Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Pernikahan: bukan budaya kerupuk

Posted by pungkasali on December 29, 2011

Banyak pujian dan do’a mengalir ke sebuah pernikahan. Pertalian suami istri menjadi peristiwa budaya dan makanan jiwa. Tetapi pernikahan juga adalah aktifitas ekonomi, yang mengeluarkan biaya, yang bisa besar dan bisa kecil dilihat dari nominal uang yang diperlukan untuk sewa gedung, makanan, dan undangan.

Bagaimana kalau sebuah komoditi di nilai dengan budaya?

Berbagai pernikahan ‘extravaganza’ muncul akhir-akhir ini. Beberapa waktu lalu adalah pernikahan William dan Kate, yang cincin dan batu permatanya saja dinilai dengan puluhan milyar. Ketika Laksmi Mittal menikahkan anaknya, diperlukan 55 juta dollar untuk mencetak undangan perak, membayar tiket pesawat, dan sewa mansion. Semalem, kata-temen-teman Melayu, Pak Hatta menikahkan anaknya, yang pasti perlu beberapa milyar…

Serta merta, banyak cibiran mengalir ke pernikahan jenis ini.

Coba bayangkan, katanya! Berapa ton beras yang bisa disumbangkan ke fakir miskin, berapa ribu murid yang bisa dibiayai sekolahnya, dan betapa tingginya tumpukan kerupuk, dari biaya pernikahan itu?

Tapi maaf, saya tidak bisa membayangkan menumpuk krupuk hingga ke planet Mars dari biaya ijab kabul. Apa kata ET dan alien di sana: homo sapiens mengirimi kita pesan melalui hollow white discs!

Yang mencibir, mungkin tidak punya uang sebanyak itu. Bagi yang dicibir, uang se’banyak’ tidak banyak: gold coin donation.

Ketika Mittal, si raja metal, mengeluarkan 55 juta dolar, ia hanya mengeluarkan 0,01 persen dari kekayaannya. Ini setara dengan seorang yang punya deposito 1 milyar, tapi hanya mau mendebit 100 ribu untuk pernikahan anaknya.

Saya kira kita tidak mengatakan bahwa pernikahan seharga dua porsi nasi padang Pagi-Sore sebagai suatu yang mewah bukan?

Pernikahan adalah sebuah peristiwa besar dalam hidup kita. Katakanlah ia adalah separuh dari perjalanan hidup kita.Ada yang mengatakan, itu adalah awal hidup baru. Mari kita rayakan dengan gembira, dengan memberi kabar kepada sanak keluarga, handai taulan dan sabahat dengan memberikan hidangan yang terbaik.

Mengapa tidak diberikan saja kepada fakir miskin?

Semuanya ada bagiannya masing-masing. Ketika kita mencibir pernikahan berjuta-juta, kita tidak tahu berapa yang mereka telah berikan ke fakir miskin. Mungkin lebih kecil, bahkan mungkin lebih besar. Bahkan kita sendiri lupa, kapan terakhir kali menyumbang panti asuhan.

Dalam harta kita, ada bagian fakir miskin. Ada bagian kita menghormati pernikahan sebagai budaya dan ajaran agama.Justru alangkah senangnya kita melihat, bahwa pernikahan masih kita agungkan.

Di belahan dunia lain, pernikahan antara laki-laki dan perempuan ini mulai menjadi hal yang unik, ketika orang lebih memilih hidup bersama seterusnya, memilih jenis sesamanya, atau tidak memilih sama sekali.

Maka, selama pernikahan masih menjadi sebuah keagungan bagi perjalanan hidup kita, tidak ada yang berlebih-lebihan. Asalkan semua mendapat bagiannya. Asalkan pernikahan tidak hanya dinilai dengan uang, tetapi dengan nilai keagungan. Dan tidak menjadi sebuah permainan yang usianya lebih pendek dari makan siang.

Selamat berbahagia bagi Willian & Kate, untuk Ibas & Aliya, untuk Begenk & Lauren, untuk Nugo & Imelda, untuk Martha & Dewi, dan bagi Fulan dan Fulanah, … bagi para pecinta kelangsungan peradaban yang luhur.

Canberra, 30.11.2011

One Response to “Pernikahan: bukan budaya kerupuk”

  1. subhanzein said

    Sangat bernas dan menarik, Mas Pungkas! Argumennya sangat menyakinkan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: