Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

PUGS: Kisah Slogan yang Ditinggalkan

Posted by pungkasali on April 25, 2011

Oleh:  Pungkas Bahjuri Ali, Fajar Australia 1-15 April 2011

Pernah mendengar PUGS? Jika tidak, jangan khawatir. Sebagian besar di antara kita juga tidak. Ingat Empat Sehat Lima Sempurna? Kalau ini mungkin hanya sebagian kecil saja di antara kita yang lupa.

 

Kisah PUGS dan pendahulunya

 Slogan Empat Sehat Lima Sempurna sebenarnya telah “dihilangkan” oleh Pemerintah Indonesia lima belas tahun yang lalu. Tetapi bagi besar sebagian Generasi  X, slogan itu tetap hidup. Ia menjadi resprotective memory di bagian thallamus otak kita, sebagaimana kita ingat akan ‘kemesraan’-nya Iwan Fals dan “bertanya pada rumput yang bergoyang”- nya Ebiet G Ade.  Begitu ampuh dan efektif slogan itu untuk mengantar kita menuju makan pagi, siang dan malam kita hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

Adalah Konferensi Gizi Internasional di Roma tahun 1992 yang menjadi dasar bagi para ahli gizi di Indonesia untuk mereformasi Empat Sehat Lima Sempurna menjadi konsep yang lebih canggih. Lalu, muncullah PUGS, singkatan dari Pesan Umum Gizi Seimbang.

PUGS muncul untuk merespon makin merebaknya pola hidup yang tidak sehat dengan asupan  energi yang berlebihan, kebiasaan merokok, dan kurang aktifitas fisik. Pola hidup ini memicu timbulnya berbagai penyakit kronis seperti stroke, kardiovaskular, diabetes dan kanker menjadi pembunuh utama penduduk di dunia, termasuk Indonesia.

Tetapi, kuranngya upaya promosi  menyebabkan PUGS tenggelam. PUGS tidak setenar Slank atau BCL bagi Generasi Y (generasi adik kita), seperti kita dulu ingat Empat Sehat Lima Sempurna seperti layaknya ingat Godbless dan Nike Ardilla.

Jumlah pesannya melar menjadi 13 pesan dan canggih (baca:kompleks). Tentu saja akibatnya lebih sulit di mengerti. Pesan keempat, misalnya, berbunyi batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi.  Siapa yang tahu berapa kecukupan energinya? Bagaimana menghitung lemak? Apakah si Otong, pedagang kelontong atau bahkan Giordano si pakar teknologi nano juga paham? 

Tetapi kesalahan yang terbesar adalah lemahnya upaya promosi PUGS ke masyarakat. Dulu  Empat Sehat Lima sempurna muncul di mana-mana; di televisi, di koran-koran dan di dalam radio. Sementara lemahnya dukungan kebijakan promosi menyebakan PUGS hanya tercetak dalam buku-buku tebal di dalam perpustakaan dan makalah yang terselip dalam map para ahli gizi dalam ruang seminar.

 

Kebijakan yang Memihak

Di balik memble-nya PUGS, yang sebenarnya terjadi adalah ketidakseimbangan yang sistemik dalam kebijakan pembangunan kesehatan di Indonesia. Kebijakan kesehatan cenderung menitik beratkan pada  upaya kuratif (pengobatan/penyembuhan) dan meninggalkan upaya promotif dan preventif (pencegahan).

Pemicunya antara lain adalah sumber daya manusia kesehatan yang lebih didominasi oleh tenaga-tenaga kuratif, seperti dokter, dokter spesialis, dan perawat, namun lemah pada sumber daya manusia promotif dan preventif.

Pemicu lainnya adalah dari sisi output dan keuangan, kegiatan yang bersifat kuratif lebih lucrative dan kasat mata (tangible). Orang bisa melihat megahnya gedung rumah sakit, canggihnya CT-Scan dan balai pengibatan sebagai output kebijakan. Nama pejabat yang berhasil mewujudkan-nya tentu akan terpahat pada prasasti di halaman depan dan menjadi modal untuk mencalonkan pada periode jabatan berikutnya.Maka berbondong-bondonglah dana, baik APBN maupun pinjaman luar negeri, menuju ke kegiatan yang bersifat kuratif.

Sebaliknya, output upaya promosi kesehatan adalah perubahan tingkah laku masyarakat. Ia tidak kasat mata, intangible, dan kalaupun berhasil, manfaatnya baru dirasakan jauh hari kemudian. Pada akhirnya, dukungan dana yang tidak memadai menyebabkan upaya promosi menjadi seperti bunga sedap malam, mekar sehari, layu kemudian.

Tersingkir Demam Popularitas

Tentu saja kebijakan kesehatan tidak sepenuhnya ditentukan oleh Kementerian Kesehatan (atau Dinas Kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota), tetapi pada kepala daerah dan anggota DPR yang turut dalam perancangan program dan kegiatan.

Sistem pemilihan kepala daerah dan anggota DPR berdasarakan popularitas jangka pendek, dan sistem pengambilan kebijakan kesehatan tidak terlepas dari proses politik. Efeknya adalah fenomena kecintaan akan kegiatan yang berifat tangible akan terus bertahan. Siapapun pejabatnya, mereka akan mencoba meninggalkan footprint kekuasaan yang kasat mata berupa gedung rumah sakit yang megah, pelaratalan CT-scan yang canggih dan lain-lain.

Fenomena ini lebih-lebih terjadi pada provinsi dan kabupaten pemekaran. Tidak heran jika mereka berlomba-lomba membangun gedung rumah sakit bertingkat, tetapi lupa membangun sumber daya manusia pendukungnya serta tindakan promosi dan pencegahan. Akibatnya banyak kabupaten baru yang mempunyai rumah sakit yang tegak berdiri dengan gagah, bertingkat-tingkat, isinya kosong melompong – tidak ada pasien yang datang. Yang mengerikan lagi tidak ada dokter! Sementara berbagai penyakit yang bisa di cegah  salah satunya dengan PUGS tadi – tetap meraja lela di luar sana.

Contoh lain dari lemahnya kebijakan di bidang promotif dan preventif adalah belum diratifikasinya FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), sebuah kesepakatan untuk mengurangi konsumsi rokok. Sejak di canangkannya tahun 2003, FCTC seperti tidak tersentuh. Sekali lagi, seperti dalam daftar tarif murah international call,  Indonesia tidak masuk dalam 178 negara yang telah meratifikasi FCTC. Hingga sekarang!

Perlu contoh yang lebih klasik? Ada revitalisasi posyandu. Setelah era reformasi posyandu, yang pada jaman orde-baru sangat berjasa bagi penanggulangan kurang gizi dan peningkatan kesehatan ibu dan anak, menjadi wilayah tak bertuan. Revitalisasi posyandu hanya menjadi semacam jargon yang megah ketika diucapkan, namun ketika di kupas, tidak lebih dari pepesan kosong. Tidak ada alur kebijakan yang jelas, dan yang jelas hanyalah tidak ada dukungan dan yang memadai.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di bidang kesehatan saja, di sektor lain juga tidak kalah serunya. Sebagai contoh, pasca reformasi, jumlah kabupaten membengkak dengan ratusan kabupaten pemekaran. Pada umumnya kabupaten baru relatif miskin baik dari sisi penduduk maupun infrastrktur. Lalu apa program pembangunan pertama di kabupaten baru tersebut? Infrastruktur!.

Infrastruktur dasar (jalan,jembatan, dan lain-lain) memang penting. Tetapi yang muncul adalah infrastruktur untuk para pejabat baru: kantor bupati lengkap dengan ‘istana-nya’, kantor dinas, alat transportasi (baca: mobil plat merah), dan macam ragam infrastruktur pelengkap termasuk gedung rumah sakit megah tadi.

Lalu bagaimana dengan berbagai upaya promosi dan pencegahan? Sudah lupa tuh! Tidak salah jika Empat Sehat Lima Sempurna bisa ngetop, PUGS bahkan dalam ‘tangga lagu billboard’ tidak masuk.


Membangun Paradigma Sehat

Upaya promotif dan preventif pada umumnya berkaitan dengan berbagai kegiatan yang berada di luar kewenangan Kementerian Kesehatan. Pembatasan konsumsi rokok, keselamatan transportasi, dan fasilitas olahraga adalah contoh kebijakan non-sektor kesehatan yang berdampak langsung bagi derajat kesehatan masyarakat. Tetapi kewenangan Kementerian Kesehatan dalam bidang ini sangat terbatas. Oleh karenanya Kementerian Kesehatan harus mengambil inisiatif untuk mempromosikan hal-hal di atas.

Proses ini disebut dengan pembangunan berwawasan kesehatan atau paradigma sehat dalam pembangunan. Artinya pertimbangan keselamatan dan kesehatan manusia harus menjadi salah satu menjadi pilar utama kebijakan sektor lainnya.

Tanpa adanya leadership dari jajaran pejabat bidang kesehatan, maka paradigma sehat dan upaya pormotif dan preventif hanya akan menjadi pelengkap pembangunan saja. Semua pihak, termasuk jajaran kementerian kesehatan sendiri, hanya akan menilai keberhasilan dari jumlah gedung megah, sementara upaya promotif dan preventif akan menjadi angin lalu.

Tidak mengherankan jika hingga pada usianya yang ke 15 tahun ini, PUGS tidak akan pernah mencapai puncak kurva life cycle-nya.  PUGS akan tetap menjadi pesan yang ideal, rapi tersimpan dalam kertas kerja. Ramai dibicarakan di antara para ahli gizi, tetapi gemanya di masyarakat ‘nyaris tidak terdengar’ – meminjam sebuah tag iklan mobil.

——

Penulis adalah mahasisa doktoral di Australian Demographic and Social Research Institute (ADSRI), Australian National University, Canberra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: