Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Metamorfosa Kereta Balik (Renungan di Hari Angkutan Umum Nasional 24 April 2012)

Posted by pungkasali on April 25, 2012

ImageSepuluh tahun yang lalu, saya memasuki  sebuah dunia baru. Dunia kerja.  Seperti ribuan pekerja lainnya, kereta listrik (KRL) Bogor – Jakarta,  saat itu adalah pacar pertama.  Menjadi teman setia, baik karena terpaksa ataupun karena belum ada pilihan kedua.

Tanpa perlu banyak ba-bi-bu, kita semua sudah bisa membayangkan bagaimana suasana KRL antar jemput ini. Penuh keringat, penuh injakan, dan penuh cerita. Dan yang pasti: penuh penumpang!

Nah, di antara berbagai KRL itu, ada sebuah kereta yang hanya ‘berlayar’ sampai di Manggarai (tidak sampai ke Beos di Jakarta Kota), lalu kembali ke Bogor.  Itulah yang disebut dengan ‘kereta balik’. Kondisi fisiknya sama, hanya peluang mendapatkan tempat duduk, masih ada.  Karenanya, jika di antara puteri  ada Cinderella, maka si antara KRL ada kereta balik yang menjadi incaran para pangeran keringatan seperti saya.

Sepuluh tahun yang lalu, suasana KRL begitu kusam. Kursi berjumpalitan. Pintu kereta diambang kebimbangan: tidak bisa terbuka, dan yang sudah terbuka tidak bisa menutup.  Jendela kaca banyak yang pecah karena lemparan cinta para murid yang kurang terpelajar sepanjang jalan.

Antara Jakarta-Depok, penumpang seperti teh botol dalam krat. Antara Depok-Bogor, seperti pasar berjalan: ada bacang, sandal jepit, koran, sampai kipas elektrik bersliweran.  Lagu Slank, Beatles, puisi Khalil Gibran sampai shalawat nabi mengharu biru. Pemain gaple, copet, dan mahasiswa UI dan Gunadarma, menjadi gerombolan.

Dalam suasana seperti itu, ku tahu apa yang ku mau. Ialah pintu kebimbangan tadi. Duduk di tangga, adalah alternatif untuk menikmati AC alam dan dan menikmati dinamika kehidupan sepanjang rel.

***

Singkat cerita!

Pohon jati super yang saya tanam sudah siap panen perdana, anak saya sudah bisa menendang bola ala Drogba dan Kijang jantan tidak lagi berkeliaran di jalan raya. Banyak sekali yang berubah.

Sepuluh tahun bukanlah bukan waktu yang singkat. Bahkan cukup panjang untuk meluruhkan seluruh pigmen hitam rambut kita, dan cukup ampuh untuk mengeluarkan 3 penghuni Istana Negara.

Lihat saja. Kini Indonesia bangga sebagai demokrasi terbesar di dunia ketiga. Masuk dalam daftar 20 kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yang antara lain sumbangan jutaan mobil dan sepeda motor baru.

Suatu ketika di bandar udara Radin Inten II di Natar, Lampung, untuk pertama kalinya saya mudik melalui udara. Tentu saja saya tidak sendirian. Ada ratusan penumpang lainnya yang (harus) dengan sabar menunggu 10 jadwal penerbangan.  Padahal  satu dasawarsa sebelumnya, kami semua masih berjejal di pelabuhan Bakauheni. Cukup dengan Rp 4.500, bisa menikmati feri Baruna yang sangat terkenal hingga menjadi sebuah serial drama di TV.

Hanya ada 2 Mall di Kota Bogor.

Tapi itu dulu. Sekarang Mall sudah meng-Indonesia menjadi mal. Keberadannya menggantikan gardu ronda dan ruang parkirnya lebih luas dari lapak dagangannya.

Di banding sepuluh tahun lalu, aktor dan aktris lebih cantik dari mobilnya. Kini mobil-mobil itu lebih lebih mengalahkan gincu para aktris itu.

***

Inilah 'pintu kebimbangan' itu

Nah, setelah sepuluh tahun,  kereta Bogor-Jakarta banyak berubah.

Commuter Line. Nama yang canggih, setara dengan Metroline di London atau Mass Transit Railway Hongkong.  Tidak gampang lho mencari nama seperti ini. Pasti hasil dari brainstorming berhari-hari jajaran pimpinan dan bertahun-tahun rekayasa engineering para ahlinya.

Harga tiketnya 3 kali lipat. Warnanya krem, tidak norak sepert warna gulali dulu. Ber-AC, kaca jendela mulus, kursi teratur rapi. Tidak ada mangga, pengemis, dan Rhoma Irama.

Pintu sudah tidak bimbang lagi, di buka dan di tutup jarak jauh oleh masinis. Luar  biasa! Kereta ini kini tidak perlu menyingkir dari rel utama, ketika KRL Pakuan Ekpress lewat mengangkut tuan-tuan  berbaju katun dan berdompet tebal.

Itu kesan saya pertama saya, setelah bertahun-tahun tidak naik KRL.

***

Suatu sore, hari berikutnya,  saya menunggu kereta di Stasiun Manggarai.

Setiap 7 menit kereta lewat. Satu, dua, tiga…empat! Semuanya padat, sungguh padat.Masih seperti teh botol, hanya sekarang teh botolnya dingin karena semuanya ber-AC.

Nangtung deui..nangntung deui!  Teringat saya kepada teman saya sepuluh tahun yang lalu. Selalu menggerutu karena pantatnya tidak pernah menyentuh kursi empuk kereta. Tidak pernah!

Karena itu, masih mencoba bersabar menunggu sampai ada kereta yang longgar, sampai terdengar pengumuman dari toa : “kereta dari Bogor berhenti di manggarai untuk kembali ke Bogor”.

Insting saya yang terasah sepuluh tahun lalu, masih ternyata bekerja dengan baik. Saya sih tidak heran!

Yang saya heran, ternyata sebagian besar calon penumpang di peron sore itu berbondong-bondong menyerbu kereta tadi.  Kereta balik.

Walaupun ia adalah KRL yang tanpa AC dan lantai, kursi,  jendela  seperti dulu, tapi tenyata ada penunggunya. Banyak pula. Seram!

Para "penunggu" kereta di stasiun

Maaf, saya agak mengada-ada, karena ada perubahan kok. Selain namanya, sekarang ada jeruji besi ampuh yang melindungi kaca dari lemparan batu di jalan. Di atap kereta sekarang terpasang, kawat untuk menghalagi penumpang yang naik di atasnya.

Itu metamorfosanya. Tetapi, justru itu menunjukkan tidak adanya perubahan karena para pelajar itu masih setia dengan tradisi mereka.  Masih banyak yang mencoba naik ke atap.Kalau kita lihat ke dalam, masih berdesakan seperti dulu, saling tukar menukar bau keringat. Comfort zone mengkerut menjadi hitungan sentimeter. Kursi yang berjumpalitan jadi rebutan, dan lantainya laiknya gelombang lapangan golf Augusta.

Dan pintu itu… masih tercekat (Akhirnya saya menemukan tempat favorit saya).

Setelah sepuluh tahun, sekarang saya bisa mengenakan Salvatore Ferragamo di ujung kaki, Tissot chronograph di tangan kiri, batik Margasari  dan handphone android. Mereka sebenarnya lebih cocok naik kereta Frecciargento dari Roma-Venesia.  Tapi kali ini, di pintu macet itulah nasib barang-barang bermerek saya.

***

Rasanya  stagnasi  dalam kereta itu juga terjadi di mana-mana dalam sistem tranportasi dan dalam kehidupan sehari-hari.

Dulu di awal masa bekerja saya bus jurusan Sukabumi-Jakarta juga adalah transport andalan saya. Berangkat dini hari, badan masih segar. Tetapi ketika pulang, badan penat, lalu lintas padat, dan hanya ‘dihibur’ oleh suara pengamen, yang suaranya lebih berisik dari mesin bus Marcedes Benz tua Laju Utama yang tidak ber-AC itu

Lalu masa itu selesai, karena saya meneruskan kuliah luar negeri. Ketika kembali ternyata kondisi tidak berubah. Lulusan sebuah institut engineering ternama itu, ternyata tetap menjadi pelanggan setia Laju Utama, dan penikmat pengamen yang tetap exist di udara.

Setelah sepuluh tahun berlalu, kita begitu antusias dengan banyak inovansi. Jam tangan Tissoot Swiss saya, bukan hal yang aneh di antara Rolex made in China. Salvatore Ferragamo Italia, menjadi satu di antara lautan fashion Gucci, DG, Zarra made in China, juga. Jeruk Medan tenggelam di antara mandarin. Ada iPod dan iPad, yang tidak asing bagi iNem si pelayan seksi.

Ketika di negara lain, teknologi sudah siap membawa pelancong menembus luar angkasa; di sini hanya angan-angan kita yang baru bisa menembus mendung kejumudan.

***

Banyak yang tidak berubah.  Itulah yang sebenarnya!

Yang berubah hanyalah namanya.

Yang berubah adalah para penumpangnya yang sepuluh tahun kemudian menjadi semakin tua. Otot-otot bisep dan trisep perkasa mereka sudah ikut-ikutan nangtung (bhs Sunda=menggantung)

Yang berubah adalah harga ticketnya. Yang berubah adalah kemacetannya. Untuk menikmati transport nyaman, harus menjadi super kaya guna membeli Toyota Alpard atau Bentley, helikopter, atau membayar voorijder.

Tetapi sebagian besar kita tidak punya pilihan itu. Tetap setia naik tangga kereta, tetap setiap berlari-lari mengejar bus-bus murah. Terlelap kembali di antara selentingan gitar pengamen dan salesman produk-produk Cina, harus turun dari bus yang tidak juga mau berhenti.

Tampaknya ada yang tersasar jalan dalam pembangunan sistem transportasi kita.  Sepuluh tahun berlalu, tetapi sistem transportasi kita ikut-ikutan macet di jalan raya.

Kasihan generasi sekarang ini, nama keren, gaya metroseksual, makan di McD, tapi berdesakan di kereta, bus dan jalan raya, dan masih mengidolakan kereta balik sebagai Cinderella.

Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Karena ini bukan salah siapa-siapa. Ini salahnya penguasa.

Penguasa yang tidak cukup berusaha untuk mengalirkan hawa dingin dan menyediakan kursi empuk di bus dan kereta, karena sibuk memilih kursi nyaman seharga 24 juta untuk dirinya sendiri. Para dodol itu.

Dulu dodol menjadi penganan favorit kita.  Sejak kapan mereka menguasai negeri  ini?

25 April 2012

Pungkas Bahjuri Ali

One Response to “Metamorfosa Kereta Balik (Renungan di Hari Angkutan Umum Nasional 24 April 2012)”

  1. Saya tersenyum berulang kali membaca postingan ini. Salut buat Mas Pungkas. Tulisan semacam ini harus lebih banyak di-‘suarakan’, di milis, atau pun media lainnya.

    Jangan berhenti mencerahkan, Mas!🙂

    Subhan Zein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: