Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Di mana Indonesia?

Posted by pungkasali on April 19, 2012

Jawabannya cukup beragam.

Menurut lulusan sekolah dasar, lokasi Indonesia cukup mapan dan klasik: negeri kaya raya di antara dua benua dan dua samudera. Bagi para pelancong, Indonesia berada di sebelah Bali. Pengagung demokrasi mengatakan Indonesia berada urutan kedua negara demokrasi terbesar di dunia. Menurut Transparancy International , bisa sebaliknya yaitu berada di urutan no dua dari bawah. Dan bagi tweater, Indonesia berada di top trending karena balada dua artis berlainan jenis.

Jadi apapun judulnya, Indonesia ada di mana saja.

Ketika  saya ke bank di kampus kemarin siang, saya melihat brosur menarik:  “Bargain holiday travel to paradise”. Kebetulan saya akan pulang ke Indonesia beberapa minggu ke depan, pasti bisa dapat tiket murah dari promo ini.  Lalu saya lihat daftarnya:  Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina dan – ini dia – In…dia.

Lho, di manakah –donesia-nya? Kok travel melompat seperti kanguru? Apakah negeriku tidak mendapat kapling di surga?

Bagi saya, ini bukan yang pertama. Saya sering mendapati nama ’Indonesia’ menghilang:  sambungan telepon internasional otomatis, transaksi kartu kredit online, garansi internasional, dan lain sebagainya. Di siaran televisi saya ingat serial kuliner Pho’s Kitchen, My Srilanka Kuruvita, keliling Vietnam dengan Nguyen, dan english style –nya Nigella. Tapi tidak ada jalan sutera ala Bondan McNyus atau Rudy Chaerudin.

Indonesia adalah negara  terbesar no 4 dalam jumlah penduduk dan 20 besar ekonomi dunia, tetapi  mencari ‘Indonesia’ bukan hal yang mudah di Australia. Dari Lenovo bahkan hingga boneka kangaroo, made in China. Lalu Srilangkan tea, Hollywood movie dan Vietnamese noodle. Mau cari label India? Tidak perlu beranjak dari tempat tidur, cukup angkat telepon pelayanan pelanggan, maka Sakhruk Khan dengan segar menyapa hingga kasur anda.

Jadi di manakah Indonesia?

Saya kesulitan menemukan jawaban. Dengan menggali berbagai teori konspirasi-pun!

Harus kita akui, dalam beberapa hal kita mengalami kemunduran.

Contohnya, beberapa tahun terakhir kita tidak lagi mendengar Indonesia Raya dari cabang olahraga bulutangkis. Teman-teman dari Perth juga mungkin lebih kenal Manny Pacquio daripada tetangga sebelah Chris ‘ the dragon’ John sang Super Champhion. (Tolong jangan tanyakan sepak bola dan sepak takraw!)

Beberapa waktu lalu, Majalah Tempo menyoroti masa senja studi Indonesia dari Cornell, Barkeley, Washington, Leiden, dan Moskwa.  Melbourne, Canberra, dan Singapura memang luput dari sorotan. Ini menunjukkan bahwa study tentang Indonesia yang cukup vibran di Australia, juga tidak dikenal, bahkan oleh media di Indonesia.

Tetapi saya tidak pesimis dengan ‘delabelisasi’ tersebut. Dalam banyak hal sebenarnya kita mengalami kemajuan. Misalnya Indonesia ke G20, yaitu kumpulan 20 negara-negara dengan PDB paling tinggi.  Siapa tak kenal batik, tari kecak, Indomie goreng? Ada Bali, ada Agnes Monica. Dan… mungkin Ayu Ting-Ting!

Dari sisi lain, langkanya label Indonesia ada hikmahnya. Saat ini ketika banyak negara Eropa seperti Yunani, Spanyol, Inggris dan Italia kalang kabut, banyak negara lain ikut ribut karena ketergantungan perdagangan yang tinggi dengan Eropa. Infrastruktur di kota-kota tua di Italia memang sudah ada sejak jaman Romawi, kokoh dan indah. Tetapi kita tidak melihat denyut pembangunan di sana.

Indonesia bersama Australia masih terus melaju. Di Australia, kita lihat infrastruktur yang sangat bagus tapi kita juga melihat pembangunan terus tumbuh dan berjalan. Indonesia , masih ketinggalan, tetapi kita juga melihat banyak buldoser, crane dan truk semen lalu lalang. Artinya Indonesia juga sedang tumbuh. Bahkan jauh lebih cepat. Langkanya label Indonesia di luar negeri, menjadikan Indonesia cukup dalam menahan krisis ekonomi.

Kembali ke paradise.

Tidak mudah memang memasukkan nama Indonesia dalam daftar travel to paradise atau cheap international call bundled. Kita tidak tahu sebabnya, mungkin jalan kita yang banyak berlubang masih masuk kategori jalan neraka menuju maut, mungkin jaringan serat optik untuk telepon dan internet kita tersangkut di keruwetan birokrasi dan terpolusi oleh korupsi di Jakarta. Chris John, seperti kebanyakan orang Indonesia, tidak gila publisitas.

Tapi kita punya alasan untuk optimis. Basis ekonomi dan budaya yang kuat, banyaknya migran Indonesia di Australia yang berpotensi , dan kecintaan akan tanah air menjadi modal yang ampuh.

Sehingga suatu ketika jika ada pertanyaan: di mana Indonesia?

Jawabannya bisa ada di mana-mana. Barangkali!

Pungkas Bahjuri Ali –  19 pril 2012

One Response to “Di mana Indonesia?”

  1. Saya sangat mengagumi tulisan Mas Pungkas yang ini. Bagus sekali!🙂

    Subhan Zein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: