih lanjut. (pinter-pinter-nya menghindar)

Peneliti: Ooo itu sudah kami prediksi 3 tahun lalu, dengan margin error 10 persen. Tapi  penyebab utama belum teridentifikasi.  Perlu penelitian lanjutan dengan metode differential, ceteris paribus (saking pinternya) dan kami relah menyiapkan proposalnya (memang pinter itu)

Politisi – Birokrat – Peneliti. Semua sama dan saling membutuhkan. So what gitu lho!

—- sorry, sekedar mengevaluasi diri.

canby, 11 April 2009.

One Response to “Antara Birokrat, Politisi dan Peneliti”

  1. Yah… kalo OLS-OLSan income emang susah lah Pak Pungkas pake data cross-sectional di Indonesia pula…R2 0.2 juga lumayan khan… apalagi pake data susenas dll. Tapi liat deh t-stats nya (untuk edu) pasti dua digit gitu! Mungkin kalo ada data ttg years of experience or current tenure bisa naek kali tuh r kwadrat.🙂

    Yang lebih nggak tahan mau pake occupation type sampe detail 3 digit? Mendingan facebooking aja deh!🙂 See you in class!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: