Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Migran, remiten, dan komodo

Posted by pungkasali on November 25, 2011

Sebagai sebuah negara dengan penduduk terbesar ke-empat di dunia dan sebagai tetangga dekat, tentu banyak orang Indonesia yang menjadi migran di Australia.  Ada yang bekerja, studi, atau memang sudah menetap di sini.

Bagaimana posisi migran Indonesia di banding negara lain?  Berikut adalah wajah migran Indonesia dalam angka.

Menurut data sensus Australia 2006, pada tahun 2006, di Australia tercatat 50.974 orang yang lahir di Indonesia. Sekitar 30 persen di antaranya telah berada di Australia lebih dari 20 tahun. Kemudian, setiap tahun ada sekitar 2.500 pendatang baru dari Indonesia yang tiba di down under. Tetapi perlu diingat, bukan berarti mereka keturunan Indonesia, karena orang yang lahir di Indonesia tidak mesti keturunan Indoenesia. Nah, dari angka tadi, yang mengaku keturunan Indonesia (Indonesian ancestry) adalah sekitar 34 ribu orang.

Guna memberikan gambaran yang lebih utuh, kita bisa membandingkannya dengan negara lain. Untuk kita cari pembanding yang juga bertetangga di Asia Tenggara (Catatan: Kita tidak perlu membandingkan dengan India dan Cina, kan?).

Ternyata, walaupun Indonesia jagoan dalam hal jumlah penduduk di tanah air, migran asal Indonesia masih kalah jauh dengan Filipina yang jumlahnya lebih dari 160 ribu, dan Malaysia 120 ribu. Dari jumlah itu yang keturunan Filipina sebanyak 120 ribu, Malaysia 92 ribu. Penduduk keturunan Vietnam di Australia bahkan mencapai 160 ribu.

Partanyaannya adalah mengapa orang Indonesia hanya sedikit yang menjadi migran di Australia?

Alasan pertama yang muncul di benak kita adalah terkait dengan budaya klasik merantau. Kita lebih seneng ‘ngumpul’ dari pada ‘mangan’. Lebih nyaman belanja di Tanah Abang daripada Paddy’s Market, dan lebih isis dengan kaos oblong daripada jumper. Dan tentu saja lebih gurih lemper dari pada whopper JR. Perbedaan budaya adalah hal yang paling sulit untuk di atasi, dan ini bisa menjadi alasan utama sepinya Australia dari celoteh migran asal Indonesia.

Apakah tenaga kita tidak laku di sini? Kalau buruh petik kopi dan tukang ojek, mungkin tidak laku. Tapi Indonesia sudah maju. Tenaga kerja yang terlatih, berpendidikan, dan modern cukup melimpah. Setiap kita menengok ke kanan kita temui lulusan universitas, tengok ke kiri lulusan akademi, dan orang Indonesia bukan pemalas. Jadi ini mungkin bukan alasan.

Atau mungkin kendala bahasa? Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Singapura, jelas lebih mahir dalam berbahasa Inggris. Sebagian dari negara itu juga sama-sama anggota negara persmakmuran. Wajar kalau dalam berbahasa, tinggal menyesuaikan cengkok  ‘crikey’ saja.

Secara umum, kemampuan bahasa Inggris penduduk Indonesia memang lebih rendah. Thailand yang bahasa Inggrisnya belepotan seperti kita juga sedikit migrannya. Vietnam, Yunani, Italia dan juga tidak berbahasa Inggris banyak menjadi migran di Australia, tetapi itu terjadi pada masa perang dulu. Ini tantangan yang harus di jawab di dalam negeri: membudayakan bahasa Inggris. Jangan sampai kalah dong bahasa alay. Sesuatu banget!

Bagi Indoenesia, migran di luar negeri membawa berkah tersendiri, yang di sebut remiten. Yaitu uang yang masuk ke Indonesia dan dianggap sebagai devisa. Di beberapa negara lain, seperti Hongkong, Arab Saudi, dan Malaysia, remiten migran Indonesia cukup signifikan; tidak saja bagi perekonomian negara secara umum, tetapi untuk keluarga dan kerabat. Bahkan para paranormal seperti Djoko  Widayat kecipratan banyak karena lebih ngetop di Hongkong daripada negeri sendiri.

Satu lagi peran para migrant adalah sebagai duta budaya.  Mie goreng dan satay sudah cukup ngetop di Australia, tetapi mengapa Tom Yam Kung bisa lebih populer daripada rendang? Lalu ini: diperlukan JK dan 100 juta SMS agar komodo untuk masuk tujuh keajaiban dunia ala Indonesian Idol.

Selain menyumbang remiten, warga Indonesia yang bermukim di luar negeri termasuk Australia adalah potensi yang luar biasa untuk bisa mempromosikan kekayaan dan kearagaman Indonesia.  Ikon-ikon budaya tersebut bisa menjadi ikon dunia dengan bantuan para migran.Semakin banyak warga Indonesia menjadi migran di luar negeri akan semakin nyata kontribusinya. Asal saja tidak lupakan Indonesia.

pungkas b. ali – Canberra – 21.11.2011 . notes: tulisan ini dimuat di bulletin Poster, Australia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: