Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Tuntas

Quest for A Better Life

Six Week Two – ADS 2008

Posted by pungkasali on May 9, 2008

Everybody is happy. Good luck guys!!

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

Picture Grande

Posted by pungkasali on May 9, 2008

Taken in 8 May 2088, one day before closing ceremony. Good luck to all of you guys. See you in OZ. Keep in touch.

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

Recent Picture

Posted by pungkasali on May 8, 2008

Class DIscussion

Lunch at Pasar Festival, just across the street

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

List of 6w1 2008 – ADS Awradees

Posted by pungkasali on May 8, 2008

List of Classroom One

EAP 6 weeks 1, IALF Jakarta, 31 April – 9 May 2008

 

Heri Sutanta (Heri)

Teknik Geodesi & Geomatika FT UGM  

S1: UGM Yogyakarta; S2: ITC-Nederland; PhD: Unimelb  

herisutanta@ugm.ac.id or; herisutanta@gmail.com; herisutanta@staff.ugm.ac.id

 

Grace Yasmein Wijaya    (Grace)

Faculty of Biotechnology,  UNIKA Atmajaya, Jakarta

S1: Biologi ITB; S2: Adelaide; PhD: Adelaide   

grace.wijaya@atmajaya.ac.id

 

Rio Budi Rahmanto

KBRI Berlin, Departemen Luar Negeri

S1: UI;  S2: ANU; PhD: ANU   

rahmanto@indonesian-embassy.de; buziez@gmail.com

 

Pungkas Bahjuri Ali (Pungkas)

Planner; BAPPENAS

S1: IPB Bogor;  S2: Rensellaer Polytechnic Institute; NY; PhD: ANU

pungkas@bappenas.go.id; pungkas.ali@gmail.com

 

Stefani Daryanto (Stef)

Pendidikan Biologi Universitas Pelita Harapan  

S1: IPB; S2: UNSW; PhD: UNSW 

daryantostefani@hotmail.com

 

Nilam Andalia Kurniasari (Nilam)

Fakultas Hukum, UNAIR

S1: UNAIR; S2: NUS Singapore; PhD: Unimelb     

nia79@yahoo.com

 

Revalin Herdianto (Edi)

Teknik Sipil, Politeknik Universitas Andalas   

S1: ITB; S2: Flinders; PhD: UWA    

revalin@yahoo.com

 

Risma Illa Maulani (Risma)

Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin     

S1: UNHAS; S2: U Queensland ; PhD: UQ    

riezzy2000@yahoo.com

 

Windraty Ariane Siallagan (Ade)

Ditjen Perbendaharaan, Departemen Keuangan     

S1: UI; S2: Maastricht; PhD: Canberra

adeariane2002@yahoo.com

 

Rahayu  (Ayu)

Bappeda Kendari, Sulawesi Tenggara 

S1: Pertanian UNHAS; S2: ANU; PhD: Griffith, Brisbane

ayukendari@yahoo.com

 

Heru Wibowo (Heru)

Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan    

S1: FE Brawijaya;  S2: International Univ. of Japan; PhD:

heruwib@yahoo.com; heruwib@gmail.com

 

Muhrisun (Rison)

Pasca Sarjana, UIN Sunan Kalijaga

S1: UIN; S2: McGill, Canada; PhD: Unimelb / Monash

risonaf@gmail.com; rison_afandi@yahoo.com

 

 

Posted in Classroom One | Tagged: | Leave a Comment »

The World Population Over Time

Posted by pungkasali on May 5, 2008

How fast does the world population grow?

1 : 200 million

1650: 500 million

1800: 1 billion

1930: 2 billion

1960: 3 billion

1975: 4 billion

1987: 5 billion

1999: 6 billion

(Siegel and Swanson, 2004)

 

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Classroom Jokes

Posted by pungkasali on May 5, 2008

Here are some jokes I managed to collect during the session:

1. Why do men don’t study gender? Answer: Because men are more interested in sex than in gender (Pungkas)

2. An Indonesian student went to NYC and ended up in a queue before entering the Liberty Statue. Then, he saw a man, with Indonesian look, standing just in front of him. Out of curiosity, he asked the man: "Are you from Indonesia?". The man replied, " No, I am sorry. I am not from Indonesia. I am from Mesir!" (Pungkas)

3.  A student was just about to get in a bus.  Then she paid the bus ticket with a 10 dollar bill. Since the fare is only 1 dollar, the driver would give her the change and ask her " How do you like the money?" She replied promtly: "O, I like it very much"  (Risma)

4. A new student went to a campus post office to post a letter to his friend in Indonesia. The letter was not stamped, so he would like to buy one. Then, he said to the person in the office: " Excuse me, I would like to buy a franco!" (Rison)

Dear fellow, please add some more….

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

Where is Curious George?

Posted by pungkasali on May 5, 2008

Looking for George

Here is Rio.  We’re still in the zoo.

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

Some pictures of us

Posted by pungkasali on May 5, 2008

Class in the zoo

We’re in the zoo (Ragunan). Outdoor learning is fun.

Left to right: Heru, Stefani, Edy, Heri, Pungkas, Ayu, Nilam, Grace, Risma, Douglas, Ade and Rison. Rio was taking the picture.

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

Welcome

Posted by pungkasali on May 5, 2008

This is all about PhD candidate at English Academic Praparation (EAP) class of Australian Development Scholarship Intake 2008. Selamat Datang. Please free to post.

Posted in Classroom One | Leave a Comment »

Ilmu Sang Nelayan

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Suatu ketika seorang yang besar dan berilmu tinggi ingin bepergian ke kota lain di seberang lautan. Maka ia menyewa seorang nelayan dengan perahunya untuk membawanya menyeberang. Udara nyaman, dan angin lautpun pun tenang.

Di tengah perjalanan keduanya mulai terlibat dalam sebuah percakapan menarik. Sang ilmuwan bertanya pada nelayan: “Ya Fulan, dapatkah kamu membaca dan berhitung?”

Sang nelayan menjawab: “Tidak.”

Hmm, sang ilmuwan mengangguk dan berguman: “Sayang sekali. Seperempat hidupmu telah hilang”

Angin yang mulai berhembus agak kencang dan ombak yang semakin tinggi tak mengusik mereka. Keduanya tetap asyik dengan tanya jawabnya.

Lalu bertanyalah ia kembali: “Tahukan kamu tentang ilmu perbintangan ?

Sang nelayan menjawab; “Tidak”

“Hmm, sayang sekali. Seperempat hidupmu telah kau sia-siakan?” guman sang ilmuwan lagi.

Lalu dilanjutkanlah pertanyaannya itu “Tahukah kamu, tentang ilmu dagang?”

Sang nelayan menjawab “Tidak”

“Hmm sayang sekali. Seperempat hidupmu telah terbuang”

Cuaca semakin buruk, angin bertambah kencang dan ombak tinggi menggulung-gulung. Perahu bergolak naik-turun dan terguncang-guncang hebat. Tapi keduanya tetap asyik dengan pecakapan mereka. Dan demikianlah, berbagai ilmu ditanyakan kepada nelayan, dan setiap kali nelayan menjawab “tidak” maka sepersekian hidupnya telah hilang.

Ketika cuaca makin tidak menentu dan perahu makin oleng, maka tak lama lagi perahu ini akan tenggelam. Keduanya segera terdiam. Dalam suasana mencekam itu tiba-tiba sang nelayan kepada orang yang berilmu tadi.

“Tahukah Bapak caranya berenang?”

Sang Ilmuwan menjawab “Tidak.”

“Hmm, sayang sekali. Seluruh hidup Bapak akan segera hilang!”

* * *

Hidup kita adalah bagaikan mengarungi samudera di tengah berbagai hantaman ombak, tiupan angin dan teriknya matahari serta derasnya hujan. Jika kita tidak mempunyai ilmu yang bisa menyelamatkan perjalanan kita menuju Illahi, maka akan lenyaplah seluruh makna hidup kita ini.

5 Januari 2001
Pungkas Bahjuri Ali

Posted in Cemeti | 2 Comments »

Kemasan Chitato dan Bungkus Tempe

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Sebelumnya aku ingin mengenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Jay Kumolilo. Aku seorang desainer ngetop sekaligus agen iklan bonafid. Saat ini aku sedang mendapat proyek dari sorang pengusaha tempe dari Tasikmalaya untuk mendesain bungkus tempe dan mengiklankannya supaya orang-orang tertarik dan menjadi barang yang “laris manis tanjung kimpul”. Bila yang ini berhasil aku segera mendapat order berikutnya yang lebih yahud.

Bagiku, ilmu perbungkusan sekarang memang luar biasa. Pada awalnya bungkus hanya berfungsi menjaga agar barang yang dibungkus jangan tumpah dan mudah dibawa. Sekarang bungkus juga menjadi ajang promosi, susunan zat gizi, resep masak, komik, numpang mejeng para artis, Satria Baja Hitam, prestise dll. Bahkan banyak bungkus makanan yang bisa digunting dijadikan rumah-rumahan, yang kaleng dijadikan wadah puplen, yang gelas wadah merica, pot atau sumpel ember bolong. Multifungsi. Luar biasa.

Inilah pinternya para produsen makanan. Istilah “bungkus” yang kesannya kuno di ubah jadi “kemasan”, lebih trendy dan modern. Makanan yang kurang enak jadi enak, yang isinya enak jadi tambah enak, yang gembel jadi mewah, yang malu-maluin jadi bahan pameran. Anak-anak yang nggak mau makan ketela, jika sudah diplintir-plintir jadi chitato, jadi rebutan. “Jagung meleduk” kalo sudah dibungkus kertas merah bergaris putih bertuliskan “popcorn” harganya langsung mahal. (Coba kalau namanya “berondong jagung”…..apa ya ngetrend?). Ia menjadi idola, dicari semua orang. Semuanya hanya karena bungkus eh…kemasan.

Nah kelihatannya ini bisa diterapkan pada tempe. Makanan satu ini sungguh sial nasibnya. Kasihan sekali. Padahal ia bergizi tinggi, jauh lebih tinggi dari chitos atau chitatos atau doritos dan tos-tos yang lain yang keropos itu, ia lebih sehat daripada agar-agar merah putih hijau yang isinya air melulu. Ia satu-satunya makanan nabati yang punya vit B. Tapi karena bungkusnya yang hanya daun waru atau daun pisang, ia jadi barang kuno. Sekali lagi kuno. Mau modern dikit niru-niru chitato…eh ketemunnya paling-paling plastik putih transparan itu.

Untuk mengubah citranya, ku adopsi proses reengineering alias perubahan radikal. Kini aku rancang bungkus tempe yang menarik, dan orang yang memandangnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Iklannya dengan nuansa modern dan citra mewah. Untuk meninggalkan kesan mendalam aku buatkan jargon untuknya yang aku sadur majalah “Tempo: enak dibaca dan perlu” menjadi :”Tempe: Enak dibacem dan perlu”.

Aku bungkus (eh..sekali lagi: kemas) tempe yang mirip kemasan rokok Marlboro. Bungkusnya keras, keren dan …..Nanti juga iklannya cowboy dengan gagahnya menunggang kuda merah sambil menggiring sapi. Wuss….ditengah hembusan debu..sang cowboy dengan gagahnya memegang kendali di tangan kiri dan …memegang tempe ditangan kanan!!!

Alternatifnya seperti kemasan mie kriting Indofood…cap dua telor. Walaupun isinya cuman cabe, kecap dan mie yang mbundet-bundet, di gambarnya ada mie, telor separo, hot wing …… Jadi nanti di kemasannya ada gambar tempe, dada ayam (kalkun bila perlu), udang merah delima dua biji, macaroni plus es krim sundae dengan toping stawberry disampingnya. Merknya tertulis Tempe Indah bola Pingpong cap dua telor plus dada kalkun. Emmmm.

Yang ini setting iklannya Doel dan Neng Sarah lagi duduk di Restoran Ayah Kanduang, menikmati tempe. Lalu tiba-tiba Mandra datang merebut tempe dibawa kabur sambir berteriak…”langsung ngacir”. Ini setting yang ditayangkan pada saat pertandingan balap mobil atau turnamen golf. Pasaran atas..cing! Desain aku selesaikan dalam waktu 2 bulan.

Ketika ide ini aku sampaikan ke sang pengusaha, ia tertarik sekali, dan ia setuju. Dan ia bayar mahal sekali…..! Hmm berhasil aku kali ini. Nah kalau gini kayaknya tempe bakal jadi rebutan. Dari warteg sampai Pasaraya Young and Trend.

Besoknya seorang ibu datang ke studio bersamanya seorang anak perempuan manis usia 10 tahun. Ehm…dapat order lagi nih. Pasti si Ibu latah pengen anaknya main sinetron. Di otakku sudah berjajar jutaan rupiah. Untuk tempe saja aku dapat sekian puluh juta kok, apalagi ini untuk anak manusia

Setelah sedikit basa-basi tahulah aku rupanya si ibu melihat iklan tempe di TV tetangganya dan tahu aku yang membuat spot. Serta merta ia menghadap dan bilang,” Mas Jay, tolong anak saya dibungkus dan diiklankan. Nanti saya bayar berapa saja semampu saya”. Lho kok? Aku kan bingung, kok anak kecil mau dibungkus dan diiklankan? Mau dijual juga apa? Terus apa upah yang aku dapat? Seolah tahu aku bingung si Ibu melanjutkan lagi, “Suami saya lama meninggal. Saya tak punya biaya. Saya ingin jual anak saya, tolong dibungkus diberi merk dan diiklankan, agar ia laku, orang tertarik dan berebut membiayainya. Mas Jay, jangan khawatir masalah upah. Setiap pembeli juga dapat upah yang sudah pasti tak ternilai dengan uang!!!”

Nah pembaca, siapa yang mau beli?

BeA, Troy, July 16, 98
(Inspirasi: wawancara Neno Warisman di Sahid Terbaru 02 Th XI)

Posted in Cemeti | 1 Comment »

Lik Sumirah

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Ini adalah kisah nyata…

Beberapa waktu lalu saya mendapat khabar, orang tua saya yang pensiunan “dosen” SD, berada di desa di Lampung, harus “deal” dengan beras yang sekilonya…sekitar 3000 rupiah. Minyak sangat langka (Gimana nih Pak Harmoko…janji bapak ternyata janji gombal).

Saya lalu membayangkan Lik Sumirah, tetangga depan rumah saya yang menjadi tukang masak dan cuci di Puskesmas di kota kecamatan dengan gaji 20 ribu per bulan. Sementara sang suami harus menjadi kuli angkut truk karena sawah kering..ditengah bulan puasa seperti ini. Angkutan pun belum tentu tiap hari ada…sehingga hari-hari sisanya hanya diisi dengan duduk di bis (jembatan parit depan rumah) sambil mengharap truk datang menjemput untuk mengangkut muatan. Dia tidak sendirian. Truk satu harus rame-rame dibagi banyak orang….

Lalu mata saya seolah melihat Mbah Mingan lelaki tua yang sudah duda, duduk sambil tangannya memainkan bilah-bilah tipis bambu untuk dianyam menjadi gedeg (bilik dari anyaman bambu) dengan ditemani secangkir kopi dan rokok “tengwe” (nglinting dhewe = rokok yang diramu sendiri). Apakah beliau sekarang juga sedang menganyam? Kalau ia, siapa penduduk desa yang masih mau membuat rumah sementara paceklik dan harga beras, bawang, minyak goreng dan tepung terigu bahan kue lebaran membumbung tinggi? Kalaupun toh ada yang menyewa jasa Mbah Mingan, cukupkah uangnya untuk sekedar mengisi kantong baju lusuhnya dan mengganjal perutnya?

Ada lagi, Pak Subo, pembuat genting yang kurus kering; Kang Untung si penderes (membuat gula merah dari nira kelapa), Mbah Wir tukang cukur rambut dengan tarif 300 perak sekali cukur…banyak lagi..saya tak sanggup lagi menyebut mereka, pekerjaannya dan kesulitan-kesulitan mereka. Mereka tak tahu apa sih itu dollar, kecuali mendengar dari radio dan TV tanpa mengerti, tak mengerti IMF tak mengerti siapa itu Mar’ie, Tommy apalagi Fischer. Yang mereka rasakan adalah lapar, miskin, pasrah.

Apakah mereka harus kembali makan kelapa sebagai pengganti makan siang? (seperti perah dulu saya rasakan di saat paceklik) dan menebang pohonnya untuk mendapatkan pondo (daun dan batang kelapa yang masih sangat muda dan manis) untuk sayuran seperti dulu? Atau mungkin tiwul seperti yang ditawarkan Haromoko sebagai”diversifikasi”.

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada segelas coca-cola dihadapan saya. Saya juga memandang sisa paha ayam sewaktu buka puasa tadi, dan sekilas uang 5 dolaran menyembul dari dompet di meja saya. Radio, CD, buku dan banyak lagi…. Oh ya lima dollar tadi ternyata setara dengan gaji Lik Sumirah dua bulan. Sementara satu plastik Doritos seharga 3.29 dollar yang dibeli tiga hari yang lalu tinggal, remahan-remahan tak termakan…

Duh Gusti…dosakah saya ini? Dosakah saya pada Ibu, Bapak, Lik Sumirah dan Mbah Mingan? Mereka tak bisa bicara, tiap hari hanya mendengarkan pidato Bapak Pemerintah: stabil, aman, terkendali, bersatu dan lain-lain. Mereka bingung mencari makan sementar di meja ini banyak yang terbuang?

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Soal PMP

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Di bawah ini adalah contoh soal-soal EBTANAS SMU tahun 1999, silakan yang sudah lulus penataran P4 pola 145 jam untuk mentes dirinya apakah masih
sesuai dengan semangat Pancasila:

Tulis jawaban di lembar yang tesedia.

I. PIlihan Ganda: Pilihlah jawaban yang paling tepat.

1. Manakah diantara peryataan di bawah ini yang menujukkan nilai pengamalan sila ke-3 (Persatuan Indonesia)?
a. Kebersamaan para preman dalam pembantaian pada dukun santet di Banyuwangi
b. Pernyataan Megawati bahwa Timor-Timor adalah bagian integral wilayah Indonesia yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan
c. Reaksi kompak beberapa abdi negara terhadap tuduhan Jefrey Winters tentang korupsi
d. Keinginan Yorrys untuk bergabung dengan PAN
e. Tidak diungkapnya pelaku korupsi, untuk membuat rakyat adem ayem.

2. Kerusuhan yang marak diberbagai tempat akhir-akhir ini adalah:
a. Bentuk penyelewangan terhadap sila pertama Pancasila
b. Wujud Kepedulian para patriot bangsa atas di hilangkannya Pancasila sebagai satu-satunya azas
c. Sudah sewajarnya
d. Penciptaan lapangan kerja penganggur sehingga bisa memanfaatkan bahan-bahan sisa kebakaran
e. Perwujudan semangat lagu “Halo-Halo Bandung”

3. Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai universal sejak jaman prasejarah Indonesia yang disusun kembali tahun 1945.
a. Setuju sekali
b. Pilihan A benar
c. Pilihan B benar
d. Pilihan A dan C benar
e. Benar semua

4. Keramah-tamahan dan kemurahan hati penduduk Indonesia dapat dilihat dari hal-hal di bawah ini: KECUALI:
a. Selalu diadakannya ramah tamah bagi tamu asing dan diadakannya berbagai pasar murah.
b. Sambutan yang hangat dari pejabat daerah ketika ada tinjauan pemabnguan dari pemerintah pusat
c. Di perpanjangnya kontak tambang antara pemerintah dan PT Freepot McMoran
d. Di naikkannya harga beras lokal, sehingga memberi kesempatan beras impor masuk di Indonesia
e. Goyang dangdut

5. Kalau saya jadi presiden maka yang akan saya lakukan pertama kali masuk istana negara adalah:
a. Segera mengepel lantai dan membersihkan dinding-dinding dari segala kotoran dan debu
b. Menghapus 32 turus di dinding kamar mandi dan mulai menuliskan 1 turus sebagai tanda jabatan di tahun pertama
c. Cari tukang pijet
d. Menunjuk 70 menteri baru dan segera mengirim mereka hadiah berupa ayam betina
e. Tidak mungkin, karena saya belum lulus SMA

II. Pertanyaan dan essay
1. Sebutkan sebanyak mungkin partau-partai pendukung Pancasila. (Jawaban singkat saja, jaman sekarang tidak dibutuhkan alasan)
2. Siapakah tokoh Super Semar? Dimanakah sekarang semar tersebut?
3. Buktikan bahwa Anda bukan provokator

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Satu di Antara Seribu

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Lagi-lagi aku di perpustakaan kampus. Aku tulis ketika mulai bintang-bintang berkeliling dan burung-burung mulai mengepakkan sayapnya memutari kepalaku; setelah sekian lama mempelajari rumus-rumus dan aplikasi ramalan garis lurus (linear regresi).

Tadinya asyik membaca simbol-simbol myu, xbar dan lambang lainnya yang tak bisa kutuiliskan disini. Ketika memasuki lembar-lembar ke sepuluh tiba angka-angka itu bangkit dari kuburnya, beterbangan angka satu menjadi emprit, tujuh jadi garuda, angka pecahan menjadi burung unta… dan tanda-tanda baca menjadi bintang-gemintang. Berdenyut-denyut kepala ini jadinya.

Layar depan adalah beberapa meja berdinding khas perpustakaan, tempat orang membaca buku atau sekedar tidur. Sementara layar belakang, dua buah rak besar jajaran buku-buku tebal, menyisakan lorong-lorong panjang. Demikian pula di kiri-kanan dan belakang. Semuanya berisi buku sekelas Einstein hingga kelas Petruk-Gareng dan Wiro Sableng.. Buku, jurnal dan majalah warna-warni yang kutu buku pun enggan (pahit katanya makan tinta berwarna).. Yang tipis bak surat cinta ada; tebal bagai kerak nasi banyak. Lantai bawah hingga langit-langit. Sampulnya berupa-rupa gambar dan beraneka warni bagaikan gaun pramusaji restoran Meksiko.

Sungguh aku sangat tertarik dengan buku-buku itu. Ketika tampak sebuah judul : the Rise of Radicalism, rasanya ingin kupuasi pertanyyaan bagaimana bisa muncul Komunis, Ku Klux Clan, atau Haur Koneng. Ketika nampak photo unta di tengah tundra, di majalah National Geograpic, rasanya ingin mengikuti jejaknya menyusuri jakan sutra yang membebat Badgad hingga Peking, menenteng kamera dan bara api penghangat badan seperti yang dilakukan orang-orang Mongolia.
Jurnal-jurnal magemement bagaikan mesin uang dan cetakan-cetakan baja yang melambai-lambai dan menjadikannku sebagai aktor terkenal (lho apa hubungannya). lalu buku-buku yang lain sungguhlah menarik perhatian. Ah akan kubaca mereka semua, pikirku.

Ah tapi sayangnya buku regressi ini sungguh tak bersahabat. Sulit dibaca, apalagi dimengerti, mana tidak ada gambarnya lagi. (buku kok isinya angka mulu, makanya anak-anak yang tak suka matematik). Hhhhhhhhh. Baru 10 lembar kubaca. Sisanya jauh lebih banyak. Sementara waktuku terbatas. Besok pagi ada ujian, nanti malemnya ada jadwal nonton jagoan kungfu Blackie Chan dan sorenya main softball.

Wah mana ada waktu untuk menyusuri Sungai Yang Tse atau mengintip ke-bahenol-an penguin di pulau Galapagos (hayooo tebakan ada nggak penguin di sana?). Mana bisa aku pula aku mengenal radikalisme, atau jurus-jurusn menyelamatkan harta perusahaan. Alangkah banyaknya buku. Alangkah banyaknya yang belum aku tahu dan alangkah sedikitnya waktu yang aku punya.

“Itilah hidup!” gumanku ketika kesadarnaku kumat. Ilmu yang maha luas, buku yang berjuta-juta, negeri yang luas (tidakbenar hanya selebar daun kelor…), namun waktu yang terbatas. Banyaknya jalan hidup, tukang becak, manager promosi, dosen sampi tukang teluh… hanya satu yang mungkin bisa di jalani dengan baik. Ada 1000 jalan terbentang hanya satu yang bisa kulalui. Kini umurku semakin tua, titel maha pun telah terlewati di perguruan tinggi, artinya aku sudah masuk “point of no return”. Andai saja aku bisa memlih jalan hidup, tentu aku ingin seperti pak kiyai yang mumpuni ilmu dan jadi panutan. Setaah puas aku ingin ulangi hidup, kemudian menjadi lakon si Doel yang selalu didekati Zaenab gadis Sunsilk. Ulangi lagi menjadi juragan kaya mempunyai garasi besar berisi tunggangan, mulai kijang jantan, panther sampi kutu dan kodok. Jadi jagon lembah hantu, lalu kutendangi itu para pemabok, bajing loncat dan provokator (kalau ada).

Malang nian aku ini. Aku hanya seekor ikan salmon yang menerjang arus ke hulu sungai, sekedar menghantar nyawa. Seekor semut yang menyusuri sebuah ranting kering hinga ujungnya lalu terjatuh, mati. Aku hanyalah seorang tukang patri yang hanya berteriak keliling kampung menbal kaleng bocor, hingga mati. Aku hanya bisa jadi sales yang bepergian hingga rambut ubanan oleh pengapnya asap kendaran. Aku hanyalah seorang dosen, yang berlari dari kelas ke kelas. Aku hanyalah petani. Pelacur. Sopir. Maling. Photographer. Menteri. Mantri. Pak Pos. Beribu-ribu jenis kehidupan, aku hanya diberi satu diantaranya.

Aku dengar Tuhan itu Maha Adil. Lalu mengapa hidup orang beda-beda? Kaya-Miskin, Bodoh-Pintar. Kalau Tuhan memang adil tentlah ada sesuatu yang semua orang memeprolehnya tanpa membeda-bedakan. Apakah itu? Apakah itu yang dimaksud dengan kematian? Semuanya berakhir pada sebuah ujung natara gelap dan ternag. Tidak ada bekas semua jenis kehidupan itu, hanyalah jejak-jejak langkah kita menuju ujung yang akan menunjukkan siapa sebenarnya kita. Begitukah?

Troy, 24 April 1999
Pungkas B. Ali

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Sajadah Merah

Posted by pungkasali on April 14, 2008

di lembaran sedua bahu dan memanjang
hamba terpekur
diam

sentuhan dahi di ujung sana
memenuhi panggilanmu
memohon niat hamba

untaian tasbih putih, teronggok melingkar-lingkar
sentuhan bijinya adalah saluran kerinduan bertemu denganMu ya Allah
ia tersampar di telapak tangan
dingin, rindu serta resah

Al Qur’an de kedua telapak tangan baru saja hamba baca
walau tak mengerti arti kata-katanya, amat mendalam maknanya

ya Robbi Yang Menciptakan Cinta
rindu ini tak tersalurkan semua
andai pagi, siang, sore, malam hamba
habis oleh sentuhan dahi, kaki dan telapak tangan
pada sajadah merah berukir bunga, mesjid dan menara
tiada cukup rasanya

Biarlah hamba memohon kepadaMu
karena hanya Engkau
hamba yakin akan karunia
Berilah jalan kemudian mudahkan

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Kepada Bapak Haji Harmoko

Posted by pungkasali on April 14, 2008

(tanggapan atas acara safari Ramadhan Pak Harmoko Desember 97)

Ah, Bapak jangan pedulikan omongan orang Pak. Teruskanlah safari Bapak untuk menenangkan masyarakat.

Namun berhubung, negara sekarang banyak tergatung pada Bapak, akan lebih baik kalau safari Bapak di persingkat. Nah kebetulan saya tahu ada daerah yang sangat bagus untuk tujuan safari.

Di sana masyarakatnya nggak banyak menuntut dan sangat patuh. Lagipula Bapak nggak perlu memberikan jaket atau arloji Bapak. Kelihatannya sih 100% pendukung Bapak tuh. Bapak juga nggak perlu mengubah kebiasaan Bapak untuk ngomong yang melenceng dari fakta. Dijamin aman dan sehari beres, sehingga bapak masih punya kesempatan untuk kembali duduk di kursi empuk bapak di Senayan.

Arahnya, dari tol Senayan masuk ke tol Jagorawi tujuan Ciawi. Lalu ikuti arah ke Bandung via Puncak. Lihatlah sebelah kanan, begitu ada plang berbunyi :”Selamat datang di Taman Safari Cisarua” masuklah kesana. Disanalah tempat yang saya maksud dan merekea sudah menunggu Bapak.

Saya berpesan 2 hal kepada Bapak, Pertama : jangan berkata “menurut petunjuk bapak Presiden”, walaupun mereka nggak akan protes, karena Bapak harus menjaga gengsi. Bapak bukanlah bawahan Presidaen lagi sekarang. Lagipulan, ketahuilah Pak, yang menjadi presiden di sana adalah Macan, untuk ngomong semacam itu, Bapak harus bener-bener minta ijin dulu dengan si Raja Hutan tersebut. Kalau lalai, siap-siap saja di grauk. Kedua : jangan kaget kalau sepanjang perjalanan ketemu penduduk yang rambutnya mulai ber-uban. Maklum Pak, mereka nggak mampu beli minyak goreng. Bapak khan tahu minyak goreng berkhasiat sebagai minyak rambut yang menjaga rambut tetap hitam walaupun sudah uzur. Terpaksa sekarang mereka nggak pakai itu. Tapi saya tidak khawatir akan rambut Bapak, rambut Bapak masih tetap hitam klimis, karena toh Bapak masih sanggup beli minyak goreng.

Begitu dulu Pak, selamat bersafari. Maaf kalau khilaf.

Desember 97

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Ngengat

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Siapapun tahu ngengat itu semacam lalat yang jika mengigit terasa sakit dan gatal pada hewan-hewan piaraan kita. Sapi kesayangan kitapun selalu akan mengibaskan rambut-rambut ekornya buat mengusir ngengat.

“Uh…”, begitulah mungkin sekor sapi akan berpikir, “alangkah menjengkelkannya makhluk kecil satu ini, aku tak lagi nyaman memamah rumput-rumput hijau yang barusan aku santap. Dia membuatku lari kesakitan dan mengibaskan ujung buntutku yang hitam mengkilat ini”.

Kurang ajar memang binatang kecil ini, lihatlah lalat yang menempel, burung yang bertengger di punuk dan kupu-kupu beterbangan oleh takut akan sabetan ujung ekorku. Tapi ngengat yang satu ini tak bergeming. Justru ia menarik perhatian kawan-kawanya yang selama ini cuma berani terbang berputar-putar mencari kesempatan, lalu ikut-ikutan menggigitku.”

Pak Samin berpikiran lain dengan sang sapi kesayangannya itu, pikirnya: “Biarlah ngengat ini menempel pada tubuh sapiku. Biarlah dia kesakitan, supaya kencang larinya. Coba kalau tidak ada ngengat ini, sapiku akan jalan berlenggang, tak tahu dia akan pentingnya muatan dalam gerobak ini. Ini gerobak kehidupan yang mengantar hara makanan buat penduduk desa ini. Ku lihat tadi, satu gigitan ngengat, membuatnya larinya cepat maju kedepan. Biarlah ngengat ini ada ditubuhnya.”

Akan halnya ngengat dia tidak peduli akan tanggapan pak Samin dan sapinya, dia hanya berguman, “akau hidup ditahdirkan hanya untuk mengigit sapi, lain tidak” Itulah yang dilakukannya tak peduli sabetan ekor atau dukungan Pak Samin.

Lantas di suntikkannya jarum diujung mulutnya, seketika “muuhhh…..”, sapi melenguh lebih kencang larinya.

Ref:
- ngengat = istilah untuk tokoh-tokoh sekaliber Amien Rais
- sapi = istilah untuk penghela gerobak di Desa Nusantara
- Pak Samin = nama-nama penduduk Desa Nusantara yang bergantung pada sapi dan gerobak

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Bang-Bing-Bung

Posted by pungkasali on April 14, 2008

“Bang-Bing Bung Yuk, Kita Nabung…!”

Ingat Titiek Puspa? Lagu Titiek Puspa di atas mengajari kepada kita bagaimana untuk rajin menabung, walaupun sedikit-sedkit karena lama-lama akan menjadi bukit. ‘Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya’ kata sebuah ungkapan. Sebuah ajaran yang mulia dan tidak ada salahnya di manapun dan kapanpun kita berada bukan?

Eeeeppp… betul! Tapi ijinkan saya menyampaikan versi Lou tentang lagu ini.

Lou adalah seorang pemuda Amerika. Dia ini tidak layaknya sebagian besar anak muda Amerika, yang berlalulalang dengan mobil Pontiac tua yang meraung-raung dan pakai topi baseball Yankee terbalik. Dia tidak pula masuk ke salah satu golongan muda kaya mendadak gara-gara bisnis dot com nya diklik 800.000 pengunjung sehari. Bukan pula mahasiwa ber ‘punk-rock’ yang suka minum-minum di malem minggu.

Saya tahu Lou suatu hari beberapa bulan yang lalu di seberang jendela apartemen sewaan baru saya. Suatu pagi saya sedang menikmati matahari musim panas di depan jendela dan komputer. Ketika itu seorang pemuda – yang kemudian saya kenal sebagai Lou – dengan sebuah kantong plastik kresek dan tiga buah kaleng soda di dalamnya, mendatangi ‘dumpster’ (tempat sampah) di seberang sana. Lalu ia membuka-buka lima kotak sampah khusus untuk kaleng dan gelas yang berjejer di sana. Dari dalamnya diangkat beberapa kaleng soda bekas dan dimasukkannya ke dalam kantong plastiknya. Tahulah saya, kalau dia pemulung.

“How is it?” tanya saya suatu ketika.

“If you’re generous enough,” katanya, ” throwing that small thing,” sambil membenahi kaleng dalam kantong plastiknya, “that’s my luck of the day.”

‘ Small thing’ kata Lou! Saya tahu di sini kaleng soda di hargai 5 sen per bijinya. Berarti 20 kaleng satu dollar. Cukup lumayan untuk menambah bekal Lou membeli Bagel atau Hot Dog. Kalau hanya small thing, lalu mengapa Lou begitu rajin tiap pagi berkeliling dari satu dumpster ke dumpster lain?

Sejak itu, tiap pagi selalu saya lihat Lou datang ke ‘dumpster’. Kadang tak didapati sama sekali itu kaleng soda. Mungkin karena hari itu para penghuni apartemen mengumpulkan kaleng mereka dan menukarkannya sendiri ke supermarket dan tak mau membaginya dengan si Lou. Namun-kadang-kadang ia dapat berpuluh-puluh kaleng yang telah tertata rapi. Mungkin penghuni apartemen yang lain tahu kalau si Lou pasti datang dan mencari-cari kaleng itu. Baginya, cukup sudah menikmati isinya dan memberikan wadah kosongnya kepada Lou. Mungkin dia masih punya waktu untuk si Lou dengan menata rapi kaleng yang akan dibuangnya.

Bang-bing-bung yuk, kita nabung..! Coba kumpulkan kaleng-kaleng itu, uangnya kita tabung. Bukankah itu ajaran Titiek Puspa? Ini akan melatih kita menjadi irit dan selalu memanfaatkan barang yang terbuang. Tapi bagaimana si Lou? Kalau kita ambil, mungkin Lou akan membuka kotak-kotak sampah namun tidak mendapatkan apa-apa selain sisa makanan dan sampah-sampah dapur. Yah mungkin hanya kehangatan uap sampah yang terasa di tanganya ketika pagi-pagi di musim salju dia masih dengan setia menggapai-gapai ke dalam dumpster.

Bang-bing-bung!

Hey bung… pikir saya, kita masih bisa menabung. Kita mungkin akan kehilangan beberapa sen dari sekaleng soda. Tapi ah… masih kurangkah kita menikmati isinya yang dingin menyegarkan, sehingga kita ingin menikmati kembali kalengnya yang tentu akan terasa jauh lebih nikmat bagi Lou? ‘Small thing’, kata Lou, tentunya dimaksudkan kepada kita. Tapi bagi Lou, ini ‘big thing’. Itulah sebabnya dia tiap pagi mendatangi tampat sampah di depan jendela. Sama dengan kita yang setiap pagi datang ke kampus, ke kantor atau ke pasar. Itu karena kampus, kantor dan pasar sangat berarti buat kita. Demikian pula kaleng-kaleng itu sangat berarti buat Lou.

Bang-bing bung kali ini tak hanya dinyanyikan Titik Pupsa, tapi dari hati kecil kita. Berikan saja pada Lou, kamu akan menabung dengan kebaikan. Uang hilang dalam sekejap, amal dan kebaikan akan kekal selamanya. Bukankah ini juga menabung?

Bang-bing-bung Titiek, melatih kita menabung untuk dunia, Bang-Bing-Bung Lou melatih kita menabung ke akherat yang lebih kekal dan bunganya jauh berlipat-lipat. Melatih hati kita menyanyi agar kita terbiasa menabung untuk akherat. Kalau kita mengorbankan kambing, semuanya habis, yang tersisa hanya talinya. Padahal tidak! Semuanya kekal kecuali talinya. Begitu ajaran kanjeng Nabi.

Nah, biarlah kali ini Lou yang mengajari kita menyanyi, “Bang-Bing Bung Yuk, Kita Nabung…!” Dan ingat, tak perlu dihitung, karena suatu saat pasti kita dapat untung!

June 1, 2000
- – pungkas bahjuri ali – -

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Maling Kondang dan Susu Kaleng

Posted by pungkasali on April 14, 2008

(cerita terinspirasi dari sebuah tulisan lama yang tak sempat tercatat publikasi-nya. Jika pembaca menemukan tulisan sejenis, maka tulisan ini berusaha menghidupkan kembali cerita tersebut dan menyajikan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya)

Cerita Malin Kundang dapatkan ketika SD, namun sampai sekarang cerita ini begitu rekat menempel di otak kita. Sudah banyak cerita-cerita lain, seperti Fugitive, Ramadhan dan Ramona sampai cerita pura-pura menyeramkan ala Si Manis Jembatan Ancol, namun nama Malin Kundang tetap terpatri dalam jiwa raga (duh…kaya’ Paskibraka aja). Cerita ini begitu dikenal semua orang yang pernah makan bangku sekolahan, miskin, kaya tua muda, bahkan kaken-nenen (yang pernah sekolah lho). Ketenarannya seperti empek-empek Palembang, sekali makan… sengirnya tak pernah hilang.

Yang sering menjadi tanda tanya justru adalah, mengapa cerita ini tak diangkat ke layar perak (Istilah baru untuk layar tancap)? Seperti kisah Badman dan Robin, Frankenstein, Suparman dll. Toh sama-sama berasal dari cerita rakyat yang populer. Mungkin sih masih ada cerita ini di TVRI diacara Bhineka Tunggal Eka atau taman ria anak-anak nusantara sore jam 5.

Apakah lantaran malin kundang nggak bisa terbang? Tak sekuat Hercules, si anak hasil selingkuh dewa Zeus. Atau si makhluk Hijau: Hulk yang konon mampu mengangkat kereta dengan satu tangan? Rasanya Malin Kundang juga tak kalah hebat. Lihat, dia bisa menghentikan angin ribut di tengah lautan hanya dengan menyilangkan jari di mulutnya sambil berbisik: ssssttt!!! Pandai silat walaupun masih pake sarung. Mana ada jagoan yang berani bertanding pake sarung (perkecualian Tyson yang hanya berani pake sarung ditangannya, yang itupun harus pake nggigit segala).

Apakah ceritanya kuno? Mungkin juga tidak. kalau mau toh cerita bisa dibumbui, misalnya kapal layarnya berhulu ledak nuklear, satelit mata-mata pukat harimau dll-dll. Atau ketika di tengah laut-tiba-tiba menemukan duyung cantik jelita (padahal duyung kan bersisik dan lagian berkumis). Itu kan tergantung kreativitas sutradaranya saja. Lha lihat, di Jepang saja kura-kura bisa jadi ninja kok. yang ternyata juga dijiplak oleh para preman banyuwangi dan mengganti nama menjadi pura-pura ninja. Modernitas adalah relatif, jadi yang terkesan kuno-pun tak masalah untuk dikomersialkan. Misalnya budaya rambut gondrong jaman Mojopahit sekarang toh modenya para gitaris. Sekarang…ngetop banget.

Kita sebenarnya perlu optimis kalau sutradara kretaif, film ini bisa laris dan mungkin bisa mendunia. Misalnya yang jadi malin si Arnold Scwanjegeger terus yang jadi ibu-nya Wophi Golberg. Tak kalah keajaibannya dengan X-files, secara misteri kapal berubah jadi batu. Mana ada negara lain?

Tapi pertanyaan tetap pertanyaan. Beberapa alternatif bisa saja muncul. Bagiku yang paling masuk akal adalah ketakutan para ibu-ibu dan para pengusaha susu sapi kaleng (atau susu kaleng sapi ya..?) akan cerita itu. Lho….. apa hubungannya. Ini dia ceritanya

Dunia sungguh telah berubah. Dulu yang disebut ibu adalah mereka yang melahirkan,menyusui, menyayangi, memelihara, tempat bergantung di kala susah. Kotor dibersihkan, sakit disehatkan, nangis didiamkan dan jatuh disingkirkan. Artinya apa: kasih ibu sepanjang jalan (catatan: bebas demo). Tak heranlah dengan ibu si Malin Kundang yang begitu sedih, mengenang anaknya yang dulu ditimang-timang kini berani durhaka, tak mau mengakui ibu yang dulu menghidupinya. Karenanya kutukannya sungguh amat mujarab. Sekali sabet….glarrrr!!!.

Nah apa kutukan para ibu sekarang juga masih semanjur ibu Malin tersebut? Pikir-pikir dulu. Kini banyak ibu-ibu yang menitipkan janinnya di perut orang lain, lantaran tak mau perutnya kendor dan mengurangi keremajaa. Banyak ibu-ibu yang malu melahirkan anaknya karena tak tahu siapa ayahnya. Begitu lahir, dibuanglah ke toilet, tempat sampah dan selokan. Coba tebak terhadap ibu-ibu seperti ini apa kata-kata kutukannya? “Tahukah kamu siapa dulu yang mengenalkanmu pada pada toilet? atau Siapa dulu yang mengajari kamu berenang selokan?” Namun itu adalah contoh eka (ekstrim kanan) dan eki (ektrim kiri).

Tak terbayangkan, apa kata-kata kutukan yang bisa dikeluarkan oleh golongan berikut ini. Dalam golongan ini, banyak ibu-ibu yang nggak mau menyusui anaknya karena merasa “sakit”, karena menjaga vitalitas, karena ingin kelihatan kencang dan singset, tak mau keindahannya hilang disedot anaknya? Capek, disibuk tinggal kerja? Ibu-ibu ini tak mau tak sempat menyusui anaknya. Tapi untung masih banyak sapi, yang bermurah hati memberikan susunya untuk para bayi. Nah sudahlah di beri susu sapi saja, walaupun dia anak manusia.

Kini ibu-ibu merasa bangga kalau anaknya minum susu dari sapi. Nama dagangnya pun keren. Diperas dari sapi pilihan dengan makanan rumput pilihan. Semakin mahal harga susu kaleng, semakin tinggi kualitas susunya. Susu simbol modernitas dan tingkat sosial. ASI hanya diberikan oleh mereka yang tak mampu beli susu kaleng atau mereka yang tak punya sapi. Dengan Dancow, anak bisa menjadi cowboy, main bola jagoan, lari menjadi kencang, panjang tangan (bisa megang kuping kiri dengan tangan kanan).

Nah apa jadinya, kalau suatu saat misalnya, anak susu sapi ini, menjadi si Malin Kundang di jaman cyber ini? Katakanlah namanya Maling Koondang bergelar the Dan of Cows Jika ia durhaka, si ibu mungkin bilang: “Oh anakku, kamu telah merendahkan ibumu….betapa dulu aku menyusuimu di waktu kecil… Ya Tuhan.. kutuklah anaku menjadi aspal jalanan, biar hitam dan digilas ban”… Blaaar. Asap berkepul… ehh ajaib Maling Kondang tetap hidup. Si ibu heran, lebih lebih ketika ia merasa ada perubahan di dadanya. Ketika dilihat …. eehhh dua buah kaleng susu menyembul….Si ibu lupa, kalau dulu anaknya minum dari susu kaleng. Sedang si Maling walaupun masih bisa cengar-cengir, sempet kaget juga mendengar suara ‘blarrr’, ia ketakutan dan berteriak-teriak minta ampun. Namun yang keluar dari muluitnya hanya suara melenguh…muuuh…muuhh.

Inilah yang ditakutakan, hingga cerita malin kondang tak bisa naik ke layar perak, karena itu berarti mimpi buruk bagi ibu-ibu golongan terakhir dan terutama para juragan susu kaleng. (Mungkin….)

………….
pesan: dari segi gizi, ASI adalah yang terbaik, dari nilai moral ini adalah ajaran agama

Troy, 20 Desember 98
Pungkas BA

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

Berlebaraan di negeri Orang

Posted by pungkasali on April 14, 2008

Ibadah puasa Ramdhan dan berlebaran hari raya Idhul Fitri bersama keluarga adalah hal yang biasa bagi kita. Nah, bagaimanakah mahasiswa-mahasiswa yang berada di negeri orang? Berikut ini kisha para mahasiawa Indonesia yang sedang belajar di Troy, New York, Amerika Serikat.

Mesjid bekas rumah mayat

Awal mulanya adalah pengajian Malindo (Malaysia-Indonesia) yang dilakukan secara gabungan mahasiswa Indonesia dan Malaysia setiap Jum’at malam dengan tuan ruamh bergiliran. Ketika peserta semakin bertambah, apartemen atau asrama tak lagi mampu menampung jemaah. Akhirnya Agustus 1995, diputuskan untuk yang pria mengadakan acara ini secara terpisah antara mahasiswa Indonesia dan Malaysia. Sementara yang putri hingga sekarang masih bercampur. Mahasiwa putra Indonesia membentuk khusus dengan nama PengajianTAS (Troy-Albany-Schnectady) atau biasa disebut PATAS. Anggotanya berada di ketiga kota tersebut yang merupakan Capital District (semacam wilayah ibukota) negara bagian New York. Demikianlah, hingga sekarang PATAS masih rutin mengadakan pengajian seminggu sekali, bhakan hingga kini belum pernah terputus sekalipun.Materi yang diberikan bervariasi dari akidah, akhlak, maupun masalah-masalah fikih. Penceramah ialah yang menjadi tuan rumah pengajian, atau sering mengundang penceramah dari luar.

Selain pengajian intern, mereka juga aktif di berbagai kegiatan bersama Brother dan Sister (panggilan untuk sesama muslim yang umum dipakai seperti Mas dan Mbak di Jawa) dari negara lain.Diantaranya berdiksusi , kajian tasfir, piknik, dakwah, mengurusi mesjid dan mengikuti kegiatan sekolah Islam di Mesjid Troy. Mesjid kecil “Al Hedaya” ini asalnya adalah bekas rumah mayat yang dibeli dan direnovasi untuk menjadi mesjid. Karena terlalu kecil, sholat jum’at dilakukan di sebuah aula di kampus Rensselaer Polytechnic Institute.

Selain itu kegiatan yang bersifat amal juga sangat digalakkan, seperti pengedaran kaleng shodaqoh tiap minggu, pengumpulan zakat dan menyalurkannya ke tanah air seperti bantuan pada saat bencana Gunung Merapi, Gempa di Sumatra Barat dan Selatan, kelaparan di Irja. Selain itu sumbangan juga disalurkan pada jalur produktif misalnya membiayai pemeliharaan sapi dan kambing di Yogyakarta dan membina anak asuh serta pengangguran melalui ALIR di Bogor.

Puasa di tengah guyuran salju.

Berpuasa dan berlebaran di negeri orang selalu mendatangkan kenangan tersendiri yang seringkali unik dan mengharukan. Di Amerika, puasa tahun ini betepatan dengan musim dingin (winter), sehingga siang hari lebih pendek dari malamnya. Puasa rata-rata baru dimulai pukul 6 pagi dan sudah berbuka sekitar pukul 4.30 sore. Udaranya cukup dingin (sedikit di atas nol derajat dan seringkali minus) dan hujan sudah berupa salju. Walaupun begitu semangat untuk bertharawih selalu menantang. Di tengah guyuran salju, tharawih diadakan setiap malam secara bergilir yang kemudian diteruskan dengan membaca Alqur’an yang selalu diteruskan dengan berbagai diskusi yang selalu menarik, teruatama berkaitan dengan kondisi di tanah air.

Sebagaimana di Indonesia, komunitas muslim di sana juga selalu mengadakan buka puasa bersama setiap hari di mesjid, hari sabtu di kampus dan Minggu-ny di Pusat Islam di sana. Inilah forum untuk saling berkenalan dengan brother-brother dan sister-sister dari seluruh dunia. Sebagian besar komunitas muslim adalah mahasiswa dan sebagian penduduk setempat. Selain tukar pengalaman juga masing-masing bisa saling merasakan masakan-masakan khas negaranya masing-masing. Hal dimungkinkan karena memang giliran untuk menyediakan masakan selalu berganti (ta’jilan). Makanan khas yang paling digemari mahasiswa Indonesia biasanya adalah kue dari Turkiyang sangat manis seperti madu dan sup dari daerah Timur Tengah.

Idhul Fitri, kuliah jalan terus

Yang jelas, hari lebaran hampirtak beda dengan hari-hari biasa. Bagaimana tidak? Sekolah tidak libur, sehingga dihari lebaran inipun harus tetap sekolah, kuliah dan praktikum sebagiaman biasanya. Memang dibeberapa negara bagian yang komunitas muslimnya agak banyak sperti Texas, hari lebaran menjadi libur umum. Sementara di New York tidak semuanya demikian, hanya dibeberapa tempat seperti Syracuse.

Sholat Id tidak dilakukan dilapangan terbuka. Siapa yang tahan diudara terbuka yang dingin menusuk itu? Sholat dilakukan di sebuah gedung olahraga skating di Schnectady. Di sinilah muslim dari berbagai kota berkumpul dan melakukan sholat bersama. Muslim adalah komunitas yang masih kecil di sana, walaupun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tak heranlah, satu gedung masih mampu menampung seluruh jama’ah.

Selepas Id, diadakan acara silaturahmi dan halal bihalal dirumah salah seorang mahasiswa. Disinilah mereka berkumpul, melepas kerinduan dengan keluarga yang jauh ditanah air. Masakan yang disajikan juga adalah masakan ala Indonesia, sehingga bisa melepas kangen dengan cita rasa tempe, ketupat dan lain-lain. Selepas itu, mereka kembali berkemas untuk berangkat kuliah seperti hari hari biasa.

Posted in Cemeti | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.