Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Sekali berarti, sudah itu mati

Posted by pungkasali on October 5, 2011

Chairil Anwar menuliskan baris puisi tadi di tahun 1943 dalam semangat Diponegoro.

Pangeran Diponegoro, keluar dari tahta Mataram yang di anggap telah menyalahi agama, berkhianat pada rakyat, dan berkhidmat pada Belanda. Lalu ia mengibarkan Perang Jawa, memberi perlawan hebat sampai tahun 1830. Duapuluh lima tahun kemudian, sang pangeran meninggal di pembuangan. Ia dikenang sebagai pejuang yang memberi arti sebelum matinya.

Kemarin pagi, Ralph M. Steinman, menerima penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan: Nobel bidang Fisologi dan Kesehatan. Ralph, pada tahun 1973, menemukan sel dendrit yang merupakan barisan pertahahan terhadap serangan penyakit. Dunia kita sungguh berbahaya dan penemuan Ralph sangat berarti dalam menangkis bahaya tadi. Empat hari yang lalu, Ralph meninggal dunia. Sekali berati sudah itu mati.

2 Oktober 1187. Ini abad pertengahan. Di Eropa di sebut abad kegelapan. Salahudin dengan 10.000 bala tentara-nya telah mengepung kota. Tidak ada satu celah-pun yang bisa meloloskan harapan penduduk Jerusalem dari balas dendam penduduk yang terusir dari negerinya sendiri. Tetapi kemudian seluruh penduduk kota di bebaskan. Muslim, Yahudi, Kirsten, bahkan pimpinan yang telah mengingkari janjinya pun dibebaskan. Enam tahun kemudian, Salahudin mati, tidak di palagan, dan belum sempat naik haji. Tetapi ia sangat berarti, semasa hidup, maupun setelah mati.

Diponegoro, Ralph, Salahudin telah begitu memberi arti kita semua. Perjalanan hidup mereka seperti yang di tuliskan dalam baris puisi Dipnegoro tadi. Ketika hidup, mereka berjasa, setelah mati mereka di kenang.

Dalam hidup kita yang sekali ini, kita juga ingin memberi arti, karena kebaikan kita. Seperti Mahatma Gandhi, seperti Jehane d’Arc, seperti Abu Bakar Sidiq, seperti Mandela, atau pahlawan tak di kenal. Bukan dikenal karena ‘ulah’ kita seperti Pierre Cauchon, seperti Caligula, Abu Jahal atau begal dan politisi bengal.

Tapi, susah ya? Susah bukan main jika kita ingin di dikenal di dunia.

Yang peneliti ngiler mendapat nobel, yang pembalap sepeda ingin yellow jersey, yang aktris mengidolakan Christina Hakim, politisi seperti Mohammad Natsir, filosof layaknya Plato. Penduduk Indonesia 237 juta. Saat ini, itu sudah sangat banyak. Bagaimana kita bisa menjadi ‘berarti’ di hadapan 6 milyar penghuni bumi? Bagaimana ingin diingat di hadapan 106 milyar manusia yang pernah hidup sepanjang sejarah manusia?

Sekali berarti, tidak mesti tertulis di lembar sejarah dan musium, tidak mesti mendapati 10.000 teman di Facebook, tidak mesti terbang keliling dunia dari benua ke benua. Kita bisa menjadi berarti sekali bagi keluarga kita, bisa keliling dari pesta kawinan ke sunatan, pada saat 17-an, pada saat kemarau atau musim hujan.

Jika kita melewati Highway 31 dari Canberra/Yass ke arah selatan, 5 mil sebelum Gundagai kita akan melewati Monumen Dog on the Tuckerbox. Monumen ini bercerita tentang kisah mistik seekor anjing yang setia menunggui kotak makan siang majikan-nya yang ternyata telah meninggal. Dengan setia dia menunggu tuckerbox itu, sampai anjing itu sendiri mati. Anjing itu telah memberi arti kepada majikannya, dan kini setelah mati, digoreskan dalam lembar sastra, didongengkan pada anak-anak dan dipatenkan dalam sejarah Australia.

Tidak mesti harus menjadi manusia untuk berarti bagi kemanusiaan. Bahkan cerita imajinatif pun bisa berfungsi demikian.

Di dunia flora, dunia yang tidak menuntut balas budi, puisi Chairil Anwar menjadi tanpa batas. Tanaman perenial adalah tipikal semangat Diponegoro. Pohon pisang yang sedang ditunggu-tunggu buahnya di Canberra, padi yang menjadi harapan petani, pohon cabe yang bernilai menjelang lebaran, juga semangka yang menjalar di pematang adalah tanaman segera mati setelah menghasilkan buah atau biji. Sekali berbuah, sudah itu mati. Benar-benar berbuah lalu benar-benar mati.

Hidup kita bisa saja menjadi berarti bagi dunia luas maupun dunia kecil di sekeliling kita. The Beatles bisa menciptakan ‘Hey Jude’ yang mengoncang dunia, tapi kita bisa menyanyikannya di depan ayunan si kecil. Hippocrates menghasilkan Corpus dan menjadi bapak kedokteran, kita bisa menggunting kuku si kecil agar tidak infeksi. JK Rowling menyihir dunia dengan Goblet of Fire, saya mencoba berakrobat dengan tulisan pendek ini. Tidak mendunia, tapi mudah-mudahan berarti.

Setiap jiwa mempunyai potensi berkreasi. Karenanya kita memiliki kebebasan berapa besar arti yang akan kita haturkan ke dunia.

Yang terpenting adalah, agar jasa dan kenangan akan kita adalah tentang kebaikan. Sekali berarti sudah itu mati.

Jangan sebaliknya. Sekali mati, berarti sekali. Karena selama hidup kita membuat ‘ulah’, maka kematian kita menjadi sangat ‘berarti’ bagi kenyamanan orang lain. Mudah-mudahan tidak.

Makanya, jangan dulu mati, sebelum memberi arti. Dan karena saya merasa belum memberikan arti yang menjadi bisa menjadi magnus opus saya, saya masih punya alasan untuk tetap hidup🙂

Canberra, 5 Oktober 2011

One Response to “Sekali berarti, sudah itu mati”

  1. emma said

    Laik diz, Ayah Tiara!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: